PENGERTIAN KONTROL DIRI DI LUAR PARADIGMA BEHAVIORAL? -Penelitian dan teori operant tampaknya berasumsi bahwa manusia adalah penerima stimulasi lingkungan yang relatif pasif. Menilik ketergantungan yang tampak jelas pada dunia eksternal, bagaimana kita dapat menjelaskan perilaku yang tampak otonom, penuh tekad, dan sering kali bertentangan dengan apa yang dapat diharapkan dalam situasi tertentu? Contohnya, bagaimana, kita menj elaskan fakta bahwa seseorang yang sedang menjalani diet menahan diri untuk tidak memakan sepotong kue coklat yang lezat, meskipun dalam keadaan lapar?

Para teoris psikoanalisis, termasuk analis ego, men-cetuskan teori adanya semacam agen dalam diri seseorang. Banyak analis ego berpendapat bahwa ego dapat bekerja dengan kekuatannya sendiri, membuat keputusan dengan penuh pertimbangan bagi seluruh sistem psikik, termasuk keputusan yang bertentangan dengan keinginan id. Para behavioris, terutama Skinner, tidak setuju dengan penjelasan tersebut, dan menganggapnya sebagai pelabelan ulang terhadap fenomena tersebut. Mungkin pandangan behavioral tentang kontrol diri yang paling luas diterima adalah pandangan Skinner—yaitu bahwa orang dikatakan melakukan kontrol diri ketika ia mengatur lingkungannya sehingga hanya stimuli tertentu yang ada. Seseorang yang ingin mengurangi berat badan menyingkirkan setumpuk makanan yang menggemukkan dan menghindari restoran di saat lapar. Perilaku tetap merupakan fungsi lingkungan, namun lingkungan tersebut dikendalikan oleh individu.

Suatu konsepsi behavioral terkait mengenai kontrol diri tercermin dalam penjelasan Bandura mengenai kontrol aversif. Daripada secara pasif dikondisikan untuk merasa tidak nyaman pada stimuli yang dipasangkan dengan kejut listrik, seseorang justru mempelajari keterampilan stimulasi diri aversif, yang diterapkannya dengan tujuan tertentu dalam kehidupan nyata. Berdasarkan pandangan ini, seseorang bertahan dari godaan dengan secara sengaja mengingat pe-ngalaman aversif sebelumnya, yaitu mendapatkan kejut listrik atau merasa mual selama terapi. Individu dikatakan menciptakan s timuli simbolik yang mengendalikan perilaku. lni merupakan varian dari pandangan Skinner tentang kontrol diri.

Sebuah cara familiar untuk melakukan kontrol diri, juga dibahas dalam literatur terapi perilaku, yaitu menetapkan standar bagi diri sendiri dan menghindari penguatan diri sendiri kecuali jika standar tersebut terpenuhi. Taktik semacam itu sering kali digunakan oleh para penulis buku ini—saya tidak akan mengecek email saya sampai saya selesai menulis halaman ini. Ketika seseorang menetapkan tujuan, membuat kontrak dengan dirinya untuk mencapainya sebelum menikmati suatu kesenangan, dan kemudian mematuhi kontrak tersebut tanpa hambatan eksternal yang berarti, orangyang bersangkutan dikatakan telah melakukan kontrol diri.

Kontrol diri dapat diterapkan dalam teknik terapi apa pun. Satu-satunya syarat adalah orang tersebut harus mengimplementasikan prosedurnya sendiri setelah menerima instruksi dari terapis. Contohnya, pasien salah seorang dari kami yang menjalani desensitisasi memutuskan untuk membayangkan beberapa situasi hierarkis ketika melakukan relaksasi di rumah sambil berendam di air hangat. la merasa bahwa ia mengerti logika desensitisasi dengan cukup baik dan memiliki cukup kendali terhadap proses-proses imajinasinya agar memenuhi persyaratan prosedural teknik tersebut. Konsekuensinya adalah setelah mencapai apa yang dirasakannya sebagai kondisi relaksasi yang dalam seraya berendam di air hangat, ia memejamkan mata dan membayangkan situasi terkait serta mengakhirinya sesuai yang diaj arkan kepadanya. Ketika ia datang untuk sesi berikutnya, item yang telah didesensitisasi sendiri olehnya dapat dilewatkan dan ia dapat melanjutkan ke hierarki kecemasan dengan lebih cepat.

Untuk menggambarkan kriteria ini, ambil contoh seorang pej ogging laki-laki. Jika seorang sersan militer mengawasi dan mengawal pej ogging tersebut untuk berlari, kriteria pertama tidak terpenuhi; aktivitas lari tersebut bukan merupakan contoh kontrol diri, meskipun mungkin diperlukan usaha keras untuk mempertahankan aktivitas tersebut.

Jika pejogging merasa bahwa jogging merupakan aktivitas yang menyenangkan, sehingga ia akan memilih untuk berjogging daripada melakukan aktivitas lain, aktivitas tersebut juga tidak dapat dianggap sebagai contoh kontrol diri. Kontrol diri dapat dilihat pada tahap-tahap paling awal tatanan jogging, ketika seseorang melakukan berbagai upaya keras—ia menggeram ketika mernakai sepatu larinya, melihat ke jam tangannya- ketika baru berlari beberapa menit untuk mengetahui berapa lama penyiksaan tersebut telah berlangsung, dan menjatuhkan badannya dengan lega setelah berlari sejauh kurang lebih satu kilometer, gembira karena penderitaan tersebut telah berakhir. Namun, bila pejogging berlari karena ia lebih menyukai aktivitas tersebut daripada aktivitas lain, kriteria usaha keras tidak terpenuhi.

Kriteria ketiga adalah bertindak dengan pertim-bangan dan pilihan secara sadar yang membedakan pengendalian diri dengan tindakan yang dilakukan orang tanpa berpikir. Mungkin merupakan hal yang baik bahwa sebagian besar perilaku sehari-hari kita dilakukan tanpa berpikir, karena bayangkan betapa melelahkannya (dan membosankannya) jika terus-menerus memikirkan dan mengambil keputusan spesifik untuk melakukan hal-hal seperti mengikat tali sepatu. (Cobalah mengikat tali sepatu Anda dengan memberikan perhatian penuh pada aktivitas tersebut. Kemungkinan Anda justru akan mengalami kesulitan dalam melakukan hal yang telah sangat dikuasai itu). Namun, tindakan tersebut dikategorikan sebagai tindakan pengendalian diri jika, dalam suatu kondisi tertentu, kita harus memutuskan apakah akan melakukan tindakan tersebut. Makan akan memerlukan kontrol diri jika kita sedang menjalani diet ketat dan telah sepakat dengan pasangan kita, atau dokter, atau diri sendiri untuk mengurangi asupan kalori.

Menurut pendapat kami, konsep kontrol diri memberikan suatu tekanan pada paradigma behavioral, karena orang digambarkan melakukan tindakan secara mandiri, melakukan usaha keras, membuat pertimbangan dan memutuskan. Semua kata kerja tersebut menggambarkan orang yang bersangkutan sebagai inisiator suatu tindakan, di mana kontrol bermula. Para behavioris yang setia dapat menyanggah dengan mengutip pendapat Skinner bahwa pandangan yang menganggap individu sebagai inisiator hanya mengindikasikan pengabaian atas berbagai kekuatan eksternal yang pada akhirnya mengendalikan perilaku. Oleh karena itu, orang yang menolak untuk memakan makanan penutup sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengendalikan dirinya; namun penolakan tersebut dikendalikan oleh semacam hadiah tersembunyi yang tidak diketahui oleh pengamat, atau oleh suatu penguat tidak langsung, seperti kemungkinan memakai pakaian dengan ukuran yang lebih kecil. Kesalahan dalam penalaran ini adalah sifatnya yang murni post hoc (mengikuti fakta) dan tidak dapat dipertentangkan. Kita selalu dapat berpendapat bahwa pada beberapa waktu kemudian penguat yang mempertahankan perilaku tersebut akan muncul. Pen, jelasan semacam itu tidak akan memuaskan bagi para behavioris sama seperti mantra post hoc psikoanalis, yaitu mekanisme pertahanan yang tidak disadari untuk menjelaskan suatu tindakan.

Penting untuk dicatat bahwa transferensi—tanpa kandungan psikoseksual psiko-analisis—merupakan subjek penelitian yang dilakukan para psikolog kognitif eksperimental, yang menemukan nilai dalam meneliti bagaimana interaksi orangorang di masa sekarang dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan orang-orang signifikan dalam hidup mereka. Tidak ada yang misterius dalam fakta bahwa persepsi kita terhadap orang-orang di masa sekarang diwarnai oleh perasaan kita terhadap orang lain di masa lalu kita atau dalam berbagai aspek kehidupan kita di masa sekarang. Jika para terapis perilaku bersungguh-sungguh dengan filosofinya bahwa intervensi klinis mereka berasal dari penelitian dasar (nonklinis), maka semestinya mereka tidak seenggan sebelumnya untuk meneliti hubungan terapis-pasien.

Isi Kerangka Teoretis. Tantangan yang dihadapi oleh setiap terapis berubah dari suatu prinsip umum ke intervensi klinis konkret. Sebagai gambaran, pertimbangkan sebuah studi terdahulu di mana para mahasiswa prasarjana dilatih untuk menganalisis perilaku anak-anak yang mengalami gangguan parah dengan sudut pandang pengondisian operant. Para mahasiswa didorong untuk menggunakan perspektif operant dan mengasumsikan bahwa penentu penting perilaku anak-anak tersebut adalah konsekuensi perilaku itu sendiri. Dibekali permen M & M sebagai penguat, para mahasiswa terapis tersebut berusaha mengendalikan perilaku anak-anak yang mengalami gangguan parah tersebut. Akhirnya, seorang anak tampaknya kehilangan minat untuk memperoleh permen. Bekerja dalam kerangka yang memerlukan suatu penguat efektif, si terapis melihat ke sekeliling untuk mencari insentif lain. Ia mengamati bahwa setiap kali si anak berjalan melewati j endela, ia akan berhenti sesaat untuk mengamati bayangan dirinya. Maka si terapis mengambil sebuah cermin dan selanjutnya mampu menjadikan tindakan menatap cermin sebagai penguat perilaku yang dikehendaki; menatap cermin digunakan dengan fungsi yang sama seperti permen M & M. Dengan demikian, meskipun dituntun oleh satu prinsip umum, terapis harus bergantung pada improvisasi dan kreativitas sesuai tuntutan situasi klinis.

Filed under : Bikers Pintar,