PENGERTIAN KONTROVERSI SOSIOBIOLOGI – Salah satu strategi teoritis terbaru dalam sosiologi dikenal dengan sosiobiologi. Ketika strategi ini mulaimuncul pada pertengahan1970-an, ia menimbulkan satu dari sekian kontroversi baru yang lebih panas dalam ilmu sosial. Walaupun panasnya kontroversi tersebut, kini sudah reda, kontroversi tersebut tidak berlalu begitu saja dan masalah yang menjadi perhatiannya merupakan masalah yang krusial.

Para sosiolog berusaha mengetahui sejauh mana perilaku sosial manusia merupakan hasil dari karakteristik trait genetik dari semua species manusia. Dengan kata latn, mereka tertarik mengidentifikasi sifat-sifat dasar manusia. Mereka mendasarkan asumsi mereka atas model evolusi biologisnya Darwinian yang berlangsung melalui seleksi alam. Mereka percaya bahwa ketika manusia berkernbang dari nenek moyang primatanya mereka mewarisi trait-trait biologis tertentu dari nenek moyartgnya tersebut dan trait-trait itu tetap bertahan pada manusia modem. Trait ini dinyatakan berpengaruh langsung kepada banyak pola perilaku sosial. Sosiobiolog tidak menyatakan bahwa perilaku sosial manusia hanyalah produk dari pemrograman genetik kita; mereka mengakui bahwa kebanyakan aktivitas manusia berasal dari bentukbentuk kegiatan belajar tertentu dalam lingkungan sosial dan kultural tertentu. Meski demikian, mereka berpendapat bahwa perilaku manusia tidak seluruhnya merupakan hasil belajar, dan bahwa banyak aspeknya dimungkinkan dengan adanya pengendalian secara biologis.

Salah satu contoh yang sangat terkenal dari penalaran sosiobiologis terdapat dalam karya Lionel Tiger dan Robin Fox (1971). Tiger dan Fox menyatakan bahwa manusia dilengkapi dengan biogramar: serangkaian instruksi biologis dasar yang mempengaruhi mereka untuk bertindak dengan cara tertentu. Mereka tidak menganggap instruksi-instruksi ini sebagai instink-instink yang pasti dan tak dapat berubah. Tetapi mereka memandangnya sebagai kecenderungan behavioral umum yang dapat dimodifikasi atau bahkan dinetralisasi dengan pengalaman belajar tertentu. Mereka memandang beberapa hal berikut ini sebagai unsur-unsur paling essensial dalam biogramar manusia: (1) Kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat yang sangat hirarkhis di mana kompetisi untuk mendapatkan status adalah hal yang pa ling penting; (2) Kecenderungan para lelaki untuk menyatu dalam suatu koalisi politik di mana mereka mempertahankan dominansi politik dan pengendalian terhadap wanita; (3) Kecenderungan ibu dan anak untuk membentuk keterikatan timbal-balik; (4) Kecenderungan manusia (terutama pria ) melakukan agresi dan kekerasan; (5) Kecenderungan manusia untuk mempertahankan ruang teritorial dari gangguan orang luar.

Tiger dan Fox sampai pada kesimpulan ini dengan menarik beberapa analogi antara perilaku manusia dengan perilaku primata non-manusia kontemporer. Mereka mencatat bahwa primata non-manusia terorganisasi ke dalam masyarakat yang didasarkan atas hirarkhi status dengan dominansi pria atas wanita, dan mereka menyimpulkan dari kenyataan ini bahwa biogram dasar primata bertahan sepanjang sejarah evolusi manusia. Karena itu, kecenderungan manusia modern untuk membentuk sistem sosial yang hirarkhis, kompetitif dan didominasi oleh pria dilihat sebagai sesuatu yang melekat pada gen kita. Jenis penalaran bioevolusioner yang sama dipakai oleh Tiger dan Fox untuk sampai pada kesimpulanbahwa keterikatan ibu-anak dan kecenderungan kepada agresi dan pengawasan atas teritorial tertentu berakar pada sifat biologis kita.

Argumen Tiger dan Fox ini ilustratif bagi satu versi khas dalam teorisasi sosiobiologis. Sosiobiolog lain menggunakan teori kin selection sebagai prinsip yang mengarahkan pernikiran mereka (E.O. Wilson, 1975). Teori ini didasarkan atas asumsi yang baru-baru ini clibuat oleh banyakbiolog evolusioner yang menyatakan bahwa gen, bukan organis-me atau species, lah yang merupakan unit di mana seleksi alam dapat berlangsung (cf, Dawkins,1976). Para biolog evolusioner yang memper-tahankan asumsi inimenyatakanbahwa seleksi alam berlangsung untuk melindungi gen-gen tertentu dan memaksimalkan kehadirannya kembali pada generasi berikutnya.

Teori (mungkin lebih tepat disebut prinsip strategis) kin selection mempostulatkan bahwa banyak bentuk perilaku berasal dari upayaupaya individu untuk memaksimalkan kemampuan menyesuaikan diri inklusif (inclusive fitness) mereka. Inclusive fitness adalah penjumlahan dari kemampuan menyesuaikan diri pada individu dengan kemampuan menyesuaikan diri yang ada dalam gen semua keluarganya. Aplikasi penting teori kin selection adalah terhadap gejala altruisme yang umum terlihat di kalangan mereka yang berkeluarga dekat.

teori ini menyatakan bahwa ketika seorang orang tua berkorban untuk anaknya, maka hal itu akan membantu mereka untuk bertahan hidup dan bereproduksi, sehingga melahirkan lebih banyak copy gen-gen nya pada generasi berikut. Perilaku altruistik semacam itu, kemudian, berperan memaksimalkan fitness inclusive orang tua.

Teori kin selection sangat berhasil menerangkan banyak ciri-ciri perilaku makhluk hidup. Ia berhasil menerangkan, misalnya, karakteristik altruisme yang ekstrim pada serangga-serangga yang hidup bermasyarakat ( W.D.Hamilton, 1964); demilcian juga perilaku altruistik pada species lainnya (cf. Barash, 1977; van den Berghe, 1978). Sebagian ilmuwan sosial percaya bahwa teori ini dapat memberikan penjelasan yang memuaskan tentang beberapa ciri perilaku sosial manusia. Karena teori ini berhasil menjelaskan pentingnya ikatan kekeluargaan dalam banyak species binatang, maka dinyatakan bahwa ia membantu menjelaskan universalitas sistem keluarga manusia dan signifikansi yang sangat besar diberikan kepada keluarga dalam banyak masyarakat (van den Berghe, 1979). Juga dikemukakan bahwa teori ini merupakan cara yang memberi harapan dalam menerangkan banyak sekali pola perilaku peran jenis kelamin manusia (Daly, dan Wilson,1978).

Perlawanan keras terhadap teori kin selection dilakukan oleh Marshall Sahlins (1976b). Sambil menyatakan teori ini sebagai bagian terpenting dari semua aspek sosiobiologi, ia menyatakan bahwa jika ini dapat disangkal secara memuaskan, maka sosiobiologi akan runtuh. Ungkapan Sahlins ini ditujukan untuk menyempurnakan pembongkaran teori kin selection. Dia berusaha mencapai tujuan ini dengan memanfaatkan literatur antropologi tentang sistem keluarga manusia.

Teori kin selection memprediksikan bahwa ikatan kekeluargaan manusia didasarkan pada tingkat keterkaitan genetik. Oleh karena itu, semakin dekat ikatan kekeluargaan, semakinbesar signifikansi hubungan sosial yang dihasilkannya. Sahlins percaya bahwa catatan-catatan etnografik menunjukkan bahwa sistem kekeluargaan manusia secara aktual diorganisasi dengan berbagai cara yang sepenuhnya bertentangan dengan prediksi ini. Keluarga manusia, katanya, diorganisasi oleh kebudayaan — dengan definisi-definisi sosial yang digunakan untuk mengidentifikasi siapa yang termasuk atau bukan keluarga dekat — bukan oleh alam, yakni, tingkat keterkaitan genetik aktual. Dengan kata lain, kebudayaan dapat membuat keluarga yang jauh secara genetik menjadi keluarga dekat dan keluarga yang dekat secara genetik menjadi keluarga jauh. Secara umum, Sahlins menyimpulkan bahwa keluarga manusia tidak diorganisasi menurut keterkaitan genetik di antara para individu, sebagaimana diprediksikan sosiobiologi. Sebaliknya, ia meru-pakan kenyataan unik yang terbebas dari determinasi hubungan-hubungan alamiah.

Kritik Sahlins terhadap teori kin selection memberikan beberapa hal, tetapi nampaknya terlampau dilebih-lebihkan dan berlebilian dalam menolak sepenul-mya sosiobiologi. Bahkan, keberatan terhadap sosiobiologi atas dasar penolakan politisnya tidak dapat dibenarkan secara ilmiah atau etts dan tidak punya tempat dalam masyarakat demokratis; itu tidak layak bagi intelektual yang benar-benar paham apa arti kebebasan intelektual, atau untukmasalah itu, kebebasan ilmu pengetahuan.

Untunglah, aspek kontroversi sosiobiologi ini telah banyak berkurang. Tetapi masth diragukan. apakah pendel(atan teoritis memberikan banyak harapan sebagat sebuah strategi umum vang eocok untuk mengkaji kehidupan sosial manusia. Kebanyakan sosiobiolog segera mengakui bahwa perbedaan-perbedaan dasar di antara masyarakat manusia merupakan hasil dari faktor sosial dan kultural, dan dengan demikian mereka jarang berusaha menjelaskan perbedaan-perbedaan masyarakat secara biologis (E.O. Wilson, 1977). Kebanyakan upaya mereka dihabiskan untuk berusaha menjelaskan ciri-ciri yangbersifat universal dan serupa pada berbagai masyarakat.

Meski demikian, walaupun sosiobiologi mungkin tidak dapat diterima sebagai strategi teoritis yang luas, nampaknya ia memberikan kontribusi juga. Ia mungkin dapat menjelaskan ciri universal kehidupan sosial seperti penolakan terhadap incest atau dominansi politik pria atas wanita sebagai mempunyai sebab-sebab biologis. (Namun, perlu diingat bahwa tingkat dominansi pria atas wanita sangat bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya, sebuah fakta yang tidak begitu mendukung penjelasan biologis). Lebih dari itu, teori kin selection mungkin memberikan penjelasan yang memuaskan atas fakta bahwa semua masyarakat manusia menekankan hubungan keluarga. (Namun, sekali lagi, perbedaan-perbedaan penting di antara berbagai sistem keluarga tidak dapat dipahami secara biologis). Salah satu ciri penelitian sosiobiologi kontemporer yang lebih menarik adalah komitmennya yang kuat kepada pendekatan ilmiah dan komparatif. Sosiobiolog telah banyak menawarkan hipotesa-hipotesa yang rnenarik, sebagian di antaranya mungkin akan bermanfaat secara teoritis dalam waktu yang tidak lama lagi.

Sebagai catatan akhir, mungkin ada gunanya mempertanyakan status teori sosiobiologis pada awal tahun 1990-an, 15 tahun setelah pencap aian puncak pertamanya yang menciptakan badai kontroversi. Jawabnya tidak begitu jelas, tetapi terlihat bahwa di kalangan sosiobiolog, sosiobiologi sudah hampir tenggelam, setidaknya tidak mudah terlihat. Orang tidak lagi mendengar paper tentang sosiobiologi dipresentasikan pada konferensi-konferensi penting sosiologi, dan jurnal-jurnal teoritis dan penelitian yang terkenal jarang atau tidak memuat artikel yang menggunakan pendekatan ini. Orang tallu bahwa sosiobiologi masih bertahan hidup di kalangan sosiolog (cf. Lopreato, 1984), tetapi akan tampak bahwa ia bertahan hidup di bawah permukaan. Di kalangan para antropolog, dan terutama para biolog, sosiobiologibanyak diminati. Para biolog tetap menghasilkan karya-karya penting dalam bidangnya, yang ada hubungannya dengan masalah-masalah manusia (cf. R.D. Alexander,1987), begitu juga para antropolog (cf. Betzig, 1986).

Yang nampaknya terjadi adalah bahwa para sosiobiolog semakin menutup diri. Karena dicaci-maki oleh mayoritas ilmuwan sosial yang merasa terancam, baik secara politis maupun teoritis, oleh pendekatan ini, banyak sosiobiolog yang saling melindungi satu sama lain. Mereka menerbitkan jumal sendiri, dan berbagai saluran komunikasi ilmiah lainnya. Orang merasa bahwa para sosiobiolog ingin dibiarkan menekuni penelitian mereka bebas dari badai kontroversi yang pernah menimpanya. Barangkali mereka merasa yakin bahwa ada saatnya campur tangan orang luar yang sangat berprasangka akan berakhir ketika itulah mereka akan menghasilkan banyak bukti untuk mendukung pernyataan-pernyataan teoritis penting mereka. Sosiobiologi mungkin sedang tidur nyenyak sekarang, tetapi ia tidak hampir mati.

Filed under : Bikers Pintar,