PENGERTIAN KONTROVERSI SUBSTANTIVISME-FORMALISME – Selama bertahun-tahun sebuah perdebatan memanas di kalartgan ilmuwan sosial tentang cara terbaik untuk mengkaji sistem ekonomi prakapitalis. Walaupun perdebatan itu dapat dikatakan telah mereda baru beberapa tahun terakhir ini, ia tetap berlangsung dan isu-isu yang dimunculkannya adalah isu yang krusial. Perdebatan berkisar antara dua sudut pandang atau mazhab pemikiran yang umurn dikenal sebagai substantivisme dan formalisme.

Para penganut substantivisme menegaskanbahwa ada jurang pemisah kualitatif antara ststem ekonomi kapitalis dan pra-kapitalis, dan karena itu masing-masing harus dikaji dengan menggunakan berbagai konsep dan pendekatan yang berbeda. Teori ekonomi modern, menurut mereka, dikembangkan oleh para ekortom di masyarakat Barat kapitalis secara khusus untuk mengkaji perilaku ekonomi dalam masyarakat tersebut. Karena itu, tidak dapat diaplikasikan untuk mengkaji ekonomi masyarakat primitif dan petani. Teori ekonomi Barat modem menekankan bahwa orang berusaha melakukan “maksimalisasi” atau “ekonomi-sasi” dalam kondisi yang terbatas. Yakni, mereka mengkalkulasi secara rasional bagaimana mencapai tujuan ekonomi yang diinginkan, tujuan ini mereka capai dengan cara sebaik mungkin, seekonomis mungkin, dalam kondisi yang ada.

Para penganut substantivisme percaya bahwa individu dalam ma-syarakat prakapitalis tidak berusaha melakukan ”maksimalisasi” atau”ekonomisasi”. Sebenarnya, berbagai keputusan ekonomi mereka konon tidak didasarkan atas kalkulasi rasional terhadap tujuan-tujuan ekonomi, tetapi atas dasar pertimbangan afiliasi kelompok kekerabatan, ajaran agama, atau kesetiaan politik atau ikatan kelompok lainnya. Karena itu, para penganut substantivisme mengklaim bahwa perilaku ekonomi dalam masyarakat primitif dan petani “ditanamkan di dalam”, dan secara aktual seringkali dibentuk oleh, pengaturart sosial lainnya di dalam masyarakat tersebut. Posisi para penganut substantivisme, adalah menyesatkan, jika tidak membawa hasil yang sangat keliru, jika teori ekonomi Barat diterapkan untuk memahami ekonomi prakapitalis. Oleh karena itu, para penganut substantivisme mengusulkan agar para ilmuwan sosial yang mengkaji ekonomi masyarakat pra-kapitalis melepaskan asumsi Barat tentang perilaku ekonomi yang tipikal. Ini akan membantu memperingatkan kepada mereka akan adanya asumsi ekonomi yang dipakai dan bentukbentuk perilaku yang dipraktekkan oleh orang-orang dalam masyarakat pra-kapitalis yang karakternya jelas berbeda dengan Barat. Sehingga, semakin akurat deskripsi dan penjelasan tentang ekonomi pra-kapitalis yang akan dihasilkannya. Para penganut formalisme memberikan respons terhadap pernyata-an ini dengan menyetujui bahwa ekonomi kapitalis dan pra-kapitalis tidak dapat disamakan, secara ideologis ataupun behavioral. Namun, mereka menyatakan bahwa “maksimalisasi” dan ”ekonomisasi” dalam kondisi yang terbatas adalah gejala universal dan dengan demikian merupakan karakteristik perilaku orang-orang dalam ekonomi kapitalis danjuga ekonomi pra-kapitalis. Karena itu, mereka yakin bahwa berbagai konsep dan prinsip teori ekonomi Barat modern dapat diterapkan terhadap ekonomi masyarakat priinitif dan petani. Para penganut formalisme banyak mendasarkan argumen mereka kepada konsep “keterbatasan”.Ada kelemahan danjugakekuatan pada kedua posisi teoritis ini. Dari pihak penganut substantiyisme, Dalton (1967) telah memberikan ilus trasi kesalahan yang kad ang-kadang muncul karena asumsi-asumsiekonomi Barat diterapkan dalam menganalisis sistem ekonomi masyarakat primitif.

Pada bagian awal abad ini, W.E. Armstrong, seorang ekonom Barat, mengkaji sistem moneter yang terdapat di kalangan penduduk pulau Rossel, masyarakat hortikultura di Pasifik Selatan (Armstrong, 1924,128; dibahas dalam Dalton, 1967). Penduduk pulau Rossel mempunyai jenis uang yang terbuat dari kulit yang dikenal dengan kulit ndap. Ada 22 kelompok kulit ndap, masing-masing punya nama sendirj, tampaknya diberi nomor secara hirarkhis, dan Armstrong memberi nomor kelompok-kelompok ini dari 1 sampai 20 (semakin besar angkanya, semakin besar nilai kulit tersebut). Armstrong percaya bahwa uang kulit di pulau Rossel secara essensial sejajar denganuang di 13arat. Dia menyatakan bahwa ndap merupakan mecliumpertukaran komersial, standard nilai, dan standard pembayaran. Lebih clari itu, hutang konon harus dihitung dan barang serta jasa dihargai dengan kelompok kulit tertentu. Namun, Armstrong memberikan gambarari yang berlebih-lebihan tentang sistem moneter ini: ma-sing-masing kelompok kulit ini tidak dapat dipertukarkan satu sama 1ain. Misalnya, sebuah kulit no.18 diperlukan untuk membayar seekor babi, tetapi orang yang tidak mempunyai kulit yang sama tidak dapat mendapatkannya dengan, misalnya, menyerahkan sebuah kulit no.14 dan no.4. Begitu juga, sebuah kulit no.20 tidak sama nilainya dengan 20 kulitno.1, clan akibatnya 20 buah kulit no.1 tidak dapat digunakan untuk men-iperoleh sesuatu yang harus clibayar dengan sebuah kulit no.20. Annstrong memandang gambaran sistem moneter pencluduk pulau Rossel yang unik ini secara essensial tidak lebih dari sekadar sebuah kebiasaan khas, dan sebagai sebuah efisiensi dalam sistem mereka dibandingkan dengan sistem moneter Barat. Dalton menyatakan bahwa analisis Armstrong salah karena dia hanya inginberpikir tentang uang pulau Rossel dari cara pandang orang Barat. Dalton membantah analisis Arrnstrong dalam dua hal. Pertama, diarnenunj ukkanbahyya tidak semua kulit ndapberfungsi sebagai media pertukaran komersial; tetapi, hanya kulit yang bernilai rendah yang berfungsi seperti ini. Kedua, Dalton menyatakan bahwa konsep uang yang berorientasi pasar Barat, yang clipakai Armstrong, membuatnya memperlakukannya bukan sebagaimana penduduk pulau tersebut enaperlakukannya, dan karena itu ia memberi nomor kelas kulit dari l sampat 20. Dengan mengurutkannya, Armstrong secaraimplisit Inenyatakan bahwa kelas-kelas kulit harus dapat clitukarkan satu clengan yang lain, dan dengan demikian memberikan kesan yang keliru tentang kesamaan dasar antara uang daun ndap dengan uang Barat.

Dalton selanj utnya men unj ukkan beberapa gambaran tambahan tentang sis tem uang di pulau Rossel yang tidak dipahami oleh Arrnstrong. Kulit-kulit yang diberinomor dari 18 sampai 22 memiliki fungsi berbeda dari semua yang lain. Sebenarnya, nomor-nomor ini adalah barang berharga, dengan nama seseorang dan sejarah tertentu yang ditulis di atasnya, digunakart untuk mengesahkan berbagai peris tiwa penting. Di samping itu, mereka juga menganggapnyabernilai sakral, dan disimpan dengan sangat hati-hati dan penuh horrnat. Dengan demildan, ia sama sekali bukan media pertukaran komersial. Sebuah kulit no.18 adalah benda yang diperlukan untuk membayar mas kawin, misalnya, sedangkan no.20 diperlukan untuk pembayaran ganti rugi kepada para keluarga seorang lelaki yang dibunuh secara ritual. Dari kasus di atas, jelaslah bahwa para penganut substantiyisme kaclang-kaclang benar ketika mengatakanbah.wa hasil yang tidak akurat dapat terja.di manakala ekonorni pra-kapitalis dianalisis dari sudut pandang konsep dan prinsip ekonomi Barat. Namun ini tidak berarti bahwa posisi para penganut substantivisme harus disahkan. Dalam kenyataannya, substantivisme memiliki dua kelemahan krttsial. Salah satunya adalah klahnnya bahwa perilaku ekonomi dalam masyarakat sosialis seringkali atau pada tunurnnya didorong oleh pertimbangan non-ekonomi: kelemahan yang lain adalah penolakannya secara umum terhadap kebergunaan konsep keterbatasan /kelangkam (Dowling,1979). Kekuatan posisi para penganut formalisme adalah pengakuam-iya bahvva keterbatasan bukan hanya bersifat universal, tetapi juga mema- inkan peranan penting dalam membentuk perilaku ekonomi sentua masyarakat (cf. Dowling,1979). Pada saat yang sama, ke hati-hatian sangat diperlukan ketika mempertimbangkan konsep pengmm t formalisme tentang “maksimisasi”, karena anggota masyarakat pra-kapitalis tinak mungkin rnemaksimisasi dengari cara yang sama betul dengan cara yang dipakai para anggota masyarakat kapitalis. Dalam masyarakat kapitalis, maksimisasi umumnya berbentuk upaya individu untuk meningkatkan persediaan uang dan barang mereka ke tingkat yang lebih tinggi, sementara dalam masyarakat pra-kapitalis maksimisasi mengambil bentuk yang lain. Sebagai contoh, ia dapat mengambil bentuk maksirnisasi persediaan waktu luang d.aripad.a persediaan bahan rnaterial. Disampin,s itu, orang tidak selalu berusaha rnemaksirnisasi penghasilan mereka dalam arti sesungguhnya. Sebagaimana ditunjuld(an oleh seorang teoritisi ekonon-ri terkemuka Herbert Simon (1976), orang seringkali rnerasa puas dengan tingkat pendapatan yang cukup saja, dan bukan tingkat pendapatan maksimum. Mereka lebih merupakan “orang yang mencari kepuasan” daripada “orang yang mielakukan maksimisasi”. Analisis biaya/keuntungan menyatakan bahwa keputusan ekonomi dalam semua masyarakat dibuat oleh para individu atau kelompok secara sengaja dengan mempertimbangkan keuntungan dibandingkan dengan biaya yang sudah diketahui atau diperkirakan. Apabila keun-tungan melebihi biaya, maka tindakan tertentu akan dilakukan; tetapi apabila biaya melebihi keuntungan, maka orang umumnya akan menghinclari tindakan tersebut. Analisis biaya/keuntungan telah diterapkan pada seluruh bab ini. Ia, misalnya, menyatakan bahwa masyarakat pernburu-peramu tidak akan beralih ke pola procluksi pertanian manakala mereka Inemandang bebankerja tambahan yang tidakmemberikan perbaikansignifikan atas standard hidup mereka; bahwa masyarakat pemburu-peramu akan membagikan makanan mereka secara m.eluas di bawah kondisi dimana sumber daya pada umumnya melimpah tetapi juga menunjukkan fluktuasi seasonal dan regional;13ahwa orang besar akan muncul dalam masyarakat yang mengalarm keterbatasan tenaga kerja sebagar cara memotivasi orang untuk meningkatkan produktivitas ekonominya ke tingkat yang lebih bisa diterima; bahwa tuan tanah akan mengeksploi-tasi petani apabila peng-uasaan rnereka atas tanah memungkinkannya, dan para petani seringkali akan melawan eksploitasi ini dengan mengorganisir diri mereka sendiri ke dalam gerakan pemberontakan; dan bahwa pembeli dan penjual dalam pasar prakapitalis akan melakukan tawar-menawar dalam usaha memaksimisasikan keadaan ekonomi mereka. Dengan dernikian, kepentingan diri dan kalkulasi yang disengaja atas biaya dan keuntungan menentukan tindakan ekonomi orang dimana saja, dan penataan ekonomi mereka merupakan produk dari berfungsinya kepentingan diri dalam kondisi material dan historis tertentu. Namun tidak dapat dilupakanbahwa kondisi-kondisi ini sangat berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya dan dari satu waktu ke waktu lainnya, dan dengan demikian sistem tindakan ekonomi yang berbeda-beda tingkatan dan ragamnya telah berkembang di antarapara anggota species manusia.

Filed under : Bikers Pintar,