Advertisement

PENGERTIAN KRITIK SASTRA  – Salah satu cabang ilmu sastra yang berisi pertimbangan nilai dalam karya sastra. Kata kritik berasal dari kata Yunani krinein yang ber­arti menghakimi, sedangkan dasar penghakiman atau penilaian itu disebut kriterion dan penilai sastra dise­but kritikos. Dengan demikian untuk menilai karya sastra diperlukan ukuran atau kriteria. Dalam praktek­nya ukuran kritik sastra adalah ukuran nilai intrinsik atau ekstrinsik atau keduanya. Kriteria intrinsik ber­hubungan dengan nilai estetik karya sastra; dan kare­na nilai keindahan berkembang dalam sejarah, maka pendekatan intrinsik juga mengalami perkembangan tata nilai tentang apa yang disebut sastra. Pendekatan ekstrinsik karya sastra lebih menekankan ukuran di luar kriteria sastra, seperti psikologi, arketip, atau so­siologi.

Tugas kritik sastra menilai karya sastra dengan mencari kesalahan (kelemahan) dan mencari kelebih­an (pujian), mengadakan perbandingan dengan karya sastra lain, serta menikmati karya sastra (apresiasi). Dengan demikian kerja kritik sastra adalah mengada­kan evaluasi dan interpretasi karya sastra. Evaluasi dan interpretasi itu didasarkan atas ukuran tertentu da­ri kritikusnya. Meskipun demikian terdapat pula jenis kritik sastra yang tidak bekerja secara induktif. Cara pertama berdasarkan ukuran yang tersedia dan terumuskan (teori sastra), sedangkan cara kedua lebih berusaha mencari rumusan karya sastra.

Advertisement

Pendekatan.

Dalam praktik kritik sastra, ada dua pendekatan untuk menilai karya sastra, yakni pende­katan intrinsik, yang mendasarkan diri pada nilai ob­jektif karya sastra itu sendiri tanpa menghubung- hubungkan dengan ilmu lain; dan pendekatan ekstrinsik memakai ukuran ilmu tertentu dalam meni­lai karya sastra. Dalam pendekatan intrinsik, kritik ini berusaha melihat karya sastra secara objektif dengan dalil ilmu bahasa dan estetika sastra. Dari pendekatan ini lahir aliran kritik sastra baru, kritik sastra semiotik, kritik sastra struktural. Dalam pendekatan ekstrinsik, kritik berusaha melihat karya sastra dari disiplin ilmu di luar sastra. Pendekatan ini melahirkan kritik sastra sosiologis, kritik sastra psikologis, kritik sastra arke­tip, kritik sastra moral, kritik sastra filsafat. Ada juga yang disebut pendekatan campuran, yang dalam pen­dekatan ini kritik berusaha melihat karya sastra ‘dari segi intrinsik maupun ekstrinsiknya. Termasuk dalam kritik sastra ini adalah kritik sastra mimetik, kritik sastra ekspresif dan kritik sastra pragmatik.’

 

Bentuk kritik sastra beraneka ragam, yakni (a) kritik formal yang menekankan pada telaah dengan disiplin ilmu ketat yang disertai peristilahan teknis; (b) kritik informal yang dilakukan dengan gaya ung­kapan pribadi yang tidak terikat disiplin penulisan il­miah; (c) kritik sastra impresionistik yang menekan­kan pada ungkapan kesimpulan penilaian tanpa rincian yang jelas, biasanya berupa komentar lisan, wawancara atau ulasan ringkas.

Sejarah kritik sastra mulai dikenal di dunia Barat pada tahun 500 SM di Yunani. Kritikus pertama ada­lah Xenophenes yang menggunakan ukuran moral un­tuk mengecam karya epos Homeros yang dituduhnya memuat banyak cerita tingkah laku tidak senonoh pa­ra dewa Yunani. Di samping Xenophanes dikenal pu­la kritikus Heraclitus dan Aristophanes. Namun arti kritik sastra terlihat jelas dalam karya Plato yang mengambil ukuran menilai sastra dengan moral ting­gi, unsur hiburan sastra dan unsur ketepatan pengung­kapannya. Karya Aristoteles, Poetica, adalah tonggak kritik sastra yang menjadi sumber perkembangan kri­tik sastra sepanjang jaman.

Dalam masa Romawi, kritik sastra juga masih ber­kembang dengan para tokohnya Cicero, Hieronimus dan Quintilianus. Kritik sastra mereka lebih cende­rung pada penilaian gramatika daripada sastra. Arti kritikus pada jaman itu adalah penafsir naskah dan asal usul kata.

Dalam Abad Pertengahan Eropa, kegiatan kritik sastra lenyap. Pada jamair Renaisans, kegiatan kritik sastra mun­cul kembali dengan makna dari jaman Yunani. J.Cl? Scaliger menulis 6 jilid buku Poetica, yang salah sa­tunya dinamainya Criticus.

Kegiatan kritik muncul di Perancis dan Inggris. To­koh-tokohnya adalah Moliere, La Bruyere, Francis Bacon dan Ben Jonson.

Pada abad ke-17, penggunaan istilah kritik sastra dan kritikus sastra semakin jelas. Pengertian istilah kritik sastra sekarang diperkenalkan oleh John Dryden. Ia mempergunakan istilah criticism yang ber­arti dasar penilaian sastra yang benar. Pada abad ke- 18 kegiatan kritik sastra semakin kuat sebagai suatu lembaga dan pada abad ke-19 bidang ini berkembang menjadi bidang ilmu tersendiri, terutama dengan ber­kembangnya aliran pemikiran dalam kesenian dan ke­budayaan seperti Romantik, Rasionalisme, Realisme. Dalam abad ke-20 kritik sastra telah berkembang sepenuhnya sebagai ilmu sastra yang erat kaitannya dengan perkembangan teori sastra.

Di Indonesia, kritik sastra mulai dikenal di ling­kungan penulis Melayu-Cina pada tahun 1912 dengan penulisnya Lauw Giok Lan dan Kwee Tek Hoay. Ma­sih dalam bentuk sederhana, pada tahun 1923 majalah Panji Poestaka memuat semacam kritik sastra karya Memed Sastrahadiprawira, Sari Banon, yang dinilai kritikusnya sebagai pornografis. Kritik sastra dalam pengertian yang lebih disadari sebagai genre sastra muncul pada jaman Pujangga Baru tahun 1930-an. Penulisnya, antara lain, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dll.

Kritikus sastra Indonesia pertama muncul pada ta­hun 1940-an, yaitu H.B. Jassin. Kerajinannya menulis kritik dan keteraturannya yang ditunjukkannya sam­pai tahun 1960-an, menyebabkan ia dipandang seba­gai “Paus Sastra Indonesia” yang mengajar di Universitas Indonesia juga mendidik beberapa murid- nya berkembang menjadi kritikus. Mereka adalah Sa­leh Saad, M.S. Hutagalung, Boen S. Oemarjati, dan banyak lagi. Karya kritik mereka muncul dalam dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Dalam dasawarsa 1960- an muncul polemik kritik sastra antara kelompok kri­tikus dari lingkungan sastrawan kreatif. Polemik ini berpangkal pada pentingnya kritik sebagai peng­hayatan sastra dan kritik sebagai analisis dingin terha­dap karya sastra.

Dalam tahun 1970-an muncullah kritik sastra yang lebih teoretik, akibat perkembangan pengajaran sastia di perguruan tinggi, terutama teori sastra mutakhir. Dalam dasawarsa ini muncul nama-nama kritikus Umar Junus, Subagio Sastrowardojo, dll. jCritik sastra mereka berbentuk formal, terinci, penuh analisis berdasarkan teori sastra tertentu, yang pada dasarnya meneruskan tradisi kritik sastra perguruan tinggi dasawarsa 1960-an.

 

Incoming search terms:

  • pengertian kritik sastra
  • definisi kritik sastra
  • pengertian kritik formal
  • kritik sastra adalah
  • apa yang dimaksud dengan kritik sastra
  • cara mengambil nilai dalam karya sastra adalah menghubung-hubungkan
  • Apa yang dimaksud kritik sastra
  • pengertian kritik intrinsik
  • apa itu kritik sastra
  • kritik intrinsik

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kritik sastra
  • definisi kritik sastra
  • pengertian kritik formal
  • kritik sastra adalah
  • apa yang dimaksud dengan kritik sastra
  • cara mengambil nilai dalam karya sastra adalah menghubung-hubungkan
  • Apa yang dimaksud kritik sastra
  • pengertian kritik intrinsik
  • apa itu kritik sastra
  • kritik intrinsik