PENGERTIAN KUALIFIKASIONISME PADA TINGKAT DUNIA ADALAH

292 views

PENGERTIAN KUALIFIKASIONISME PADA TINGKAT DUNIA ADALAH – Meskipun kualifikasionisme itu barangkali merupakan ciri terkemuka Ameri-ka Serikat bila dibandingkan dengan masyarakat industri maju lainnya, tentu telah menjadi suatu ciri penting sisteni-sistem pendidikan masyarakat industri lainnya pada abad xx ini. Inggris dan Jepang, misalnya, telah mengalarni pertumbuhan kualifikasionisme yang sangat signifikan sepanjang abad ini. Perubahan-perubahan his toris dalam persiapan karir para insinyur dan pustakawan adalah indikator-indikator yang bagus tentang munculnya kuali-fikasionisme dalam sistem pendidikan Inggris (Dore, 1976). Pada akhir abad xix, para insinyur sipil tidak mengikuti ujian formal, melainkan memasuki profesi mereka melalui sistem magang. Pada pertengahan abad xx keadaan illi telah berubah, sehingga sertifikat pendidikan menjadi sangat penting untuk memasuki suatu profesi. Lagi pu1a, pada tahun 1970 persiapan pendidikan formal telah menjadi suatu keharusan mutlak. Para pustakawan telah meng-ikuti arah yang sama. Pada awal abad xx, tidak disyaratkan kesarjanaan formal untuk menjadi pustakawan. Namun pada tahun 1930-an, sertifikat pendidikan menjadi sangat penting; pada tahun 1950 sertifikat ini menjadi suatu syarat mirtimal; dan pada tahun 1970 lamanya persiapan pendidikan formal menjadi keharusan minimal untuk menjadi pustakawan dan telah diperpanjang. Lagi pula, prospek-prospek dengan jelas tampak akan lebih diperpanjang lagi.

Kualifikasionisme masuk Jepang pada tahap yang jauh lebih awal dalam perkembangan ekonominya. Sebagaimana dinyatakan oleh Dore, sejak awal masa industrialisasinya Jepang membangun kualifikasionisme dalam persiapan karirnya. Malah sejak awal tahun 1910 banyak perusahaan bisnis Jepang berusaha merekrut lulusan universitas saja. Sarjana-sarjana universitas juga semakin diharuskan pada masa untuk masuk ke dalam profesi-profesi teknik danposisi-posisi administratif pemerintahan. Jadi terdapat pertumbuhan yang “cepat dalam jumlah universitas sepanjang abad xx. Dalam tahun 1918 perguruan-perguruan tinggi swasta diberi hak untuk menyebut dirinya universitas. Dua dekade kemudian ada 26 universitas yang demikian itu. Pada saat yang sama juga terdapat 19 universitas negeri dan 2 universitas kotapraja. Ekspansi besar-besaran terus berlangsung selama empat d.ekade berikutnya, sehingga pada tahun 1982 Jepang telah mempunyai 455 universitas dan tambahan 526 akademi (junior colleges) (Statesman’s Year Book 1984-85, 1984).

Banyaknegara yang sedang berkembang dalam dekade-dekade terakhir ini agaknya sedang mengalami suatu bentuk kualifikasionisme yang sangat akut. Mereka itu merupakan korban dari apa yang disebut Dore “dampak pembangunan yang terlambat” (late-development effect): Semakin terlambat pembangunan dimulai , semakin lebih cepat meningkat pendidikan sekolah. Di negara-negara demikian, sertifikat pendidikan telah menjadi persyaratan keharusan bagi illdividu individu untuk memperoleh jalan masuk ke dalam pekerjaan-pekerjaan sektor modern (misalnya, instansi-instansi pegawai negeri, pekerjaan-pekerjaan kantor). Pekerjaan-pekerjaan itu sangat menarik karena menjanjikan suatu tingkat imbalan ekonomi yang jauh di balik yang didapatkan oleh orang rata-rata. Karena ltll, permintaan akan mereka adalah sangat tinggi, yang menghasilkan inflasi kualifikasi yang substansial. Di Kenya, misalnya (Dore 1976: 67-68): Ada konsekuensi yang serius dari pertumbuhan kualifikasionisme itu. Di antaranya, ada dua yang agaknya paling penting. Yang pertama adalah masalah “kelebihan-pendidikan” (overeducation). Bila terjadi peningkatan dalam jumlah orang yang memegang sertifikat pendidikan pada suatu tingkat tertentu, dan bila jumlah pekerjaan yang memerlukan tingkat pendidikan itu tidak meningkat, maka banyak pemegang sertifikat tidak akan mampu memperoleh pekerjaan pada tingkat itu. Mereka pada akhirnya menerima pekerjaan-pekerjaan untuk mana mereka telah mempurtyai pendidikan yang lebih tinggi daripada yang diperlukan, atau mereka melanjutkan untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi, dengan harapan bahwa jumlah pendidikan ekstra ini akan menjamin mereka dengan jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Jadi masalah kelebihan pendidikan adalah akibat dari kualifikasionisn-te dan juga penyebab kualifikasionisme yang dipercepat.

Konsekuensi serius kedua dari pertumbuhan kualifikasionisme menca-kup kualitas pendidikan itu sendiri. Seperti yang diperingatkan oleh Dore, apabila kualifikasionisme mencapai tingkat atas dalam suatu sistem pendidikan, maka ujian mulai mendominasi kurikulum, belajar menjadi rutin keingintahuan dan kreativitas tidak dipentingkan; dan para siswa tidak saja gagal untuk mengembangkan perhatian dalam apa yang mereka pelajari, tapi mereka malah kehilangan minat terhadap relevansinya. Pendidikan menjadi terorientasikan sekitar lulus ujian dan menerima selembar surat, bukannya sekitar ekspansi berpikir dan merangsang dan memenuhi keingintahuan intelektual. Ruang-ruang kelas menjadi tempat-tempat steril yang dicirikan oleh semacarn kebosanan yang diritualkan. Bila para siswa mulai menyadari akan sifat dan fungsi sesungguhnya daripada sistem pendidikan, dan bila inflasi surat kepercayaan mencapai tingkat yang sangat tinggi, maka terjadilah “krisis surat kepercayaan”. Collins percaya bahwa hal ini telah terjadi dalam dua dekade terakhir ini di Amerika Serikat . Sebagaimana dikatakannya (1979:191-192): Dalam perkembangan kemudian, lahirnya suatu sistem sekolah dan berkem-bangnya suatu sistem pekerjaan berdasarkan kualifikasi, cenderung -terjadi secara simultan. Konsep “sekolah” dan pendidikan formal memasuki masyarakat dalam waktu-waktu terakhir ini sebagai bagian dari paket “modernitas” yang dibawa oleh kekuatan imperialis. Sebaliknya, kebanyakan negara industri yang lebih tua mempunyai tradisi paedagogis formal (dan beberapa lembaga pendidikan) yang dapat dijejaki kembali ke masa pra-industri sebelum sertifikat pendidikan memperoleh nilai yang penting — dengan kata lain, menjejaki kembali ke masa ketika pengajaran dipandang sebagai usaha untuk mendapat pengetahuan atau kebajikan, untuk membuat seorang dihormati atau suci atau adil atau kaya. Tradisi lama itu masih tetap ada di negara-negara yang lebih tua. Tradisi itu berfungsi untuk mempertahankan fiksi bahwa pendidikan berkaitan erat derigan usaha mernpertinggi dan memperkaya moral dan intelektual. Dan fiksi-fiksi demikian adalah penting. Apa yang orang rumuskan sebagai nyata adalah nyata dalam konsekuensinya. Fiksi-fiksi itu rnemang berfungsi sebagai suatu kekuatan pengimbang guna melemahkan kecenderungan-kecenderungan ke arah orientasi kualifikasi, khususnya ketika fiksi-fiksi itu secara lancang ditegaskan kembali oleh siswa-siswa yang memberontak yang menuntut diakhirinya ujian, clan menandaskan bahwa universitas-universitas hendaknya berhenti memperkosa dirinya sendiri dengan jalan bertindak secara merendah sebagai penuntun material manusia untuk sistem kapitalis (malah pun jika melakukan lebih cepat dan jatuh ke dalam kebingungan ketika seseorang pengajar universitas menyatakan itu dan menghapuskan semua sertifikat sarja-na maupun ujian-ujian). Di negara-negara yangberkembang kemudian di mana semua orang kecuali generasi pertama dari sekolah-sekolah misi menyelamatkan jiwa secara murni (dan malah beberapa daripada sekolah-sekolah itu) mempunyai fungsi seleksi/pemberian surat kepercayaan, maka fiksi-fiksi pengimbang yang berguna itu, yang berakar dalam masa lalu setempat, adalah lebih sulit untuk ditetapkan dan ditopang. Pengejaran sertifikat dapat malah lebih ditelanjangi dan tidak memalukan.

1. Ada tiga tipe sistem pendidikan yang utama yang dijumpai dalam masyarakat dunia. Fungsi-fungsi pendidikan keterampilan -praktis adalah untuk secara sosial mengalihkan pengetahuan dan keterampilan yang berguna kepada anggota-anggota generasi yang lebih muda. Sistem-sistem pendidikan kelompok-kelompok status berfungsi untuk memberi arti kepada status sosial kelompok-kelompok peringkat atas. Sistem-sistem itu pada umumnya sangat tidak praktis dan diabdikan untuk memindahkan dan membahas kumpulan pengetahuan esoterik. Sistem-sistem pendidikan birokrasi terutama berfungsi untuk merekrut personil untuk pekerjaan. Sistem-sistem itu memberi penekanan persyaratan kehadiran, kelas, dan diploma.

2. Sistem-sistem pendidikan dalam masyarakat-masyarakat industri modern adalah kombinasi pendidikan kelompok status dan birokrasi, tetapi semakin berkembang ke arah birokratis dalam beberapa dekade lampau. Dalam beberapa masyarakat industri terdapat sistem mobilitas yang disponsori yang penjaluran pendidikan saja dilakukan pada usia dini. Dalam masyarakat industri lainnya dijumpai sistem-sistem mobilitas kontes. Sistem-sistem itu bersaing secara lebih terbuka, dan tidak secara formal didasarkan pada mekanisme penjaluran (tracking).

3. Amerika Serikat mempunyai sistem pendidikan mobilitas-kontes. Negara ini juga mempunyai sistem pendidikan yang terbesar dari dunia dalam arti jumlah mahasiswa yang melanjutkan ke pendidikan tinggi. Sistem pendidikan Amerika Serikat telah mengalami ekspansi yang luas dalam abad xx, suatu ekspansi yang lebih besar daripada yang dialami oleh masyarakat industri lainnya. Kini hampir 60 persen dari mahasiswa usia terus mengikuti kuliah.

4. Ada empat teori utama tentang sistempendidikan yang telah dikembangkan oleh para sosiolog. Teori-teori itu adalah- teori fungsionalis, teori aliran Marx, teori inflasi diploma, dan teori pendidikan sebagai pembangunan bangsa (nation-building). Dimensi-dimensi utama dari teori-teori itu dibicarakan dan dievaluasi secara kritis pada uraian terdahulu.

5. Sejak kira-kira tahun 1950 suatu ekspansi sistem pendidikan yang dramatis telah terjadi di seluruh dunia, malah di beberapa negara termiskin. Proses ini agaknya merupakan akibat utama dari inflasi ijazah. Inflasi ini semakin mengintensifkan apa yang oleh Dore disebut kualifikasionisme: perkembangan sistem-sistem pendidikan adalah sebagai alat pengrekrutan pekerjaan, bukannya sebagai sistem pengalihan pengetahuan. Dua akibat negatif dari kualifikasionisme ini ialah masalah “pendidikan berlebihan” (overeducation) dan adanya suatu penurunan umum dalam kualitas pendidikan intelektual. Konsekuensi-konsekuensi itu barangkali lebih parah di negaranegara yang sedang berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *