Advertisement

Salah satu unsur kebijaksanaan di bidang Pendidikan Nasional yang direncanakan adalah perubahan kurikulum. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa perubahan kurikulum merupakan suatu proses yang wajar yang harus dilakukan secara periodik untuk menyesuaikan kurikulum dengan tuntutan zaman dan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan inheren di dalam isinya. Perubahan-perubahan kali ini akan bersifat prinsipil dan menyangkut penyeimbangan segi kognitif dan psikomotorik dengan segi afektif. Saya bersyukur bahwa sejak saya menyampaikan gagasan pendidikan berpikir dan pendidikan humaniora, telah banyak ahli yang membantu menjelaskannya kepada publik pembaca surat kabar secara iebih sempurna daripada andaikata saya sendiri yang melakukannya.

Karena itu, di sini saya ingin menyajikan hakikat pendidikan berpikir dengan suatu ungkapan sebagai berikut: “Jika seseorang kauberi seekor ikan, maka ia akan makan ikan sepanjang hari; jika seseorang kauajari menangkap ikan, maka ia akan makan ikan sepanjang hidupnya.” Yang kita inginkan adalah, supaya pendidikan tidak hanya bersifat memberi ikan belaka, namun juga bersifat mengajari bagaimana caranya menangkap ikan. Hal itu berarti bahwa kurikulum tidak boleh kita jejali dengan “ikan”, melainkan terutama diisi dengan pelajaran “menangkap ikan”. Ini yang disebut oleh para ahli core curriculum yang harus dikuasai semua anak didik, sedangkan di samping itu terdapat apa yang disebut electives (pilihan) yang disesuaikan dengan kebutuhan pelbagai kelompok.

Advertisement

Bidang humaniora ternyata relatif begitu tidak dihargai sehingga juga relatif tidak dikenal. Yang disebut humaniora atau humanities adalah bidang-bidang studi yang berusaha menafsirkan makna kehidupan manusia di dunia dan berusaha menambah martabat kepada penghidupan dan eksistensi manusia. Bidang-bidang yang termasuk humaniora meliputi agama, filsafat, sejarah, bahasa dan sastra, pelbagai cabang seni, dan lain sebagainya. Manfaatpendidikan humaniora adalah memberikan pengertian yang lebih mendalam mengenai segi manusiawi daripada manusia sebagai kebalikan dari aspek-aspek lainnya.

Salah satu mata kebijaksanaan lain adalah meningkatkan fasilitas belajar dalam rangka memeratakan yang antara lain akan dilaksanakan dengan wajib belajar bagi tingkatan sekolah dasar. Peningkatan fasilitas itu meliputi perangkat lunak (yakni guru-guru) maupun perangkat keras (gedung, sarana pengajaran, buku-buku, dan lain-lain). Dalam kaitan dengan usaha penyempurnaan kurikulum* akan dikhususkan penulisan buku-buku bacaan di samping text-book. Hal ini antara lain akan dikaitkan dengan penyempurnaan dan peningkatan perpustakaan.

Berdasarkan ucapan Ruskin, bahwa “pendidikan bukanlah untuk tujuan supaya tahu lebih banyak, melainkan supaya berlaku lain”, maka perhatian akan dipusatkan kepada usaha meningkatkan ketakwaan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Tentu saja tanpa mengabaikan peningkatkan kecerdasan dan keterampilan. Sedangkan khususnya pendidikan Pancasila akan terus dikembangkan dan meliputi pendidikan pelaksanaan P-4, pendidikan moral Pancasila, serta pendidikan sejarah perjuangan bangsa yang bersifat penghayatan.

Dengan demikian semoga masyarakat, khususnya orang tua anak didik, tambah menghayati lagi bahwa Pendidikan Nasional merupakan sesuatu yang sangat vital, bersifat menentukan masa depan bangsa dan negara kita. Karena itu, berkenaan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, saya ingin menyerukan kepada masyarakat maupun jajaran pemerintah, khususnya pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, agar menghindarkan diri dari setiap perbuatan yang dapat ditafsirkan oleh para anak didik sebagai penyimpangan dan bahkan penyelewengan. Karena hal itu akan sangat membekas pada jiwanya yang masih sangat muda belia dan mungkin akan menjadi borok yang akan merusak jiwanya pada waktu mereka menjadi dewasa.

Advertisement