Advertisement

Memang Tuhan telah mentakdirkan manusia dalam beberapa hal seperti, umur, rezki, jodoh, namun takdir itu merupakan rahasia Tuhan yang tak seorang manusiapun tahu akan takdir dirinya sendiri. Oleh karena itu, merobah nasib kearah peningkatan yang lebih baik justru ditegaskanTuhan secara jelas dalam Al-Quran. Perobahan kearah yang lebih baik dalam kaca mata manusia bisa jadi berbeda dalam pandangan Tuhan, oleh karena itu usaha mencari penyesuaian antara keinginan manusia dengan hukum Tuhan selalu harus dilakukan, usaha demikian disebut ijtihad. Ijtihad memang harus dilakukan setiap saat, artinya untuk mencapai sesuatu yang baik dalam pandangan Tuhan, manusia harus berusaha mencari kebenaran. Untuk mencari kebenaran, seseorang harus menggunakan semua potensi yang ada dalam dirinya dan bersinergi dengan alam serta dengan Pencipta alam itu sendiri.

Dengan hanya mengandalkan potensi manusia yang terbatas itu, terbukti bahwa beberapa teori yang diciptakan manusia harus dilakukan perbaikan dan bahkan banyak yang berseberangan.  Sudah tentu semua agama mengklaim bahwa agama yang paling benar adalah agama yang ia anut. Hal itu cukup beralasan dan oleh karena itu ia menganutnya, namun dalam hal pembuktian sudah tentu terjadi ketidak seragaman. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah perjalanan sejarah dari agama tersebut yang menggambarkan ke-otentikan dan keterlindungan dari intervensi kekuasaan, seperti peristiwa alam dan bencana yang menimpa manusia. Agama Islam yang dimaksud tidak hanya agama Islam yang dianut oleh Nabi Muhammad dan ummatnya, tetapi juga dianut oleh Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad seperti ajaran Nabi Isa, Nabi Daud, Nabi Ibrahim maupun Nabi Adam, karena Islam yang di dalamnya terkandung pengertian dan pemahaman monoteisme murni, Tuhan Yang Maha Esa dan paham yang tidak menyekutukan Tuhan. Oleh karena itu keyakinan terhadap Tuhan menurut kitab Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim yang asli pasti tidak berbeda dari kitab Nabi Muhammad, Al-Quran. Semenjak dari tahun 600 Masehi sampai sekarar. Al Quran belum pernah berubah bahkan tidak akan ada perubahan, Al Quran masih asli dan autentik. Ibarat berbelanja suku cadang mobil, yang dicari pasti yang asli (genuine) dan langsung dari sumbernya. Untuk membuktikan suatu keaslian dibutuhkan suatu perjalanan sejarah yang panjang dan jelas.

Advertisement

Secara eksplisit manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Arti khalifah ialah suatu fungsi yang ditugaskan kepada manusia untuk menjadi peng hubung, penyambung atau pemimpin (yang terkait dengan tanggung jawab), la memikul suatu amanat atau pesan yang harus disampaikan kepada manusia sesamanya. Amanat dan tanggung jawab yang ditugaskan kepada manusia itu adalah penyampaian nilai atau ajaran tauhid (ajaran Islam). Dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan tujuan mengabdi kepadaNya, sedangkan pengabdian tersebut difungsikan Allah, kepada manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Dengan jelas dikatakan bahwa tugas manusia adalah mendidik dan menyampaikan ilmu dan ajaran-ajaran Allah kepada orang lain dengan suatu tugas yang mulia dan penuh tanggung jawab. Untuk mencapai hakikat kehadiran manusia yaitu sebagai pemimpin, pengabdi atau pendidik, maka mengabdi kepada Allah sudah tentu sesuai menurut kehendak Allah karena Allah adalah sebagai Pendidik Yang Maha Utama. Oleh karena itu Allah memberi penilaian tentang derajat manusia yang paling tinggi diantara pengabdi Nya.Maka semakin tinggi taqwa seseorang, semakin tinggi nilai pendidikan yang telah didapatinya. Seluruh ilmu di alam ini berasal dari Allah Sang Pencipta. Allah memberikannya kepada manusia deng An tujuan untuk pengabdian dan ketaqwaan kepadaNya. Oleh karena itu ilmu yang ada merupakan suatu kesatuan yang bersifat integral, yang berarti semua ilmu di alam ini mengandung nilai-nilai ketauhidan. Ketauhidan itu sekaligus melandasi semua ilmu.  Menurut Al Qur’an dan hadits tersebut bahwa seorang anak manusia sejak lahir membawa suatu potensi didalam dirinya. Potensi itulah yang membedakan antara seseorang dengan anak manusia lainnya, inilah yang disebut dengan fitrah atau bakat, para ahli psikologi menyebutnya dengan istilah faktor bawaan. Dalam hal ini Agama Islam meyakini bahwa seorang bayi yang dilahirkan ke dunia bukanlah kosong dengan potensi, namun sebaliknya Tuhan telah menganugerahi setiap ummatNya dengan suatu potensi yang siap untuk dikembangkan menjadi kecerdasan yang bentuknya jamak atau beragam. Kecerdasan jamak itu oleh Howard Gardner disebut dengan istilah Multiple Intelligences (kecerdasan jamak). Oleh karena keterkaitan erat antara kecerdasan dengan bakat maka bakat tidaklah berdiri sendiri tetapi tetap terkait dengan fungsi dan kerja otak manusia sebagai potensi diri. Lebih lanjut Hadis tersebut menjelaskan bahwa disamping fitrah atau bakat, ayah dan ibunyalah sebagai suatu potensi di luar diri anak, juga dapat menentukan perkembangan diri seorang anak. Hal ini berarti bahwa Islam meyakini, di samping perkembang an anak manusia ditentukan oleh faktor bawaan, faktor lingkunganpun juga sangat menentukan dan berperan aktif dalam perkembangan seorang anak. Oleh karena itu sinergi potensi diri dengan lingkungan seorang anak akan menghasilkan perkembangan maksimal mental intelektual dan kepribadian seorang enak manusia.

Incoming search terms:

  • defenisi landasan pendidikan islam

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • defenisi landasan pendidikan islam