Advertisement

PENGERTIAN LINTASAN HIDUP INDIVIDU – Atau daur hidup, ada­lah serangkaian tingkatan hidup yang dimulai dari proses pembuahan, masa kehamilan atau masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak-kanak, masa akil-balig, masa remaja, masa sesudah nikah, masa tua, sampai akhirnya kematian. Tingkatan itu bersifat uni­versal, artinya terdapat pada kebudayaan masyarakat manusia, sesuai dengan kebudayaannya masing-ma­sing. Namun kebudayaan tertentu tidak menganggap setiap tingkatan itu penting, artinya tingkatan tertentu dianggap lebih penting daripada tingkatan lainnya.

Dalam peralihan dari satu tingkatan hidup ke ting­katan hidup yang lain selalu diyakini adanya krisis, yang bisa menimbulkan keadaan gawat dan bisa mengancam keselamatan jiwa, secara nyata atau seca­ra gaib. Karena itulah biasanya diadakan upacara atau perayaan. Upacara itu bertujuan untuk menolak baha­ya gaib yang akan mengancam si individu atau anggota lingkungan sosialnya.

Advertisement

Sistem upacara krisis itu sering berbeda antara sua­tu masyarakat pengamal budaya tertentu dan masya­rakat lainnya, yang masing-masing mengikuti sistem budayanya sendiri. Ini terlihat, misalnya, dalam upa­cara pada saat jabang bayi berusia tiga dan tujuh bulan dalam kandungan, atau upacara kelahiran, pemo­tongan rambut, pemberian nama, penusukan telinga, haid pertama, pengasahan gigi, sunat, perkawinan, dan upacara kematian. Upacara kematian bertujuan untuk membantu individu yang meninggal agar men­dapat tempat yang baik di alam gaib. Upacara sema­cam itu dilaksanakan, misalnya, oleh orang Banuaq di Kalimantan Timur dengan upacara kwangkainy’d. Un­tuk maksud yang sama, orang Bali melaksanakan upa­cara ngaben, upacara maligia. Sementara penganut agama Islam melakukan upacara selamatan atau ken­duri pada hari ke-3, ke-7, ke-40, dan ke-100 setelah seseorang meninggal.

Sesungguhnya upacara-upacara lintasan hidup in­dividu itu juga mempunyai fungsi sosial, yaitu seba­gai suatu pernyataan kepada lingkungan sosial bahwa seorang individu anggota suatu masyarakat telah mencapai tingkat hidup baru. Upacara itu sendiri berfungsi sebagai wahana untuk melangsungkan pro­ses sosialisasi dan pembudayaan dari sistem norma (enkulturasi) bagi pendukung kebudayaan tersebut.

Sejak abad ke-18, upacara lintasan hidup individu dari berbagai kebudayaan suku bangsa di Indonesia telah menjadi sasaran kajian para peneliti. Suatu me­tode yang disebut metode life-cycle arrangement menjadi salah satu alat untuk mengenali kebudayaan. Metode ini menghasilkan bagian karangan etnografi, sehingga terlahir suatu pelukisan yang lebih lengkap. Metode ini telah digunakan oleh C. Snouck Hurgronje untuk mengenali dan melukiskan kebudayaan Aceh, dalam bukunya De Atjehers (1893-1894), dan oleh G. Heymering (1843) untuk mendalami kebudayaan p enduduk Pulau Roti, dll.

Incoming search terms:

  • metode life cycle arangement

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • metode life cycle arangement