Advertisement

Akhir-akhir ini kegiatan pendidikan sangat mementingkan pendidikan keilmuan, di mana pendidikan humaniora sering dianggap pelengkap yang tidak begitu perlu, seperti sebuah “ban serep” (ban cadangan) yang tergantung di perjalanan. Pendidikan ditekankan pada pembentukan manusia ahli yang menguasai bidang keilmuan tertentu tanpa merisaukan apakah orang itu berwatak luhur atau mengenai budayanya sendiri. Hal ini ternyata merisaukan kita, lalu ke mana pendidikan akan dibawa, kembaii kepada pendidikan humaniora?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut harus dicari dari persepsi kita tentang manusia yang hidup dan berkehidupan dewasa ini. Kurun masa kini ditandai oleh pembagian pckerjaan yang didasarkan pada spesiaiisasi tertentu, dan oleh sebab itu, pendidikan yang bertujuan memberikan keahlian adalah mutlak perlu. Tetapi aspek keahlian ini hanya terikat dengan dimensi ekonomis saja, dan kehidupan manusia akan menjadi sedemikian sempit bila dilihat dari satu perspektif.

Advertisement

Kita tidak menginginkan manusia satu dimensi, melainkan “manusia yang utuh”, yakni manusia yang di samping mempunyai keahlian, juga merupakan manusia berbudaya yang beriman kepada Tuhan. berwatak luhur, mengenai dan menghargai karya seni bangsanya sendiri, mempunyai identitas sendiri dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia, dan mempunyai persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah peradaban manusia.

Pertama, pendidikan harus menganggap bidang keilmuan dan humaniora adalah samapentingnya. Menitikberatkan pendidikan kepada satu bidang saja akan menjadikan proses pendidikan timpang. Anggapan tentang pentingnya kedua bidang pengetahuan ini jangan diartikan bahwa kadar dan intensitas kedua bidang tersebut dalam kegiatan kurikuler adalah sama. Menurut perkiraan penulis, struktur kurikulum yang sekarang ada malah tidak usah mengalami perubahan, dan kalaupun perubahan itu ada, hal itu lebih terletak dalam sistem penyajian.

Kedua, pendidikan keilmuan dan humaniora jangan berjalan sendirisendiri, rnelainkan terpadu oleh satu kesatuan konsep, di mana bidang satu bersifat melengkapi bidang yang lain. Dalam hal ini harus dicegah pendidikan humaniora yang sekadar bersifat intelektual yang tidak mempunyai dampak kongkret terhadap pola sikap dan pola tindak.

Ketiga, tujuan pendidikan jangan ditekankan kepada penguasaan pengetahuan saja, rnelainkan sekaligus harus mencakup pembentukan pola sikap dan pola tindak. Untuk itu proses belajar harus mengalami perubahan yang memungkinkan tercakupnya ketiga tujuan pendidikan tersebut. (Lihat Jujun S. Suriasumantri,”Perspektif Pembarigunan Manusia: Sebuah Renungan pada Hari Kemerdekaan 1982″, Kompas 16 Agustus 1982.)

Keempat, tujuan penguasaan pengetahuan jangan hanya bersifat kognitif, tetapi sekaligus mencakup aspek afektif dan keterampilan. Penulis jangan ~nendukung pernyataan menteri pendidikan yang akan mengembangkan pendidikan afektif, sebab hal ini bukan saja mempunyai pengaruh positif terhadap pembentukan pola sikap dan pola tindak, tetapi juga terhadap pengembangan kognitif dan keterampilan.

Kelima, pendekatan filsafati dapat dipakai sebagai konsep yang menyatukan pendidikan keilmuan dan pendidikan humaniora. Filsafat ilmu dapat dipakai sebagai sarana pendidikan yang menjembatani bidang keilmuan dan humaniora. Sengaja dalam taraf ini hanya filsafat ilmu yang ditonjolkan sebab, di samping menganalisis aspek-aspek humaniora dalam kegiatan keilmuan, maka filsafat ilmu juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan pendidikan keilmuan (Lihat Jujun S. Suriasumantri, “Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik”, makalah inti dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional III, Jakarta, 15-19 September 1981.)

Filsafat ilmu dapat dipergunakan sebagai sarana pendidikan berpikir, sebab materi kajian filsafat ilmu yang diusulkan tidak berhenti pada hakikat keilmuan semata, rnelainkan juga mencakup perbandingan ilmu dengan pengetahuan lain secara antologis (apa), epistemologis (bagimana), dan aksiologis (untuk apa). Dengan demikian maka filsafat ilmu dapat memberi kerangka berpikir yang menyatukan pendidikan keilmuan dan humaniora secara rasional dan analitis.

Keenam, berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka dapat disusun penyajian bahan pelajaran yang bersifat integratif dengan mempergunakan struktur kurikulum yang ada sekarang, umpamanya saja pendekatan historis dalam pendidikan keilmuan dan humaniora, implikasi moral dari pendidikan keilmuan, pendidikan keilmuan sebagai sarana pendidikan moral, pengaruh perkembangan ilmu terhadap seni dan sebaliknya pengaruh seni terhadap budi pekerti dan (bahkan) pengaruh olah raga terhadap pembinaan karakter bangsa,

Ketujuh, pendidikan humaniora harus ditekankan pada pengembangan kreativitas, dan bukan semata pada pengenalan serta apresiasi terhadap karya yang telah ada. Kreativitas ini menonjol sekali umpamanya dalam bidang estetika, dan tidak kurang pentingnya, berlaku dalam bidang keilmuan pula.

Kedelapan, pelajaran sejarah jangan ditekankan pada pengenalan fakta sejarah saja, tetapi pada proses dan nilai yang terlibat dalam episode historis tersebut serta dampaknya terhadap peradaban. Dalam sejarah dunia, umpamanya, dapat dikaji revolusi industri dilihat dari segi nilai proses dan dampaknya terhadap masyarakat dan perkembangan ilmu serta teknologi. Sedangkan dalam sejarah nasional dapat dibahas politik etis Belanda serta dampaknya terhadap kebangkitan nasional.

Kesembilan, pengajaran bahasa jangan mencakup aspek kultural saja (afektif dan emotif), tetapi juga aspek penalarannya. Pendidikan bahasa sebagai sarana penalaran adalah selaras dengan pengembangan pendidikan berpikir.

Kesepuluh, pendidikan olah raga jangan dianggap seni yang bersifat fisik saja, tetapi juga diberi dimensi filsafati yang bersifat etik dan estetik. Dengan demikian, maka olah raga dapat berfungsi bukan saja sebagai sarana pengembangan fisik, tetapi juga watak manusia.

Demikianlah secara singkat telah dibahas beberapa implikasi dari gagasan pendidikan berpikir dan humaniora dalam kegiatan kurikuler.

Pendidikan berpikir dan humaniora bukan saja penting sebagai kajian, tetapi juga bersifat melengkapi terhadap yang lain, bagaikan pasangan belahan gunting.

 

Incoming search terms:

  • manusia utuh
  • pengertian manusia utuh
  • manusia yang utuh
  • manusia secara utuh
  • pengertian manusia secara utuh
  • manusia yg utuh
  • pengertian manusia
  • jelaskan manusia yang utuh
  • menjadi manusia yang utuh
  • menjadi manusia utuh

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • manusia utuh
  • pengertian manusia utuh
  • manusia yang utuh
  • manusia secara utuh
  • pengertian manusia secara utuh
  • manusia yg utuh
  • pengertian manusia
  • jelaskan manusia yang utuh
  • menjadi manusia yang utuh
  • menjadi manusia utuh