Arah regulasi pasar.

Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah Dalam pengertian utamanya istilah ini adalah konsep (model) teoretis dari sistem eko­nomi di mana alat-alat produksi (kapital) dimiliki secara publik atau secara kolektif, dan alokasi sumber dayanya mengikuti aturan pasar (pasar produk, tenaga kerja, dan kapital). Pada saat yang sama, istilah ini sering diaplikasikan secara lebih long­gar dengan mencakup proyek reformasi sistem ekonomi di negara “sosialisme riil” (negara komunis) yang meninggalkan sis­tem perencanaan terpusat (lihat NATIONAL ECONOMIC PLANNING) ke arah regulasi pasar (Yugoslavia setelah awal 1950-an, Hung­aria setelah 1968, Cina, Polandia, USSR, dan Bulgaria pada 1980-an). Tetapi karerii alasan ideologis, istilah “sosialisme pasar” dihindari di beberapa negara tersebut, dan lebih menggunakan rumusan “pasar sosi­alis” yang dianggap lebih dapat diterima oleh Marxis.

Ekonomi politik Marx.

Ekonomi politik Marx memandang bahwa sosialisme tidak kompatibel dengan pasar. Sosialisme memperbaiki pasar dan mengatasi kekurangannya dengan mem­buka sifat kerja sosial, mengaitkannya se­cara langsung ex ante dengan peran khusus dalam proses ekonomi melalui “tangan” perencanaan, yang menjamin penggunaan sumber daya secara penuh, terutama sum­ber daya manusia, yang bebas dari fluktu­asi siklis. Setelah revolusi Rusia (1917), setiap aplikasi mekanisme pasar disajikan dalam dokumen komunis hanya sebagai konsesi temporer untuk keterbelakangan (Pro­gramme of the Communist International, 1929, Bab 4). Namun pada saat yang sama saya demokratik sosial dari Marxisme mu­lai mengakui relevansi pasar dalam pereko­nomian sosialis (Kautsky, 1922). Debat teoretis tentang sosialisme pasar mendapat dimensi baru pada periode an­tarperang, terutama setelah F. A. Hayek memublikasikan kembali artikel L. von Mises yang pertama kali dipublikasikan pada 1920, yang menolak kemungkinan kalkulasi ekonomi rasional di dalam sosialisme, sebab relasi pertukaran intara ba­rang produksi dan harga hanya dapat di­lakukan berdasarkan kepemilikan privat. Di antara usaha untuk menolak pandang­an ini (Taylor, 1929; Dickinson, 1933; Landauer, 1931; Heimann, 1932), mung­kin yang paling terkenal adalah oleh Oskar Lange (1936-7). Ide serupa dikembangkan oleh Abba Lerner (1934, 1936, 1937), dan karenanya sering disebut “solusi Lange­Lerner”. Lange bukan hanya menolak validitas teoretis pandangan Mises (dengan meng­acu pada keterangan Baron (1908) tentang kemungkinan mengatasi persoalan itu me­lalui sistem persamaan simultan), tetapi juga berusaha menyajikan solusi positif. Solusi ini adalah prosedur “trial and er­ror” di mana dewan perencanaan pusat (CPB) melakukan fungsi pasar di mana tidak ada pasar dalam pengertian insti­tusional. Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah Dalam kapasitas ini CPB mene­tapkan harga, upah, dan suku bunga, me­nyeimbangkan penawaran dan permintaan (dengan melakukan perubahan jika terjadi ketidakseimbangan), dan memerintahkan manajer untuk mengikuti dua kaidah: (a) meminimaIkan biaya produksi rata-rata dengan rrienggunakan 1<ombinasi faktor­faktor yang akan menyetarakan produkti­vitas marginal dari unit uang; (b) menetap­kan skala output pada titik keseimbangan biaya marginal dan harga yang ditentukan oleh dewan. Kebanyakan penjelasan tentang debat pascaperang ini selanjutnya mengakui vali­ditas argumen teoretis yang dikemukakan Lange, dan mengatakan bahwa Hayek kembali ke posisi menegaskan kemusta­hilan praktis dari upaya rel<onsiliasi sosial­isme dengan kalkulasi ekonomi rasional. Ini mungkin benar jika seseorang mengi­kuti—seperti telah dilakukan Lange—tipe model ekuilibrium statis yang dikembang­kan oleh Walras (1954). Jadi, “solusi kompetitif” Lange menun­jukkan gagasan alternatif dan menunjuk­kan perlunya harga untuk alokasi rasioanl sumber daya di dalam sosialisme. Namun pada saat yang sama ia tidak bisa memberi basis teoretis yang memadai untuk peruba­han ketika reformasi berorientasi pasar di­letakkan dalam agenda praktis di negara “sosialisme riil”.

Legitimasi ideologis Stalin­isme. Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah

Usaha pertama untuk mengaplikasi­kan ide sosialisme pasar ini dilakukan pada awal 1950-an di Yugoslavia, setelah perpecahan Stalin-Tito. Partai Komunis Yugoslavia mencari efisiensi yang lebih be­sar dan legitimasi ideologis Stalin­isme. Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah Stalinisme menemukannya dalam swa-manajemen, dan karena unit ekonomi yang dikelola sendiri haruslah otonom, maka ini menyebabkan proses penggan­tian sistem komando dengan sistem koor­dinasi pasar, meski tidak dilaksanakan se­cara konsisten. Di negara blok Soviet motif utama dari reformasi adalah karena ketidakpuasan terhadap kinerja komando ekonomi ketika persoalan ini mulai didiskusikan setelah kematian Stalin. Di Polandia perubahan sistemik mulai dirancang pada 1956-7; ide yang sama di Hungaria muncul sebagai akibat dari penindasan gerakan rakyat pada 1956. Sejak itu, usaha panjang untuk refor­masi ekonomi—dengan berbagai variasi derajat konsistensi, tapi sama-sama meng­arah ke peningkatan peran pasar—terjadi di Eropa Timur: Cekoslowakia pada 1958 dan 1967-8; New Economic System di Republik Demokratik Jerman pada 1963; “reformasi Kosygin” di USSR dan Bul­garia; New Economic Mechanism ( N EM ) Hungaria diperkenalkan pada 1968; bc­berapa kali usaha reformasi di Polandia. Nanum, pada awal 1()80-311, dari seinua upaya ini hanya NEM di Ilungaria yang inasih berjalan; yang lainnya hanyalah modilikasi sekunder di dalam kerangka sistem komando. Di lain pihak, tendensi ke arah pasar terus bertahan, sebagai akibat tekanan dari memburuknya kinerja eko­nomi, yang mencapai krisis di banyak ne­gara komunis pada 1980-an. Pada 1978-9 Cina melakukan reformasi pula, dan dari 1985 “reformasi ekonomi radikal” men­jadi salah satu elemen fundamental dalam perestroika Gorbachev di USSR. Kesulitan dalam menjalankan refor­masi ke arah pasar ini disebabkanoleh (Brus, 1979): (a) resistensi politik dari elite penguasa; (b) kepentingan tersembunyi dari aparatus administratif dan beberapa kelompok pekerja, yang mungkin merasa terancam pekerjaannya; (c) rintangan sub­stantif untuk menciptakan mekanisme pa­sar di atas struktur perencanaan dan ma­najemen, dan dalam monopoli kekuasaan partai komunis. Sebagai akibatnya, negara yang menjalankan proses reformasi ( Yugo­slavia, Polandia, Hungaria) bukan hanya mengalami kesulitan ekonomi yang lebih buruk ketimbang negara (Cekoslowakia, Jerman Timur) yang masih menganut sis­tem lama (meskipun faktor nonsistemik harus diperhatikan), tetapi juga gagal un­tuk menyeberangi batas antara perekono­mian administratif dengan perekonomian koordinasi pasar. Penelitian NEM Hun­garia dalam hal ini menyimpulkan bahwa, meski ada penghapusan target output wajib dan alokasi barang produsen, efek keseluruhan dari reformasi pada 1980-an hanyalah perubahan dari “koordinasi bi­rokratis” langsung ke tak langsung (Kor­nai, 1986). Lebih jauh, re­formasi ekonomi ke orientasi pasar yang sukses amat dipengaruhi oleh transformasi mendasar dalam struktur kepemilikan (A b alkin, 1988). Salah satu faktor yang jela% memengaruhi pembahasan isu kepemilik an adalah pengalaman dari kesuks•san reformasi di luar sektor negara (lcoperal, usaha privat) di Hungaria, dan terutama kesuksesan spektakuler di program “tang­gung jawab produksi keluarga” di perta­nian Cina. Pengakuan akan kebutuhan perubahan struktur kepemilikan ini tercer­min pada akhir 1980-an dalam sejumlah tindakan di beberapa negara komunis. Di USSR ada legislasi tentang arenda (penye­waan) tanah, bangunan dan peralatan den­gan tujuan mempertahankan posisi negara sebagai freeholder, tetapi membuka jalan baru ke arah entrepreneurship bagi kelom­pok buruh, atau individu. Beberapa negara (Polandia, Hungaria) mengadopsi prinsip ekonomi campuran, dengan perusahaan negara, koperasi, dan perusahaan swasta (tanpa batasan ukuran dan pekerjaan) di­harapkanbersaing secara sederajat. Perkembangan 1«miseptual dan praktk ini menimbulkan persoalan hubungan an­tara transformasi ekonomi dan politil<. 1)i satu sisi, marketisasi yang membutuhkan lebih hanyak kebebasan berusaha, terti­tama ketika dibarengi dengan perubahan kepemilikan, akan menimbulkan aspirasi politik rakyat, yang merasa tidak Iagi tertekan oleh negara. Di sisi lain, mengingat ada resistensi dari elite penguasa dan pendukung mereka, pluralisme politik ineu jacli instrumen penting bagi pelaksanaan transisi dari sistem ekonomi lama ke yang baru, dan sebagai penjaga eksistensi sistem ekonomi baru tersebut. Penyangkalan atas hubtingan ini yang didasarkan pada contoh ekonomi pasar yang sukses dengan rezim politik otoriter (seperti di “negara industri baru” Asia), ditentang oleh para pembaru di negara-negara komunis karena penyangkalan itu muncul dari ketidakta­huan atas sifat sesungguhnya dari problem yang mereka hadapi.

Pencarian sosialisme pasar. Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah

Pencarian sosialisme pasar—pasar ka­pital dan tenaga kerja, restrukturisasi ke­pemilikan, pluralisme politik—mungkin dianggap mengaburkan perbedaan antara kapitalisme dengan sosialisme, dan kare­nanya gagasan ini menolak bahwa sosia­lisme adalah penerus kapitalisme (Brus dan Laski, 1989). Ini bukan berarti sama dengan meninggalkan sasaran kebijakan sosialis dasar—full employment, kesama­an kesempatan, perawatan sosial—dan intervensi pemerintah sebagai metode un­tuk mencapainya. Tetapi, yang tersirat di sini adalah tidak lagi menggunakan kon­sep sosialisme sebagai desain utama un­tuk menggantikan kerangka institusional lama; dengan kata lain, meninggalkan filsafat revolusioner dan beralih ke konti­nuitas perubahan. Pengertian market socialism (sosialisme pasar) adalah Dari sudut pandang ini, sosialisme pasar yang menjadi tujuan dari transformasi negara “sosialisme riil” dapat dikatakan memiliki ciri yang sama dengan sosialisme pasar seperti yang dibayang­kan oleh beberapa partai demokrasi so­sial Barat (lihat juga SOCIAL DEMOCRACY), termasuk Partai Buruh Inggris (Fabian Society, 1986 dan lihat FABIANISM); namun persamaan ini bersifat sementara, dan ada perbedaan dalam posisi awal dan dalam kondisi perjuangan untuk mencapai tujuan yang diidamkan, serta terdapat pula perbe­daan ideologisnya.