Partai sosialis.

Pengertian marxism (marxisme) adalah Teori sosial dan doktrin politik yang berasal dari karya Karl Marx dan rekannya, Friedrich Engcls. Setelah Marx meninggal, Marxisme baru berkembang sebagai “pandangan dunia” yang lwmprehensif dan sebagai doktrin politik dari hanyak partai sosialis, yang olch Engcls yang menjelaskan “pandangan dunia Marxis” sebagai pan­dangan kelas pekerja, menyamakan peran­nya dengan peran filsafat Jerman klasik dalam hubungannya dengan borjuis (En­gels, 1888), meskipun pada saat yang sama dia menekankan karakter ilmiahnya. Me­lalui tulisan dan korespondensinya, Engels sangat memengaruhi generasi pertama pe­mikir Marxis, dan menjelang akhir abad ke-19 Marxisme sudah mapan, terutama di luar institusi akademis, sebagai teori so­sial dan doktrin politik, yang diasimilasi­kan ke dalam sistem filsafat umum.

Proses kehidupan sosial.

Dalam teori sosial ada tiga unsur yang dapat dibedakan. Pertama, analisis terha­dap tipe masyarakat manusia utama dan suksesi historisnya, di mana yang diutama­kan adalah struktur ekonomi atau “mode produksi” sebagai penentu seluruh kehi­dupan sosial: “mode produksi kehidupan material menentukan karakter umum dari proses kehidupan sosial, politik, dan spi­ritual” (Marx, 1859, Kata Pengantar). Mode produksi itu sendiri didefinisikan dalam term dua faktor: kekuatan produksi (teknologi yang tersedia) dan relasi pro­duksi (cara produksi diorganisasikan, dan terutama sifat dari kelompok yang me­miliki alat produksi atau sekadar mem­berikan kontribusi tenaga kerjanya untul< proses produksi). Dari analisis ini muncul dua ide dasar teori Marxis: periodisasi se­jarah, yang dibayangkan sebagai gerakan progresif melalui model produksi kuno, asiatil<, feodal, kapitalis modern, dan kon­sep peran kelas sosial dalam membangun dan mengubah struktur sosial. Elemen kedua adalah skema yang menjelaskan perubahan dari satu tipe ma­syarakat ke tipe lain, di mana ada dua proses penting di dalamnya. Dari satu as­pek, perubahan dilahirkan oleh kemajuan teknologi, dan Marx sendiri menekankan hal ini ketika dia menulis (1847, Bab 2, Bagian 1) bahwa “penggilingan dengan ta­ngan adalah ciri masyarakat feodal, peng­gilingan dengan mesin uap adalah ciri ma­syarakat kapitalis industri,” atau dalam Grundrisse (1857-8, h. 592-4) di mana dia mendiskusikan konsekuensi dari kemajuan sains dan teknologi terhadap masa depan kapitalisme. Tetapi dari aspek lain, trans­formasi sosial adalah akibat dari perjuan­gan kelas yang sadar; tetapi dua proses itu saling berkaitan erat, sebab perkembangan kekuatan produksi terkait dengan perkem­bangan kelas baru, dan kelas dominan yang ada akan menghalangi perkembang­an selanjutnya. Pengertian marxism (marxisme) adalah Elemen ketiga adalah analisis kapital­isme modern, yang menjadi perhatian uta­ma Marx dan Marxis selanjutnya. Kapital­isme dibayangkan sebagai bentuk final dari masyarakat kelas, di mana konflik antara kelas borjuis dan proletar semakin sengit seiring dengan kontradiksi ekonomi dalam kapitalisme, yang menghasilkan 1<risis, dan proses SostAuzATIoN oF THE EcoNomY diper­cepat oleh perkembangan kartel dan trust. Analisis ini, dan pertumbuhan partai sosi­alis massa, akan menyebabkan terjadinya transisi 1<e arah sosialisme, dan melahirkan penjelasan tentang dol<trin politik Marxis yang akan membantu mengintegrasikan dan memandu gerakan kelas pekerja. Tetapi, sejal< tahap awal ada beragam interpretasi legasi Marxis dan ada perbe­daan pendapat tentang perkembangannya. Di jerman, yang kebanyakan dipengaruhi Karl Kautsky, Marxisme dianggap sebagai teori evolusi sosial ilmiah (afinitasnya de­ngan Darwinisme sangat dikedepankan) dan ciri deterministiknya dikonfirmasikan oleh perkembangan kapitalisme dan per­tumbuhan cepat gerakan sosialis. Di lain pihak, di Rusia, di mana kapitalisme baru mulai berkembang dan tidak ada gerakan sosialis massa, Marxisme adalah doktrin yang dikemukakan oleh sekelompok revo­lusioner, dan terutama oleh Plekhanov, sebagai sebuah pandangan filsafat, yang menjadi dasar bagi Lenin untuk mengem­bangkan ide “kesadaran sosialis” yang dimasukkan ke dalam 1<elas pel<erja oleh pihak luar; dan ini kemudian menjadi ele­men sentral dalam ideologi partai Bolshe­vik dan negara Soviet. Sampai dekade pertama abad ke-20, Marxisme juga menghadapi kritik, baik dari luar, dari tulisan, misalnya, Max Weber, Emile Durkheim, dan Benedetto Croce, maupun dari dalam, terutama dalam keterangan Bernstein (1899) tentang hasil dari usaha­nya untuk “menjelaskan di mana Marx benar dan di mana ia salah,” yang menye­babkannya mengkritisi beberapa aspek Marxis ortodoks, termasuk pandangan “kejatuhan ekonomi” yang mengakhiri kapitalisme, dan juga ide tentang menin­gkatnya polarisasi masyarakat antara borjuis dan proletar. Dalam tulisan selan­jutnya dia menyatakan bahwa gerakan sosialis membutuhkan doktrin etika dan teori sosial (lihat RuvisioNtsm).

Studi per­kembangan kapitalisme. Pengertian marxism (marxisme) adalah

Di antara Marxis yang merespons kri­tik terhadap Marxisme sebagai ilmu sosial, dan merespons konsep baru dalam filsafat dan ekonomi, yang paling berpengaruh adalah Austro-Marxis, yang menjelas­kan prinsip-prinsip sosiologi Marxis dan melakukan riset inovatif yang mencakup studi nasionalisme, hukum, dan studi per­kembangan kapitalisme dalam tahap im­perialis (lihat AusTRo-MARxtsm). Namun, Lenin dan kubu Bolshevik, dengan perke­cualian Bukharin (1921), tidak banyak memerhatikan teori sosial alternatif, dan merespons kritik Bernstein dengan me­nyamakan revisionisme dengan REFORMISM dan pengabaian tujuan revolusioner. Versi Marxisme mereka dikonsentrasikan pada penciptaan partai revolusioner yang berdi­siplin yang akan mampu memimpin kelas pekerja dan sekutunya (terutama, dalam kasus Rusia, kaum petani) untuk merebut kekuasaan. Kesulitan teori Marxis lain muncul se­bagai akibat dari problem praktis dalam membangun masyarakat sosialis di Rusia pascarevolusi, terutama di negara agrari­an, yang dilanda peperangan, perang sipil, dan intervensi asing. Kebanyakan Marxis awal, seperti Marx sendiri, tidak banyak membahas persoalan bagaimana ekonomi sosialis dan bentuk institusi politik dan so­sial yang baru akan ditata. Mereka hanya mengemukakan deskripsi umum seperti “mode produksi bersatu,” atau “masya­rakat produsen yang bersatu”; meskipun Kautsky (1902) dan Austro-Marxis men­diskusikan beberapa isu ini secara lebih luas. Di Uni Soviet, kesulitan perkemba­ngan sosialis diperparah oleh kebutuhan mendesak untuk memulihkan perekono­mian dan mempromosikan industrialisasi yang lebih cepat, dan hal ini menjadi aspek penting dari debat sengit pada 1920-an mengenai soal kebijakan “periode transi­si”; debat yang akhirnya diakhiri oleh ke­diktatoran Stalin dan industrialisasi dan kolektivisasi pertanian secara paksa. Marxis Barat pada periode antarpe­rang harus menghadapi serangkaian pro­blem: kegagalan gerakan revolusioner di negara kapitalis maju, kebangkitan fa­sisme, meningkatkan karakter totalitarian rezim Soviet, dan serangan kritis terhadap seluruh ide perencanaan ekonomi sosialis, yang dimulai oleh von Mises (1920, 1922) dan berlanjutnya kontroversi berkepan­jangan antara ekonom konservatif seperti Hayek (1935) dengan ekonom Marxisme, terutama Lange (Lange dan Taylor, 1938). Meski demikian pengaruh pemikiran Mar­xis, yang didominasi bentuk Leninis-Stali­nis, meningkat pada 1930-an, sehagian karena kontras antara perkembangan yang cepat dan berkelanjutan di perekonomian Soviet dengan 1<ondisi krisis ekonomi dan depresi di dunia kapitalis, dan sebagian ka­rena pengakuan Uni Soviet sebagai lawan utama bagi rezim fasis. Tetapi, di kalang­an Marxis sendiri kritik terhadap sosial­isme totalitarian terus berlanjut, dan juga muncul keraguan, yang diekspresikan oleh pemikiran mazhab Frankfurt, terhadap pe­ran politik revolusioner dari kelas pekerja di dalam masyarakat kapitalis. Tema-tema ini mas,ih mendominasi pe­mikiran Marxis setelah Perang Dunia II. Perluasan sistem Soviet ke Eropa Timur, yang diikuti dengan berbagai pemberon­takan terhadap rezim baru dari 1950-an sampai 1980-an, menghasilkan kritik terhadap apa yang dinamakan “sosial­isme riil” dan terhadap para pembelanya. Karenanya pengaruh Soviet pelan-pelan memudar. Secara bersamaan, variasi teori­teori dan doktrin-doktrin yang dikenal sebagai Marxisme Barat semakin berpe­ngaruh, termasuk memengaruhi gerakan pembangkang di Eropa Timur. Setelah Pe­rang Dunia II kapitalisme memasuki fase pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan, terutama di Eropa Barat, di bawah pengaruh gerakan sosialis yang ma­kin kuat, dengan munculnya kepemilikan publik, perencanaan ekonomi dan perkem­bangan dari “negara kesejahteraan”. Di Eropa Timur, gerakan pemberontakan, terutama di Hungaria pada 1956, Ceko­slowakia pada 1968, dan di Yugoslavia pada 1951 dalam gerakan pendirian sistem swa-manajemen buruh, tampaknya meng­arah pada pencapaian bentuk masyarakat sosialis demokratik di beberapa bagian Eropa. Mereka memberi kontribusi pada kebangkitan pemikiran Marxis, yang kini semakin menyebar, di negara Barat, bukan hanya dalam bidang sejarah, politik dan sosiologi, tetapi juga di bidang ekonomi, antropologi, filsafat, dan estetika. Pengertian marxism (marxisme) adalah Marxisme karenanya menjadi titik utama kon­troversi, yang melahirkan hubungan baru dengan arllti pinikiran sosial lainnya. Tetapi, kebangkitan ini juga mening­katkan diversitas 1«msep Marxis, yang juga dipengaruhi oleh tulisan Marx yang kurang terkenal, seperti Econornic and rbilosophical Manuscripts (1844) dan Grundrisse (1857-8). Mazhab Frankfurt, melalui tulisan-tulisan Theodor Adorno, Max Horkheimer dan Herbert Marcuse, amat berpengaruh sehagai kritik kultural terhadap masyarakat borjuis, yang diang­gap didominasi oleh “rasionalitas tekno­logi” dan oleh ilmu sosial yang berorienta­si positivis/ilmiah, bukan didominasi oleh kelas 1<apitalis. Sementara itu, Marxisme strukturalis dari Louis Althusser, yang se­bagian dibentuk oleh gerakan strukturalis yang lebih luas (lihat STRucTuRmism), men­egaskan pentingnya menganalisis struktur dalam diri masyarakat manusia, dan ter­utama mode produksinya, yang digambar­kan Marxisme sebagai “ilmu baru” tentang level praktil< sosial yang berbeda, yang darinya manusia sebagai subjek otonom yang aktif akan dieliminasi. Dalam arah lain, kelompok praxis (praksis) dari filsuf dan sosiolog Yugoslavia mengarahkan per­hatiannya pada problem alienasi di ma­syarakat kapitalis dan sosialis, dan pada perkembangan dan prospek sosialisme swa-kelola, dan tulisan mereka memenga­ruhi intelektual di Eropa Timur. ­

Pemikiran Marxis. Pengertian marxism (marxisme) adalah

Pemikiran Marxis pada periode ini ter­bagi bukan hanya antara Marxisme Barat dan Marxisme Soviet (dengan penyusupan singkat Maoisme sebagai doktrin -politik yang memikat beberapa mahasiswa radi­kal), tetapi juga antara dua konsep alter­natif yang dapat dikategorisasikan sebagai “humanis” dan “ilmiah” (Bottomore, 1988, Kata Pengantar). Marxis dalam kategori pertama lebih menekankan pada aspek humanis, demokratik atau eman­sipatoris dalam teori Marxis, dan pada kesadaran dan tindakan individu dan ke­lompok sosial, sedangkan dalam kategori kedua lebih menekankan pada karakter iliniahnya, dan pada skeina konseptual dan teori pengetahuan yang mendasarinya. Kcdua orientasi ini menyebabkan pemik ir­pemikir Marxis terlibat kontroversi lebih luas di semua bidang ilmu sosial, sejarah, dan filsafat, yakni debat tentang “struktur” dan “agen manusia” dalam kehidupan so­sial, tentang arti penting relatif dari faktor kultural (atau ideologi) dan faktor sosial dalam perkembangan masyarakat, dan tentang isu metodologi dasar; dan mereka memberi kontribusi penting bagi debat ini, Meskipun Marxisme masih menenipati posisi penting dalam pemikiran sosial, na mun makin berkurang pengaruhnya pada 1980-an dan menghadapi problem besat-, Pengertian marxism (marxisme) adalah Salah satunya adalah bagaimana menyall kan analisis yang meyakinkan tentang sta – bilitas dan pertumbuhan kapitalisme pasca perang, dan bagaimana menjelaskan sifat, atau kemungkinan, transisi menuju sosial – isme di negara industri maju, bagaimana menjelaskan penurunan politik kelas pe­kerja dan bangkitnya berbagai bentuk poli­tik nonkelas dalam SOCIAI, MOVEMENT jenis baru. Problem yang lebih besar lagi mun­cul akibat perubahan dalam negara-negara “sosialisme riil”, yang berpuncak pada akhir 1980-an dengan ambruknya rezint komunis di banyak negara Eropa Tintur dan akselerasi perubahan fundamental di Uni Soviet menuju ekonomi berori•n tasi pasar dan sistem politik multipartai. Karena banyak negara EropaTimur ke kapitalisme maka tampak bahwa t•ot sejarah Marxis, yang tak pernah inemba – yangkan transisi dari sosialisme kc kapital – isme, perlu direvisi secara drastis, dan tidak cukup dengan hanya mengatakan bahwa negara-negara itu tidak benar-benar sosi­alis. Yang dibutuhkan adalah analisis lehill fundamental terhadap perkembangan kap­italisme dan sosialisme di abad ke-20, dan reorientasi teori Marxis, jika climungkin­kan, dari analisis kebangkitan, perkemban­gan dan penurunan kapitalisme, ke analisis yang mengkaji kemunculan dan perkem­bangan sosialisme, dan analisis kontradiksi dan krisis yang mungkin imincul dalam pelekononman dan masyarakat sosialis. Tetapi, belum jelas apakah reorientasi ide ini akan diakomodasi dalam sekma pe­mikiran “Marxisme klasik”, atau apakah analisis itu akan menandai awal era “post­Marxis”. Tapi paling tidak tampak bahwa selama dekade terakhir ini Marxisme su­dah berkembang sedemikian rupa hingga karakternya tidak lagi tunggal, dan ada ke­mungkinan munculnya diversitas penjela­san dan interpretasi; dan dalam proses ini, perannya sebagai doktrin politik, yang ter­pisah dari sosialisme pada umumnya, se­makin melemah, sehingga di masa depan partai “Marxis” mungkin akan langka.