PENGERTIAN MAS KAWIN (BRIDEWEALTH) DAN HARTA BAWAAN (DOWRY) ADALAH – Dalam banyak masyarakat, pengalihan wanita dalam perkawinma diasosiasikan dengan pembayaran berbagal bentuk harta kepada kelompok kerabat pengantin wanita. Hal ilu sering dikatakan un tuk mengkompensasikan kepada kelompoknya kerugian pelayanan ekortomi dan produktifnya. Pembayaran demikian dikenal sebagai mas kawin (bride-wmith). Mas kawin lazim dalam masyarakat patrilineal dan kurang umum dalam masyarakat matrilineal, gancia, atau bilateral. Van den Berghe (1979) melaporkan bahwa 71 persen dari masyarakat patrilineal menggunakan mas kawin, dibandingkan dengan hanya 37 persen dari masyarakat matrilineal, dan 32 persen dari masyarakat keturiman ganda atau bilateral. Tidaklah sulit untuk mengetahui mengapa mas kawin itu jauh kurang dijumpai di kalangan masyarakatmatrilisleal, tentu saja, di sini pelayanan ekonomi dan aspek produktif wanita tidak hilang bagi kelompok kerabat mereka sendiri. Yang agak mengherankan ialah mengapa terdapat mas kawin dalam masyarakat matrilineal.

Yang langka adalah harta bawaan (dowry). Dalam sistem ini seorang wani.ta membawa serta hartanya ke dalam perkawinan. Meski harta bawaan itu mempunyai arti yang nampak berlawanan dengan mas kawin, tapi tidak demikian halnya. Harta bawaan mengandung makna bahwa seorang wanita menerima warisan lebih dini dari orang tuanya, dan ia dapat menggunakan warisan itu untuk melakukan perkawinan (yan den Berghe, 1979; Goody, 1976). Praktek ini hampir secara eksklusif terbatas pada masyarakat agraris yang kompleks, yang bercirikan stratifikasi sosial yang intensif. Fungsinya adalah untuk memungkinkan seorang wanita memperoleh suami yang status\nya sama atau lebib tinggi (yan den Berghe, 1979); jadi berfungsi untuk memelihara kedudukan sosial dan ekonomi keluarga wanita selurulmya. Kaum elit Afrika menggunakan mas kawin untuk membentuk dan mengkonsolidasi aliansi. Sebagai pemberi istri, mereka menerima harta dari, bukannya memberi kepada, pria menantu. Dan mereka membayar untuk setiap istri dari anak mereka. Sistem ini didasarkan pada derajat persamaan yang lebih besar di antara kedua jenis kelamin itu bila dibandingkan dengan sistem harta bawaan. Harta bawaan tidak dapat dipahami kecuali sebagai suatu usaha untuk mengkompensasi para suami atas tanggung jawab untuk mendukung katim wanita yang potensi produktif dan reproduktifnya kurang dihormati. Harta bawaan, dengan kata lain, adalah suatu gejala adanya tekanan reproduksi; sementara mas kawin adalah suatu gejala kemampuan infrastruktur untuk menyerap lebill banyak tenaga kerja. Schlegel dan Eloul mencapai kesimpulan yang sama berdasarkan studimereka yang luas mengenai mas kawin dan harta bawaan (1988:301): Kami usulkan bahwa mas kawin paling cenderung terjadi dalam masyarakat penghasil bahan makanan di mana nilai ekonomi kaum wanita tinggi, secara langsung, melalui tenaga kerja mereka atau, secara tidak langsung, melalui reproduksi anak. Di mana terdapat tempat tinggal patrilokal, biasanya  demikian, mas kawin berfungsi untuk mengeciarkan kaum wanita sehingga ticlak ada rumah tangga yang berakhir dengan lebih sedikit wanita bila dibandingkan dengan yang dihasilkan, sehingga menjamin bahwa investasi ekonomi yang dilakukan oleh para ibu dan ayah pada anak-anak wanita mereka tidak akan hilang tapi terlunasi melalui menantu wanita. Dampak atas rumah tangga dari harta bawaan sangat berbeda, yakni memusatkan mereka bukannya mengedarkan…. Kaum wanita membawa serta harta mereka ke dalam perkawinan. Dengan berbuat demikian, mereka memenuhi tuntutan kebutuhan ekonomi dalam rumah tangga baru mereka, sementara tenaga kerja wanita tidak mempunyai nilai yang sama tinggi seperti dalam masyarakat di mana terdapat mas kawin, dengan harta yang mereka bawa masuk. Akibatnya ialah bahwa apabila terdapat tempat tinggal patri-lokal, tuntutan kaum wanita akan rumah tinggal, pada dasarnya, “terpenuhr oleh harta bawaan yang disumbangkannya.

Eksistensi mas kawin dan harta bawaan menunjukkan bahwa perkawinan cukup sering memperlihatkan adanya perhatian yang lebih besar dari kelompok-kelompok kerabat keseluruhan. (Banyak aspek sistem perkawinan manusia lairmya, seperti eksogami, juga menunjukkan hal yang sama). Distribusi spatial dan sosial dari sistem mas kawin dan sistem harta bawaan juga mengungkapkan bahwa, seperti sekian banyak ciri perilaku sosial manusia lainnya, praktek-praktek perkawinan adalah sangat responsif terhadap kondisi-kondisi material yang melandasinya.

Filed under : Bikers Pintar,