PENGERTIAN MASA DEPAN AGAMA ADALAH

75 views

PENGERTIAN MASA DEPAN AGAMA ADALAH – Dengan menerima adanya kecenderungan sekulerisasi abad-abad maka apa sesungguhnya yang dapat dikemukakan yang menyangkut masa depan agama? Apakah sekulerisasi itu akan terus berlangsung dan menjadi intensif, sampai kepada titik di mana agama pada akhirnya lenyap sama sekali dari kehidupan sosial-budaya? Atau apakab akan masih tertinggal >Ilti keper-cayaan dan kegiatan keaganman yang fundamental, tanpa peduli betapapun sofistikasinya masyarakat manusia itu secara ilmiah dan teknologis? Para iimuwan sosial sangat terbagi-bagi dalam memberi jawaban-jawaban mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Banyak yang percaya bahwa ilmu dan teknologi modern pada aldiimya akan menghancurkan agama sebagai suatu lembaga sosial. Yang lainnya bertahanbahwa, meskipun arti pentingnya dapat saja seianjutnya berkurang, agama akan tetap sebagai ciri yang lestari dan permanen daripada sistem-sistem sosial-budaya. Anthony Wallace menerima pandangan pertama, dengan menegaskan bahwa (1966:264-265): Suatu pandangan yang bertentangan dikemukakan oleh J. Milton Yinger.

Apakah tidak ada inti pada fungsi-fungsi yang cenderung menjadi suatu sumber kegiatan agama yang terus-menerus? Atau apakah ilmu, filsafat, seni, pemerintah, kedokteran, dan sernacam itu yang berlaku tidak adil pada agama sedemikian mantapnya sehingga agama telah menjadi suatu “lembaga bunuh diri”, seperti yang dikatakan oleh Dunlap? Saya sendiri merasa sulit untuk memandang suatu masyarakat di mana masalah-masalah besar mengenai berbagai pokok yang telah kita bahas tetap tak terselesaikan. Kita mengurangi jumlah kematian prematur hanya untuk menemukan tragedi-tragedi ketuaan. Kita menaklukkan kemiskinan hanya untuk menyadari bahwa pengetahuan di balik pencapaian itu adalah bagian dari suatu pengetahuan yang lebih besar yang membawa bom hidrogen. Saya curiga bahwa kepercayaan manusia dapat merancang proses-proses sekuler untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang d ilakukan oleh a ga ma itu sendiri adalah suatu “benteng harapan”, dan bukan suatu proposisi yang diyaliditaskan secara empiris.

Bukti yang kita miliki akan mendorong saya kepada pandangan bahwa agama sebagaimana yang saya nunuskan adalah suatu aspek permanen masyarakat manusia, yang tidak lagi mungkin menghilang dibandingkan dengan keluarga (betapa banyak perubahan) atau pemerintah (meskipun, terdapat perubahan-perubahan besar).

Skenario Wallace banyak memberi rekomendasi ilmu telah meluntur-kan kepercayaan agama, dan kita ketabui bahwa apabila orang memperoleh pandangan intelektual yang sangat berkembang (khususnya pandangan ihniah) maka kepercayaan agama mereka cenderung untuk merosot (Glock dan Stark, 1965). Karena itu, jika masyarakat masa datang dirembesi oleh pengaruh massal bentuk-bentuk pengajaran yang maju (dan agaknya beralasan tmtuk berharap bahwa memang akan demikian), maka agama dapat runtuh atau akan sangat berkurang artinya. Di pihak lain, skenario Yinger juga mempunyai daya tarik. Yang paling akhir dari pertanyaan akhir ialah yang menyangkut keterbatasan manusia — yakni kenyataan bahwa manusia mati. Semua kebudayaan di mana saja telah memperlihatkan perhatian terhadap persoalan ini. ‘manusia tidak pernah mau menerima keterbatasan mereka sendiri dan telah berulang kali menciptakan konsepsi-konsepsi tentang suatu kehidupan akhi_ rat agar dapat memungkiri bahwa segala sesuatu harus berakhir. Agama adalah satu-satunya alat yang dilembagakan dengan mana makhluk manusia mencoba mengatasi persoalan keterbatasan ini. Persoalan ini sama sekali berada di luar batas-batas ilmu; bagaimanapun berhasilnya ilmu itu dalam menjelaskan dan mengendalikan dunia empiris, tapi ilmu tidak berkuasa dalamberhadapan dengan stitu masalah non-empiris seperti keterbatasan ini. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, ada alasan yang baik untuk percaya bahwa ada semacam inti kepercayaan dan ritual agama yang essensial yang akan terus berlanjut tak terhingga. Meskipun ruang lingkup pengaruh agama jelas semakin berkurang di masa datang, tapi tidaklah bijaksana untuk memperkirakan bahwa pengaruhnya akan hilang sama sekali.

1. Ada dua tipe definisi yang berbeda secara fundamental tentang agama yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan sosial. Definisi-definisi inklusif menekankan bahwa agama adalah suatu sistem kepercayaan dan praktek-praktek yang diorganisasi sekitar hal-hal yang dikatakan suci, atau yang diorientasikan kepada kekhawatiran akhir manusia. Definisi-definisi eksklusif lebih terbatas dan membatasi pengertian agama pada kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang mempostulatkan kekuatan-kekuatan supernatural yang berlaku dalam dunia ini. Buku ini condong kepada definisi eksklusif.

2.Agama adalah suatu fenomenon evolusioner dalambanyak pengertian yang sama seperti komponen-komponen masyarakat manusia yang lainnya. Robert Bellah mengemukakan bahwa agama telah berkembang melalui lima tahap dasar; primitif, kuno, historis, awal modern, dan rnodern. Suatu skema alternatif evolusi agama telah dikemukakan oleh Anthony Wallace, yang membedakan empat tahap: shamanik, komunal, Olympian, dan agama-agama monoteistik.

3. Studi-studi empiris menunj ukkan adanya kesesuaian yang erat antara evo-lusi agama dan evolusi ekonomi-politik. Suatu studi oleh Swanson menunjukkan bahwa agama-agama pada umumnya mengembangkan sanksi-sanksi supernatural bagi moralitas apabila masyarakat-masyarakat menjadi terstratifikasi. Underhill menemukan bahwa kepercayaan pada dewa tertinggi pada umurnnya berkaitan dengan kompleksitas ekonomi dan politik.

4. Dalam menyebut agama sebagai “opium masyarakat”, Marx berpendapat bahwa agama ber fungsi sebagai suatu cara meredakan penderitaan yang dihasilkan oleh eksploitasi dan penindasan. Ia juga berpendapat bahwa agama secara mendalam adalah suatu kekuatan yang konservatif secara politis. Max Weber mengemukakan pandangan yang serupa. Ia mencatat bahwa agama berfungsibagi kelompok-kelompok yang mempunyai hak-hak istimewa sebagai suatu pengabsahan sosial, sementara bagi kelompok-kelompok yang tidak mempunyai hak-hak istimewa (disprivilcged) agama berfungsi sebagai suatu alat untuk mengkompensasikan ketidaksepadanan situasi mereka. Banyak bukti historis rnaupun sosiotogis yang mendukung penegasan dasar dari Marx dan Weber.

5. Namun, dalam banyak hal tesis candu rnasyarakat dari Marx setengah saja yang benar. Agama kadang-kadang merupakan suatu kekuatan radikal, bukannya konservatif. Hal ini jelas diperlihatkan oleh adanya gerakan-gerakan revitalisasi atau milenarian di seluruh dunia dan sepanjang sejarah manusia. Gerakan-gerakan itu adalah gerakan-gerakan sosial radikal yang mengkombinasikan tema-tema religius dan politik dalam suatu upaya untuk mengubah dunia menurut cara yang fundamental. Meskipun banyak gerakan revitalisasi menunj ukkan adanya suatu keterbatasan terhadap pandangan Marx itu, tapi dalam pengertian lain gerakan-gerakan itu mendukungnya karena gerakan-gerakan itu membenarkan pengertian Marx bahwa agama adalah “jantungnya dimia yang tak berbelas-kasih”.

6. Gerakan-gerakan revitalisasi pada umumnya berespons terhadap berbagai tipe ketegangan dan krisis sosial, misalnya yang berasal dari eksploitasi dan penindasan yang ekstrim, peperangan, atau hancurnya kebudayaan pribumi oleh adanya penyerbuan asing. Barangkali gerakan revitalisasi historis yang paling terkenal ialah kekristenan primitif, yang tumbuh dari mesianisme militeristik Yahudi. Kekristenan merupakan salah satu dari beberapa gerakan revitalisasi yang berhasil. Gerakan-gerakan revitalisasi juga terjadi di seluruh Eropa pada akhir Abad Pertengahan, di Melanesia, dan pada akhir abad xix di kalangan berbagai suku Indian Amerika Utara. Suatu gerakan revitalisasi kontemporer yang terkenal ialah People’s Temple yang dipimpin oleh Pendeta Jim Jones.

7. Bentuk-bentuk organisasi agama modern pada dasarnya diawali dengan munculnya Reformasi Protestan abad xvi. Ini adalah suatu transformasi agama yang besar yang menentang wewenang Gereja Katolik dan doktrinnya tentang keselamatan. Secara historis transformasi ini sesuai dengan bermulanya ekonomi-dunia kapitalis, dan mungkin Protestantisme adalah suatu rnanifestasi keagamaan daripada perubahan ekonomi yang besar ini.

8. Ada berbagai tipe organisasi religius dalam masyarakat industri modern. Yinger mengidentifikasi lima tipe dasar kelompok agama: eklesias, denominasi, sekte yang telah ditetapkan (established sects), sekte, dan pemujaan (cidts). Tipe-tipe organisasi religius ini sangat sesuai dengan kelompok-kelompok sosial seperti kelas, kelompok ras dan etnik, dan pengelompokan-pengelompokan regional. Ini menunjukkan sifat adaptif agama terhadap berbagai kebutuhan manusia.

9. Dalam abad terakhir peningkatan rasionalisasi ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, dan kemajuan ilmu telah menyebabkan meluasnya sekulerisasi masyarakat-masyarakat industri modern. Akan tetapi, sejauh mana sekulerisasi itu akan meluas masih merupakan suatu pertanyaan yang terbuka. Beberapa ilmuwan sosial menandaskan bahwa revolusi masa depan agama adalah kehilangan, sementara sebagian percaya bahwa, karena agama berfungsi sebagai suatu lembaga ” residual”, ada semacarn inti minimal kepercayaan dan praktek keagarnaan yang cenderung untuk bertahan secara tidak terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *