PENGERTIAN MASA DEPAN STRATIFIKASI SOSIAL

25 views

PENGERTIAN MASA DEPAN STRATIFIKASI SOSIAL – Bentuk-bentuk dan derajat stratifikasi sejak masyarakat hortikultura intensif sampai masyarakat masa kini. Di samping beberapa perbedaan penting, apa yang ada dalam sistem-sistem ini adalah konflik sosial terstruktur: persaingan antar kelompokuntuk menguasai sumber daya yang bernilai, khususnya kekayaan dan kekuasaan. Sebenarnya, sangat bisa dipahami apabila konflik terstruktur dipandang sebagai penyebab dasar danjuga hasil utama dari semua sistem sosial yang terstratifikasi, apakah ia sistem hortikultural Afrika, tatanan feodal agraris, atau sistem kelas kapitalis dan sosialis industri.

Berdasarkan kegagalan sosialisme negara dalam menghilangkan stratifikasi kelas dengan kolektivisasi kekuatan-kekuatan produksinya, kita mengajukan pertanyaan penting tentang apakah suatu masyarakat masa depan dengan tingkat stratifikasi rendah dapat diciptakan. Banyak para sosiolog, khususnya penganut Marxisme, percaya bahwa hal itu dapat dilaksanakan dan rasional untuk masa depan. Para penganut Marxisme ortodok percaya bahwa konflik terstruktur dalam masyarakat masa depan dapat dieliminasi, begitu pula dengan stratifikasinya. Altematif terhadap pendekatanMarxisme adalah pendekatanWeberian. Walaupun keduanya adalah teori konflik, namun tidak seperti Marxis, Weber pesimis tentang masyarakat modem masa depan. Ia melihat kecil kemungkinan terjadinya masyarakat tanpa kelas. Bentuk dominasi lama akan menghilang untuk memberi jalan bagi munculnya bentuk-bentuk baru. Frank Parkin (1979), seorang sosiolog Weberian kontemporer, berpendapat bahwa sistem stratifikasi menampilkan bentuk “ketegangan permanen”. Ia tidak bermaksud menyatakan bahwa struktur stratifikasi yang sama akan terjadi selamanya, tetapi ketegangan sosial dan persaingan memperebutkan sumber-sumber daya yang makin langka adalah dasar, bahkan kemungkinan tidak dapat dihilangkan, dari kehidupan manusia. Adalah sulit untuk menjatuhkan pilihan mutlak atas berbagai pandangan yang bersaing ini, karena masing-masing mempunyai kelemahan dan kekuatan. Di satu pihak, pandangan Marxisme lebih tampak sebagai pengungkapan keyakinan daripada suatu penjelasan ilmiah. Dibandingkan dengannya, pandangan Weberian tamp aknya lebih realistis dalam memandang kehidupan manusia. Sebaliknya, sejarah masyarakat sosialis negara memperlihatkan pengurangan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi adalah memungkinkan. lebih cenderung pada posisi Weberian, fakta ini setidaknya menyanggah bahwa pandangan ini terlalu pesimistik.

1. Walaupun masyarakat industrial modern di satu pihak mempunyai tingkat stratifikasi lebih rendah daripada masyarakat agraris, perlu berhati -hati dalam menilai kecenderungan evolusi stratifikasi. Dalam sistem-dunia secara keseluruhan, tingkat stratifikasi telah meningkat, tidak menurun. Masyarakat industri modern tetap mem-punyai karakteristik stratifikasi yang ekstrem.

2. Pendapatan sangat terdistribusi tidak merata dalam masyarakat kapitalis industri, dan tidak terdapat perubahan yang besar terhadap pola distribusi ini selama abad 20. Kekayaan lebih tidak terdistribusi merata daripada pendapatan. Di Amerika Serikat, misalnya, setengah atau lebih saham-saham perusahaan, surat-surat berharga, dan obligasi dikuasai oleh hanya 0,5% dari seluruh penduduk.

3. Para sosiolog tidak pernah mencapai kata sepakat tentang pengertian kelas sosial dan bagaimana bentuk struktur kelas masyarakat kapitalis modem. Para sosiolog tradisional mendefinisikan kelas dalam kaitannya dengan pekerjaan dan umumnya mengidentifikasikannya dengan kelas atas, kelas menengah atas, kelas menengah bawah, kelas pekerja, dan kelas bawah. Sosiolog Marxian mengkonseptualisasikan kelas dalam kaitannya dengan hubungan pemilikan modal dan wewenang dalam pekerjaan. Sosiolog Marxian Erik Wright mengidentifikasikan enam kelas dasar dalam kapitalisme modern: para borjuis, proletariat, petty borjuis, menejer dan supervisor, pegawai kecil, dan pegawai semi otonom. Baik pendekatan tradisional maupun Marxian keduanya memiliki kekuatan dan kelemahan.

4. Mobilitas terjadi dalam masyarakat kapitalis modern, walaupun tingkat mobilitasnya terlalu dibesar-besarkan. Umumnya perubahan posisi kelas terjadi dalam jarak pendek, dan gerakan dari tingkat terbawah ke tingkat teratas dalam struktur kelas sangat jarang terjadi. Kebanyakan mobilitas dalam kapitalisme industri disebabkan perubahan teknologi dan pekerjaan.

5. Masyarakat sosialis negara terstratifikasi dalam beberapa kelompok dengan perbedaan tingkat penguasaan atas berbagai sumber daya ekonomi. Keanggotaan dalam sebuah partai dan ijazah pendidikan adalah kunci kesuksesan ekonomi dan sosial. Kelas-kelas dasarnya adalah kelas intelektual kantoran, pekerja terampil manual, pekerja kantoran rendahan, dan pekerja tidak terampil. Birokrasi partai, eselon tertinggi dalam kelas intelektual kantoran, merupakan kelas penguasa; kelas penguasa ini tidak dapat dibandingkan langsung dengan kelas borjuis kapitalis.

6. Masyarakat negara kapitalis dan sosialis adalah sama dalam pembagian tenaga kerja mereka, pekerjaan yang mereka lakukan, dan perhatian mereka terhadap pencapaian prestasi individu. Perbedaan utama sistem stratifikasi antara kedua masyarakat ini adalah (a) tingkat perbedaan pendapatan lebih rendah dalam masyarakat sosialis; (b) pekerja kantoran rendahan dianggap lebih rendah dalam masyarakat sosialis; (c) kelas dominan dalam masyarakat sosialis lebih miskin dan tidak turun temurun; (d) masyarakat sosialis negara mempunyai tingkat perbedaan kultural yang lebih rendah dan angka mobilitas sosial lebih tinggi; (e) stratifikasi masyarakat sosialis negara lebih disebabkan oleh keputusan politik daripada pemilikan modal pribadi dan kekuatan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *