Budaya luhur.

Pengertian mass culture (budaya massa) adalah “Budaya massa” adalah istilah yang dipakai, biasa­nya secara peyoratif, untuk mengidentifi­kasi kultur MASS SOC1ETY atau, yang lebih umum, massa populasi dalam masyarakat modern. Budaya massa juga dikarakteris­tikkan demikian bukan hanya karena ia adalah budaya dari massa atau karena bu­daya itu diproduksi untuk konsumsi massa, tetapi juga karena budaya massa dianggap kekurangan reflektivitas dan kecanggihan sebagaimana yang ada dalam “budaya luhur” dalam elite sosial, kultural, dan edukasional, dan tidak memiliki kejelasan dan kesederhanaan seperti halnya budaya rakyat dalam masyarakat tradisional.

Kritik budaya massa. Pengertian mass culture (budaya massa) adalah

Walaupun pada awalnya merupakan reaksi elitis terhadap konsekuensi I.Illt ti ral, entah itu riil atau imajiner, dari demokratisasi politik dan ar:ikasi teknologi ke reproduksi dan difusi produk kultural, pesimisme dari kritik budaya massa ter­cermin dalam karya kritikus masyarakat konsumen kapitalis dari kalangan aliran kiri, dan yang terkenal adalah FRANK✓URT SCHOOL. Ada versi elitis dan demokratis dari kritik budaya massa ini, meskipun elemen dari keduanya terkadang ada yang sama. Di mata kritikus elitis, keburukkan media massa adalah karena budaya ini hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan perasaan dangkal dan di­maksudkan agar mudah diakses banyak orang. Dengan demikian, budaya massa adalah budaya dangkal dan sentimental: jadi seorang kontributor untuk New York Revietv mendeskripsikan musik pop seba­gai ekspresi “pikiran terdalam dari orang yang paling bodoh.” Kritik demokratis ter­hadap budaya massa mempertentangkan­nya dengan budaya populer otonom dan menekankan pada sejauh mana produksi dan distribusinya berada di tangan elite kapitalis. Pandangan mengenai seniman sebagai kreator budaya adalah tema yang selalu muncul. Matthew Arnold menyebut artis atau seniman sebagai “makhluk asing” (alien), dan pandangan ini digemakan dalam konsep Karl Mannheim tentang cendekiawan penghasil budaya sebagai strata yang relatif bebas dari kelas ma­syarakat modern. Dari perspektif ini, bu­daya massa merepresentasikan ancaman di mana komersialisasi atas segala aspek kehidupan modern akan mengintegrasikan cendekiawan terlalu erat dengan kehidup­an ekonomi masyarakat. T. S. Eliot secara eksplisit menolak diag­nosis Mannheim ini. Kritik budaya massa oleh Eliot, yang kerap disebut aristokratis atau elitis, atau bahkan Nietzschean, lebih tepat disebut sebagai kritik konservatif. El­iot percaya bahwa jaminan terbaik untuk menolak pendangkalan dan homogenisas. Yang sering disejajarkan dengan Eliot adalah h. lt. Leavis. Tetapi, kritik Lewis lebih demokratis, meski ia sepaham deng­an Eliot tentang ancaman pendangkalan standar dan selera artistik, dan menya­lahkan perkembangan produksi budaya mekanis, entah itu dalam bentuk sinema, gramofon, atau fiksi kacangan. Pengertian mass culture (budaya massa) adalah Leavis me­ngeluhkan hilangnya “budaya bersama” yang mulai hancur akibat kedatangan mesin dan dipercepat oleh perkembangan mobil yang cenderung mencabut individu dari akar keluarga dan komunitasnya karena mereka bisa lebih sering bergerak. 1)i jantung kritik Leavis terdapat mitos romantik masyarakat pra-industri sebagai sebuah komunitas organik riil yang bebas dari konflik antara kapital dan buruh. Pro­duksi massal modern, sebaliknya, men­standarisasikan pengalaman emosi buruh dan produk fisiknya. Akibatnya adalah pemiskinan spiritual massa dan industri hiburan dipakai sebagai pelarian. Pengertian mass culture (budaya massa) adalah Meski Leavis memuji kritikus sastra, dia sendiri bukan elitis. Berbeda dengan Eliot, Leavis percaya bahwa ancaman riil terhadap vitalitas kultural berasal dari alienasi pemikir kreatif dari kultur ber­sama. Publikasi massal, klub buku, koran, dan media massa pada umumnya telah melemahkan hubungan organik antara elite kreatif dan pembaca umum. Ancaman budaya massa bukanlah ancaman dari bawah, dalam bentuk erosi kelas, tetapi dari atas, dalam bentuk media massa kapi­talis yang berorientasi profit. Tema yang sarna dijumpai dalam karya sosiolog C. Wright Mills. Mills ber­pendapat hahwa, di masyarakat Amerika pada 1950-an, peningkatan spesialisasi fungsi dan amhruknya pluralisme telah melahirkan masyarakat massa di mana kekuasaan semakin terkonsentrasi dan kultur menjadi sasaran manipulasi elite.