Mesin cetak.

Pengertian mass media (media massa) adalah Istilah “media massa” biasanya dipakai untuk menyebut sederetan institusi yang berhubungan den­gan produksi dan penyebaran bentuk-ben­tuk simbolis umum berskala besar. bentuk ini antara lain buku, koran, majalah, film, radio dan televisi, kaset, compact disc, dan sebagainya. Asal musal media massa sudah dimu­lai sejak paruh kedua abad ke-15. Sekitar 1440 Johann Gutenberg dari Mainz mulai bereksperimen dengan mesin cetak, dan pada 1450 dia sudah dapat memanfaat­kan temuannya itu untuk dipakai secara komersial. Gutenberg mengembangkan metode mesin dengan huruf logam untuk keperluan pencetakan, yang bisa mencetak banyak huruf untuk menghasilkan kom­posisi teks yang panjang. Sepanjang paruh kedua abad ke-15, temuan ini menyebar dan kemudian mesin cetak sudah ada di seluruh Eropa.

Media paling populer.

Percetakan masa awal ini umumnya adalah usaha komersial yang berkaitan dengan naskah agama atau sastra, dan kemudian teks dalam bidang hukum, pe­ngobatan, dan perdagangan. Pada awal abad ke-16 percetakan mulai mencetak berbagai jenis jurnal, dan pada awal abad ke-17 muncul koran. Pengertian mass media (media massa) adalah Industri buku dan koran berkembang cepat pada abad ke-19, ketika teknik dari masa Revolusi Industri ini diaplikasikan untuk produksi teks ce­tak. Sirkulasi berkembang signifikan, buta huruf menurun, buku dan koran makin banyak tersedia di tengah masyarakat in­dustri. Siaran radio dan televisi adalah fenom­ena abad ke-20. Teknik dasar dari siaran ini dikembangkan oleh Marconi dan yang lainnya pada 1890-an dan awal 1900-an, dan langkah pertama dalam penciptaan siaran radio skala besar dilakukan pada 1920-an. Siaran televisi diperkenalkan pada skala luas sejak akhir 1940-an dan dengan cepat menjadi salah satu media paling populer. Di banyak masyarakat industri Barat dewasa ini, orang dewasa menghabiskan waktu rata-rata 25 sampai 30 jam per minggu menonton televisi, dan televisi menjadi sumber informasi paling penting untuk berita peristiwa nasional dan internasional. Meski amat signifikan bagi dunia mo­dern, tapi dapat dikatakan bahwa media massa belum mendapat perhatian yang cukup dari teoretisi sosial dan politik. Wa­lau demikian sejumlah pendekatan teoretis untuk media massa telah berkembang. Di antara pemikir sosial pertama yang mem­pelajari media massa secara sistematis adalah “teoretisi kritis” dari Frankfurt Institute for Social Research. Teoretisi ini, seperti Max Horkheimer (1895-1971) dan Theodor Adorno (1903-1969, ter­tarik dengan sifat dan dampak dari apa yang mereka namakan “industri budaya” (Horkheimer dan Adorno, 1947). Dalam tulisannya pada era 1930-an dan 1940-an, mereka berpendapat bahwa media massa menimbulkan bentuk IDEoLocY baru di dalam masyarakat modern. Pengertian mass media (media massa) adalah Dengan mem­produksi begitu banyak barang-barang kultural yang standar dan sama, media massa memberi orang citra-citra imajiner sebagai media untuk rnelepaskan diri dari kenyataan yang keras dalam kehidupan so­sial, meski ini akan melemahkan kekritisan dan otonomi pikiran mereka. Horkheimer dan Adorno menyatakan bahwa perkem­bangan ini antara lain membuat individu lebih rawan terhadap retorika Nazisme dan fasisme. Penilaian negatif terhadap media ma­ssa dan dampak buruknya dapat ditemu­kan dalam tulisan-tulisan teoretisi sosial dan politik lainnya, tertitaina mereka yang dipengaruhi oleh Marxisme. Bagi banyak teoretisi Marxis, media massa dilihat teru­tama sebagai medium ideologi; yaitu media massa dianggap sebagai mekanisme yang dipakai kelompok atau kelas dominan untuk menyebarkan ide yang mendukung kepentingan rnereka, dan karenanya untuk menjaga status quo. Contoh dari panda­ngan ini adalah pendapat dari Marxis Per­ancis Louis Althusser, yang memandang media massa sebagai bagian integral dari apa yang dinamakannya “aparatur negara ideologis” (Althusser, 1971).

Teoretisi media. Pengertian mass media (media massa) adalah

Penjelasan berbeda tentang sifat dan signifikansi media massa dikembangkan pada 1950-an dan 1960-an oleh teore­tisi Kanada Harold Innis (1894-1952) dan Marshall McLuhan (1911-1981). Mereka kadang dijuluki “teoretisi media”. Innis dan McLuhan berpendapat bahwa bentuk dasar dari medium COMMUNICATION mung­kin memengaruhi sifat dari organisasi sos­ial dan pemahaman manusia. Innis mem­perkenalkan gagasan bahwa setiap medium komunikasi memiliki mengandung “bias” ke arah durabilitas waktu atau mobilitas dalam ruang. Dia menunjukkan bahwa masyarakat di mana medium dominannya dibiaskan ke durabilitas temporal (misal­nya, batu atau tanah liat) akan cenderung kecil dan terdesentralisasi, sedangkan ma­syarakat dengan media yang dibiaskan ke arah mobilitas spasial (misalnya kertas pa­pirus atau koran) akan cenderung besar dan imperial, seperti Kekaisaran Romawi (Innis, 1950 dan 1951). Karya Innis ada­lah karya terobosan karena ia mengaitkan perkembangan media komunikasi dengan persoalan waktu, ruang, dan kekuasaan. McLuhan menunjukkan bahwa tek­nologi media memberi dampak funda­mental terhadap indra manusia dan daya kognitifnya. Berbeda dengan masyarakat lisan tradisional, perkembangan tulisan dan media cetak telah melahirkan kultur yang didominasi oleh indera visi (pengli­hatan) dan pendekatan analitis-sekuensial untuk pemecahan problem. Media massa memamptikan individu untuk     inde- penden, rasional dan terspesialisasi. Tetapi perkembangan inedia elektronik modern, menurut McLuhan, telah menghasilkan milie kultural baru di mana keutamaan visi digantikan oleh perpaduan pancain­dra, dan di mana individu disatukan dalain jaringan komunikasi instan global (1ihat MODERNITY). Pengertian mass media (media massa) adalah Dengan kata lain, media elek­tronik telah menciptakan “desa global” (McLuhan, 1964). Pandangan yang dikemukakan Innis dan M.cLuhan agak idiosinkratik dan di lihat dengan hati-hati oleh para teoretisi media dan analis media lainnya. sejumlah besar studi detail telah dilakukan untuk meneliti peran media massa dalam masya­rakat modern dan kemungkinan efeknya bagi kehidupan sosial dan politik. (Untuk ulasan literatur ini, lihat McQuail, 1987.) Meskipun demikian, karya teoretisi media ikut membantu menegaskan fakta bahwa perkembangan media massa telah mem­bentuk ciri interaksi sosial dan pengalaman kultural di dunia modern.