PENGERTIAN MASYARAKAT AGRARIS ADALAH – Pada masa transisi dari masyarakat hortikultur ke masyarakat agraris, telah terjadi perubahan yang besar dalam teknologi dan kehidupan ekonomi. Perubahan itu menimbulkan akibAt-akibat yang besar dalam sifat hubtmgan di antara jenis-jenis kelamin (Martin dan Voorhies, 1975). Dengan adanya penggeseran ke bentuk-bentuk tanaman pertanian yang intensif, kaum wartita sebagian besar tersisih dari peranan produktif secara ekonomi, dan produksi ekonomi menjadi sangat didominasi oleh kaum pria. Karena kaum pria me-ngontrol produksi, kaum wanita diperuntukkan untuk rumah tangga dan kegiatan yang berkaitan dengan itu. Dengan demikian berkembanglah apa yang oleh Martin dan Voorhies disebut “dikhotomi luar-dalam”(inside-outside dichotomy), atau oleh yang lain disebut pembedaan publik domestik”. Ini mencakup dibaginya kehidupan sosial menjadi dua dunia yang terpisah dan berbeda. Di satu pihak, terdapat satu lingkungan kegiatan “publik” yang berlangsung di luar kediaman. Lingkungan ini meliputi ekonomi, politik, kehidupan religius, pendidikan, dan sebagainya. Lingkungan ini dimonopoli oleh dan untuk pria. Di pihak lain, terdapat lingkungart kegiatan rumah tangga atau dalam” (iuside), suatu lingkungan yang pada pokoknya bersangkutan dengan masak-memasak, membersihkan, mencuci, dan mengurus danmengasuh anak-anak. Lingkungan ini dipandang bersifat kewanitaan.

Ternyata bahwa dild-totomi dalarn-luar itu tidak muncul dalam bentuk yang sepenuhnya dapat diidentifikasi sampai timbulnya masyarakat agraris, karena kebanyakan masyarakat di bawah tingkat agraris tidak mengakui pembagian demikian atau telah mengembangkannya secara minimal. Dengan munculnya perbedaan ini, laki-laki dan wanita hidup dalam dunia sosial yang sangat berbeda, dan berkembanglah suatu ideologi yang luas yang menjunjung superioritas “alamiah” laki-laki dan menekankan inferioritas “alamiah” kaum wanita. Timbulnya dikhotomi dalam-luar itu diassosiasikan dengan penurunan wanita sampai ketitik terendah inferioritasnya yang terstruktur. Suatu ciri yang tersebar luas mengenai kehidupan dalam kebanyakan masyarakat agraris ialah disisihkan dan dibatasinya kaum wanita dari banyak kegiatan mereka (Martin dan Voorhies, 1975; cf. Mandelbaum, 1988). Kaum wanita dilarang memiliki hak milik, terlibat dalam p olitik, mengejar pendidikan, atau terlibat dalam kegiatan di luar rumah. Dalam banyak masyarakat agraria, kaum wanita dipandang kaum yang rendah dan bergantung pada kaum pria. Pemencilan mereka dari kaum pria, khususnya di dunia Islam, disimbolkan oleh disandangnya pakaian yang menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali mata. Masyarakat agraris melakukan pengawasan yang ketat atas seksualitas wanita. Banyak masyarakat agraris menuntut keperawanan sebelum menikah pada pihak gadis, dan kegiatan seksual sebelum nikah dan di luar nikah yang diharamkan mendapat hukunum yang berat, malah mem-bunuh wanita yang melakukan itu oleh suaminya atau kerabat lainnya. Sebaliknya, masyarakat agraris membolehkan dan malah mendorong kegiatan seksual di luar nikah kepada laki-laki. Kaum wanitanya juga biasanya dilarang ininta cerai, yang biasanya merupakan hak istimewa pria.

Masyarakat agraris umurrmya memandang laki-laki secara ideal cocok untuk tugas-tugas yang menuntut akal, kekuatan, dan kesegaran emosional. Kaum wanita, sebaliknya, dipandang paling cocok untuk peranan yang bersi-fatmembantu dalam rumah tangga, yang dilakukan berulang-ulang, dan tidak kreatif. Bagaimanapun, wanita adalah sumbangan sosial ayah dan suami dan pada umumnya tergantung secara ekonomi sepenuhnya pada mereka. Kaum wanita dipandang sebagai tidak bebas, tidak matang, dan membutuhkan perlindungan dan pengawasan pria, dan konsepsi-konsepsi itu sangat dalam tertanam dalam agama, moralitas dan hukum masyarakat agraris (Martin dan Voorhies, 1975). Sementara dominasi pria yang intensif merupakan kejadian”yang luas dalam banyak masyarakat hortikultur dan beberapa masyarakat pemburu dan peramu, masyarakat agraris adalah yang paling konsisten, menyeluruh, dan intensif dikuasai pria. Dalam sektor material, sosial, dan ideologi kehidupan agraria, wanita ditempatkan pada status yang sangat rendah. Kenyataan ini mungkin sekali erat hubungannya dengan sifat produksi ekonomi agraris.

Filed under : Bikers Pintar,