PENGERTIAN MASYARAKAT AGRARIS – Masyarakat agraris pertama muncul kira-kira 5000 sampai 6000 tahun yang lalu di Mesir dan Mesopotamia dan agak belakangan sedikit di Cina dan India. Masyarakat agraris belum lama terdapat di banyak bagian dunia. Sejak masyarakat agraris muncul untuk pertama kalinya, sampai sekarang mayoritas manusia hidup secara agraris. Sejauh menyangkut cara hidup ini sekarang, pada umumnya bentuknya sudah sangat berubah pada berbagai masyarakat yang, paling tidak secara parsial, telah mengalami industrialisasi dan menjadi bagian dari ekonomi kapitalis dunia. Karena itu, tidak ada lagi masyarakat agraris murni yang tersisa di dunia sekarang. Lantas, seperti apakah bentuk masyarakat agraris di masa lalu?

Masyarakat agraris menyandarkan hidup kepada pertanian murni. Tanah dibersihkan dari semua tanaman dan ditanami dengan menggunakan bajak dan binatang-binatang dipergunakan menarik bajak. Ladang dipupuk secara besar-besaran, terutama dengan pupuk kandang. Ketika tanah ditanami dengan cara ini, maka ia dapat dipergunakan secara agak berkesinambungan. Dengan demikian, periode kosong sangat pendek atau bahkan tak ada lagi. Para petani sering menanami sebidang tanah tertentu setiap tahun, dan dalam beberapa kasus panen dapat dipungut dari ladang yang sama lebih dari satu kali dalam setahun.

Sejumlah masyarakat agraris sudah ada di berbagai wilayah di mana curah hujan cukup untuk menumbuhkan tanaman. Masyarakat agraris di seluruh Eropa, misalnya, adalah masyarakat pertanian tadah hujan. Tetapi di banyak masyarakat lain, iklim kering dan semi-kering telah membuat pertanian tadah hujan tak mungkin berkembang, dan para petani harus membangun sistem irigasi untuk mengairi pertanian. Para petani di Mesir kuno, Mesopotamia, Cina dan India, misalnya, mempraktekkan pertanian irigasi.

Para petani bekerja lebih banyak daripada anggota berbagai tipe masya-rakat sebelumnya (cf. Minge-Klevana, 1980). Tugas membersihkan tanah, membajak, menabur dan memanen, memelihara binatang dan seterusnya memerlukan tenaga kerja yang banyak. Apabila sistem irigasi harus dibangun, maka orang pun bekerja lebih keras. Karena usaha mereka, para petani menghasilkan lebih banyak hasil untuk tiap unit tanahnya dibandingkan dengan penghasilan masyarakat hortikultura, dan kebanyakan menghasilkan surplus ekonomi. Tetapi usaha dan juga surplus ekonomi yang makin besar tidak menghasilkan standard hidup yang lebih tinggi. Sebenamya, standard hidup mereka rendah, dalam keadaan tertentu lebih rendah, daripada yang dinikmati oleh anggota masyarakat hortikultura. Sebagian alasan untuk kenyataan yang tampak paradoks ini dijelaskan pada akhir bab ini, tetapi gejala ini tidakdapat dipahami sepenuhnya sampai muncul stratifikasi sosial (dibahas pada Bab 6).

Kebanyakan anggota masyarakat agraris adalah para petani (peasants). Mereka adalah produsen utama, orang yang menanami ladang dari hari ke hari. Eric Wolf (1966) menyebut mereka penaman tergantung (dependent cultivator) karena mereka berada dalam hubungan ketergantungan politik dan ekonomi atau subordinat kepada para pemilik tanah. Mereka sendiri seringkali tidak punya tanah, tetapi hanya dibolehkan memakai. Dalam pengertian ini, mereka hanyalah para penyewa tanah. Dalam kasus di mana para petani mempunyai tanah sendiri, mereka jauh dari penguasaan penuh atas nasib produk dari tanah mereka. Tetapi tidak semua produsen utama dalam masyarakat agraris adalah petani. Sebagian adalah para budak. Budak berbeda dari petani karena mereka secara hukum dimiliki dan dapat diperjualbelikan. Dalam sebagian masyarakat agraris — misalnya, Romawi dan Yunani kuno, para budak melebihi jumlah petani.

Incoming search terms:

  • kondsi sosial masyarakat agrarsi

Filed under : Bikers Pintar,

Incoming search terms:

  • kondsi sosial masyarakat agrarsi