PENGERTIAN MASYARAKAT ASLI YANG MAKMUR

33 views

PENGERTIAN MASYARAKAT ASLI YANG MAKMUR – Para ilmuwan sosial biasanya menggambarkan masyarakat pemburu-peramu dalam ungkapan yang sangat negatif. Secara luas diyakini bahwa mereka menjalani kehidupan yang genting dan sulit, suatu kehidupan di mana orang harus bekerja keras dan lama sekadar untuk memenuhi tarap kehidupan subsistensi yang sederhana. Sebagaimana dinyatakan Marshall Sahlins dua dasawarsa yang lalu (1972:1):Hampir secara universal mereka setia kepada proposisi bahwa kehidupan pada masyarakat paleolithik itu keras, buku-buku teks kita berlomba menyampaikan besarnya beban yang mereka pikul, membuat orang sulit membayangkan, bukan hanya tentang bagaimana para pemburu itu dapat hidup, tetapi lebih dari itu, apakah itu dapat dikatakan sebagai kehidupan? Momok kelaparan susulmenyusul dikemukakan dalam halaman-halaman buku tersebut. Ketidak-ahlian teknisnya dikatakan sejalan dengan kerja yang terus-menerus sekadar untuk bertahan hidup, yang sama sekali tidak memberikan kelonggaran atau surplus, dan dengan demikian tidak mempunyai “waktu longgar” untuk “membangun kebudayaan”.

Dalam waktu seperempat abad terakhir para ilmuwan sosial secara radikal membuang pandangan tentang masyarakat pemburu-peramu seperti ini. Sahlins (1972), misalnya, memandang mereka sebagai membentuk suatu “masyarakat asli yang Makmur”. Dengan istilah ini , yang dimaksud bukan berarti mereka kaya dan menikmati pemilikan material yang melimpah ruah, tetapi bahwa mereka dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginan material mereka dengan kerja minimum. Untuk menilai pernyataan Sahlins ini, kita perlu melihat secara cermat standard hidup masyarakat pemburu-peramu dan berapa lama dan keras mereka bekerja.

Disamping adanya kenyataan bahwa sebenarnya semua masyarakat pemburu-peramu kontemporer berada di lingkungan marginal, lingkungan ini seringkali berubah menjadi lingkungan yang sangat berlimpah dengan sumber daya. Sebagai contoh, Richard Lee (1968) menyatakan bahwa masyarakat !Kung San (tanda! diletakkan untuk suara ceklekan dalam bahasa) di Afrika bagian selatan mampu menggantungkan hidup kep ada berb agai ragam sumber makanan yang cukup baik. Sumber makanan pokok mereka adalah biji mongongo, dan ribuan pon biji ini membusuk setiap tahun tanpa dipungut. Lebih dari itu, habitat !Kung mengandung 84 species tanaman lain yang juga dapat dimakan, dan kegiatan meramu yang dilakukan oleh !Kung tidak pernah menghabiskan semua tanaman yang tersedia pada satu wilayah. Demildan juga, James Woodburn (1968) telah menunjukkan bahwa masyarakaf-Hadza, Tanzania, menikmati jumlah binatang yang sangat berlimpah, dan dia berpendapat bahwa hampir tidak dapat dibayangkan mereka akan mengalami kelaparan. Jadi, tampaknya masyarakat !Kung dan Hadza mencapai standard hidup yang sangat mencukupi keperluan subsisten dasar manusia.

Kesan ini dikuatkan oleh Survey yang dilakukan Mark Cohen (1989) dalam usaha mengkaji makanan dan gizi di kalangan banyak kelompok pemburu-peramu. Peninjauan yang dilakukan Cohen terhadap berbagai kajian menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat pemburu-peramu umumnya menikmati makanan yang sangat memenuhi standard gizi. Beberapa kelompok, seperti !Kung, mungkin jarang memperoleh sejumlah kalori yang cukup, tetapi makanan mereka dilimpahi protein hewani dan berbagai bahan makanan bergizi. Tampak juga, bahwa kebanyakan masyarakat pemburuperamu menderita kelaparan dan kurang makan secara musiman dan kadang-kadang bencana kelaparan terjadi. Namun, ini bukan hal yang tidak biasa ierjadi pada masyarakat maju lainnya. Penduduk pertanian menetap juga inengalami kesulitan semacam itu, dan sangat mungkin terjadi dalam ukuran vang lebih besar.

Jika masyarakat pemburu-peramu umumnya menikmati makanan vang mencukupi, seberapa lama dan keras mereka harus bekerja untuk mem-perolehnya? Sejumlah bukti menunjukkan bahwa kebanyakan kelompok ini tidak bekerja keras dan dalam waktu lama. Dengan memeriksa data yang terkump ul tentang berbagai aktivitas subsistensi kelompok pemburu-peramu Arnhem ,Land di Australia bagian utara, Sahlins menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut tidakbekerja keras atau secara terus-menerus, sehingga pencarian kebutuhan subsistensi hanya dilakukan sebentar-sebentar, dan banyak sekali waktu luang yang tersedia. Dengan cara yang sama, Lee (1979) mengkalkulasi bahwa rata-rata orang dewasa pada masyarakat !Kung menghabiskan hanya 17 jam per minggu untuk aktivitas mencari makanan. Woodburn (1968) menunjukkan bahwa masyarakat Hadza memperoleh makanan yang cukup dengan relatif mudah, dan kehidupan bagi mereka bukanlah pergumulan eksistensi yang sulit. Dia percaya bahwa mereka menghabiskan waktu dan energi yang lebih sedikit dalam memenuhi kebutuhan subsistensi dibandingkan dengan tetangga mereka yang hidup bertani.

Kajian-kajian lain tentang aktivitas subsistensi masyarakat pemburuperamu tidak banyak dilakukan, paling tidak karena tidak terpublikasi secara luas. Kalau data Lee tentang pola kerja masyarakat !Kung dikumpulkan pada musim kering, John Yellen (1977) mengkaji sekelompok masyarakat !Kung pada musim hujan. Dia menemukan bahwa selama musim hujan tahun itu mereka bekerja lebih lama, walaupun tidak jelas secara pasti seberapa lamanya (cf. Hill, Kaplan, Hawkes, dan Hurtado,1985:tabel IV). Data Yellen secara pasti menguji data yang diperoleh oleh Lee, tetapi tidak dapat dikatakan meruntuhkan tesis dasarnya tentang, masyarakat asli yang makmur. Walaupun kita anggap bahwa !Kung bekerja pada musim hujan dua kali lebih keras daripada dimusim kering, maka sepanjang tahun mereka hanya menghabiskan waktu mencari makanan rata-tara sekitar 25 jam per minggu.

Kim Hill, Hillard Kaplan, Kristen Hawkes dan Ana Magdalena Hurtado (1985) telah menganalisis berbagai aktivitas subsistensi masyarakat Ache di Paraguay. Mereka menemukan bahwa lelaki Ache menghabiskan banyak waktu mereka untuk berburu — mungkin sebanyak 40-50 jam per minggu — dan mereka menyimpulkan analisis ini dari gambaran Sahlins, bahwa masya-rakat pemburu-peramu yang bekerja sedikit, tidak benar. Namun, kajian ini harus dilihat dalam konteks yang tepat. Ache adalah masyarakat hutan tropis, danbinatang biasanya diperkirakan sangat langka pada lingkungan ini (Harris, 1977). Maka tidaklah mengherankan, bahwa lelaki Ache menghabiskan begitu banyak waktu untuk berburu ( yang sebagian besarnya hanya ditujukan untuk mencari binatang). Ache bukanlah kasus yang baik untuk membuat generalisasi yang luas tentang pola kerja masyarakat pemburu-peramu.

Akan tampak, setelah semua dikatakan dan dianalisis, bahwa tesis Sahlins tentang masyarakat asli yang makmur sangat memadai. Ini tampaknya benar terutama ketika kita menyadari bahwa kebanyakan yang kita tahu tentang standard hidup dan pola kerja pemburu-peramu didasarkan atas kelompok-kelompok pemburu-peramu kontemporer. Karena hampir semua kelompok ini hidup di lingkungan-lingkungan marginal, maka masyarakat pemburu-peramu masa pra-sejarah, yang kebanyakan mereka berada di lingkungan yang lebih baik, tentu juga hidup secara lebih baik. Kita harus menghindari meromantisir gaya hidup pemburu-peramu sebagai gaya hidup sorga primitif. Jelas, itu adalah oversimplifikasi yang sulit diterima. Namun, peramu-pemburu memang hidup jauh lebih baik dari apa yang biasa kita bayangkan. Sebagaimana disimpulkan Elizabeth Cashdan (1989:26), sekarang memungkinkan untuk “membongkar dengan yakin stereotipe lama bahwa masyarakat pemburu-peramu harus bekerja sepanjang waktu hanya untuk memperoleh makan yang cukup.” Dan juga memungkinkan untuk membongkar dengan yakin stereotipe lama bahwa masyarakat pemburu-peramu tidak memperoleh makanan yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *