PENGERTIAN MASYARAKAT HORTIKULTUR SEDERHANA KONTEMPORER – Masyarakat pertanian yang pertama tidaklah menopangkan hidupnya dengan pertanian yang sebenarnya, tetapi dengan hortikultura sederhana. Sejumlah masyarakat hortikultura sederhana tetap bertahan sampai masa dunia modern. Kebanyakan mereka terdapat di Melanesia, rangkaian kepulauan di Pasifik selatan (umumnya dikatakan termasuk New Guinea ) dandi beberapa wilayah Amerika Selatan. Penelitian etnografik yang luas telah dilakukan terhadap masyarakat ini, dan hasil penelitian telah memberikan dasar bagi pembahasan buku ini.

Masyarakat hortikultura sederhana tinggal di desa-desa kecil biasanya terdiri dari 100 sampai 200 orang. Walaupun desa-desa yang secara substansial lebih besar dari ini ada, tetapi jarang terjadi. Setiap desa pada dasarnya berdiri sendiri secara ekonomi dan politik. Namun, ikatan antar-desa yang penting juga ada. Perkawinan sering terj adi antara individu yang berasal dari desa yang berbeda, dan orang yang tinggal di desa-desa terpisah seringkali bersamasama dalam berbagai upacara seremonial. Para anggota dari desa-desa yang berhubungan secara kultural dan bahasa, secara kolektif membentuk sebuah suku, sebuah unit sosiokultural yang bisa terdiri dari puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang. Kebanyakan masyarakat hortikultura sederhana tinggal di lingkungan berhutan lebat dan mempraktekkan teknik penanaman yang dikenal dengan tebas-dan-bakar (biasa juga disebut ladang berpindah). Teknik bertanam ini dimulai dengan penebasan sebidang hutan dan kemudian membakar hasil tebasan yang sudah dikumpulkan. Abu yang tertinggal berfungsi sebagai pupuk, dan biasanya tidak ada tambahan pupuk yang lain. Kemudian bibit ditanam di ladang yang sudah dibersihkan ini (biasanya besarnya tidak lebih dari satu are) dengan bantuan tongkat penggali, tongkat panjang yang ujungnya tajam dan keras. Ladang yang telah ada mungkin ditanami hanya dengan satu jenis bibit, tetapi praktek yang lebih umum adalah menanam beberapa bibit tambahan di samping tanaman utama (Sahlins, 1968). Tugas membersihkan dan mempersiapkan ladang umumnya jatuh kepada kaum lelaki, sementara tugas menanam dan memanen umumnya dipandang sebagai tanggung jawab kaum perempuan.

Karena abu kayu yang dibakar umumnya merupakan satu-satunya pupuk, penanaman dengan cara tebas-dan-bakar berkaitan dengan kesuburan tanah yang berjangka pendek. Abu yang dihasilkan lenyap karena hujan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, dan karena alasan inilah sebidang tanah hanya dapat ditanami untuk jangka waktu itu. Ia kemudian harus dibiarkan dan tidak ditanami lagi dalam waktu yang cukup lama agar hutan dapat tumbuh kembali dan dengan demikian memungkinkan untuk menghasilkan abu lagi. Periode pengosongan itu biasanya berlangsung 20 sampai 30 tahun. Ketika hutan sudah lebat, maka proses menebas, membakar dan menanami dapat dimulai kembali.

Karena sistem tebas-dan-bakar memerlukan periode kosong yang panjang, maka masyarakat yang mempraktekkannya harus memiliki tanah yang jauh lebih luas daripada tanah yang sedang ditanami pada saat tertentu (Sahlins,1968). Masyarakat Tsembaga Maring di New Guinea, misalnya, hanya memiliki lahan seluas 42 are selama tahun 1962 – 1963, tetapi sekitar 864 are wilayah mereka pernali ditanami pada suatu waktu (Harris, 1975). Tuntutan penggunaan tanah ini meletakkan batas-batas kepadatan penduduk, dan masyarakat hutan tropik yang hidup dengan cara seperti ini menjaga kepadat-an penduduk mereka tak kurang dari sepuluh orang per-mil persegi (Sahlins, 1968).

Tumbuhan yang ditanam sebagian besar adalah tanaman yang dapat dimakan. Namun, sejumlah masyarakat tersebut juga mempunyai binatang yang telah didomestikasikan. Babi yang telah didomestikasikan, misalnya, terdapat di seluruh Melanesia. Tetapi kebanyakan masyarakat hortikultura sederhana jarang mendomestikasikan binatang, dan kelompok-kelompok banyak mengandalkan kegiatan berburu atau mencari ikan untuk persediaan protein hewani mereka.

Masyarakat hortikultura sederhana menghasilkan makanan yang lebih banyak untuk setiap bidang tanah dibandingkan masyarakat pemburu dan peramu. Sebagian merekabahkan menghasilkan surplus ekonomi dalam jumlah kecil. Namun tidak dapat disimpulkan dari kenyataan ini bahwa mereka menikmati standard hidup yang lebih tinggi. Sebenarnya, sudah dikemukakan bahwa standard hidup mereka lebih rendah dari masyarakat pemburu-peramu (M. Cohen, 1977, 1989). (lihat Topik Khusus pada akhir bab ini). Mereka tidak mengkonsumsi lebih banyak kalori, dan makanan protein mereka tampak lebih rendah. Lebih dari itu ada bukti kuat, yang telah terkumpul beberapa tahun belakangan ini, yang menunjukkan bahwa masy arakat hortikultura sederhana umumnya bekerja lebih keras daripada masyarakat pemburu-peramu (M.Cohen, 1977). Untuk membersihkan tanah dan menanam, memelihara dan memanen hasilnya diperlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak daripada mengumpulkan bahan makanan yang disediakan alam. Jadi, hortikultura sederhana adalah sistem teknologi yang lebih intensif daripada berburu dan meramu, tetapi tidak membawa keuntungan material yang lebih banyak.

Filed under : Bikers Pintar,