PENGERTIAN MASYARAKAT HORTIKULTURA INTENSIF

228 views

PENGERTIAN MASYARAKAT HORTIKULTURA INTENSIF – Banyak masyarakat hortikultura sederhana yang diantarkan oleh revolusi neolitik dalam waktu tertentu kepada kehidupan masyarakat hortikultura intensif. Tidak dapat diragukan ratusan masyarakat hortikultura intensif telah ada selama beberapa ribu tahun dalam sejarah manusia. Sampai masuknya Eropa pada akhir abad xviii, masyarakat tersebut tersebar ke seluruh Polynesia, rangkaian pulau yang luas di Pasifik Selatan, meliputi kepulauan Hawaii, Tahiti, dan Tonga, dan masih banyak lagi. Sebelum akhir abad xix, mereka merambah seluruh bagian sub-sahara Afrika yang luas. Amerika Selatan dan Asia Tenggara juga merupakan kawasan di mana banyak masyarakat hortikultura intensif bertempat tinggal. Namun sekarang, mereka tinggal sedikit. Kebanyakan mereka terdapat di berbagai bagian sub-sahara Afrika, dan mungkin di beberapa bagian Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Seperti masyarakat hortikultura sederhana, masyarakat hortikultura intensif menggantungkan hidupnya pada hasil kebun sendiri, dan mereka menanam dengan metode tebas-dan-bakar. Sebagian memelihara binatang ternak, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu dan menangkap ikan. Namun, masyarakat hortikultura intensif berbeda dengan masyarakat hortikultura sederhana dalam beberapa hal penting. Satu perbedaan prinsip adalah panjangnya waktu penggunaan ladang sebelum dijadikan ladang kosong. Masyarakat hortikultura sederhana umumnya membiarkan ladang mereka kosong sampai 20 atau 30 tahun sebelum menanaminya kembali. Sebaliknya, masyarakat hortikultura intensif memperpendek periode kosong menjadi sekitar 5 sampai 6 tahun. Kompensasi atas penurunan kesuburan tanah karena tanah dengan menambahkan semacam humus atau pupuk kandang.

Pemendekan periode kosong menimbulkan efek yang nyata, yakni berubahnya hutan yang lebat menjadi semak-semak. Tanah yang sudah dibersihkan dari semak-semak harus dipersiapkan untuk ditanami dengan cara yang tidak perlu sesulit membersihkan tanah dari hutan. Dengan demikian, kebanyakan masyarakat hortikultura intensif telah menemukan atau menggunakan cangkul untuk mempersiapkan tanah untuk ditanami. Sebagaimana dijelaskan oleh Boserup (1965: 24) :

Sesudah pembakaran hutan lebat, tanahbebas dari rerumputan danpencangkulan tanah tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, ketika periode kosong diperpendek dan, karena itu, tanaman alamiah sebelum dibersihkan tebal dan berumput, maka tanah harus dipersiapkan dengan cangkul atau alat serupa sebelum bibit ditanam.

Sebagian masyarakat hortikultura intensif mempergunakan unsur-unsur teknologi di samping atau sebagai pengganti metode yang ada. Masyarakat hortikultura intensif Polynesia, misalnya, walaupun tidak pernah menggunakan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi. Maka jelaslah bahwa masyarakat hortikultura intensif telah mencapai tingkat perkembangan teknologi yang melebihi teknologi yang dicapai masyarakat hortikultura sederhana. Juga jelas bahwa orang bekerja lebih keras dan lebih lama dalam sistem hortikultura intensif. Mempersiapkan ladang dengan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi membutuhkan dan menghabiskan lebih banyak kegiatan. Karena orang bekerja lebih keras dan lebih lama, dan karena ladang yang ada ditanami lebih sering, maka jelaslah mengapa pola teknologi subsistensi ini disebut sebagai hortikultura intensif.

Dibandingkan dengan hortikultura sederhana, hortikultura intensif sangat produktif untuk masing-masing unit ladang. Masyarakat hortikultura intensif, ternyata, menghasilkan surplus ekonomi yang nyata, dan surplus ini digunakan untuk menopang sekelompok orang yang tidak terlibat langsung dalam produksi pertanian. Dalam banyak masyarakat hortikultura intensif, anggota kelas ini dipandang, paling tidak secara teoritis, sebagai.pemilik semua tanah, dan dalam semua masyarakat semacam itu mereka Mengarahkan banyak aktivitas ekonomi. Standard hidup mereka lebih tinggi dari semua orang yang lainnya. Standard hidup kebanyakan masyarakat hortikultura intensif sulit ditentukan, tetapi dapat dilihat bahwa standard hidup mereka berbeda sedikit dari yang terdapat pada masyarakat hortikultura sederhana. Namun tidak boleh dilupakan bahwa masyarakat hortikultura intensif bekerja lebih keras hanya untuk mencapai hasil material yang kurang lebih sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *