PENGERTIAN MASYARAKAT KAPITALIS INDUSTRI ADALAH – Kapitalisme dan industrialisme adalah yang bertanggung jawab membawa kaum wanita kembali ke lingkungan produksi ekonomi. Namun demikian, banyak aspek pola peran-seks agraria lama masih tetap ada. Kaum wanita masih melakukan pekerjaan rumah tangga dan kaum pria masih mendominasi politik, pekerjaan yang paling berprestis dan yang dibayar tinggi, dan lingkungan kehidupan di luar rumah lailulya. Kaum wanita terutama masih tetap dibatasi pada pekerjaan berprestis rendah dan dibayar rendah, misah-iya, pekerjaan tulis-menulis, kesekretariatan, dan jasa. Kaum wanita juga mendominasi pekerjaan yang mempunyai komponen pengasuhan yang kuat, seperti guru sekolah dasar dan perawat. Hanya sedikit saja kesempatan yang diperoleh kaum wanita untuk masuk ke dalam posisiposisi manajerial dan eksekutif dalam kehidupan perusahaan. Dan, kaum pria masih memonopoli profesi berstatus tinggi, seperti arsitek, hukum, kedokteran, tekriik, dan mengajar di universitas. Dalam situasi di mana pria dan wanita memegang pekerjaan yang sama atau serupa, kaum wanita biasanya dibayar sangat rendah. Dewasa ini, penghasilan rata-rata kaum wanita Amerika dalam pekerjaan penuh hanya kira-kira 62 persen dari pendapatan kaum pria (U.S. Bureau of the Census, 1985).

Banyak ilmuwan sosial, aliran Marxis khususnya, menggambarkan kapitalisme adalah sesungguhnya yang menimbulkan konsekuensi negatif bagi posisi sosial kaum wanita (Thomas, 1988). Meskipun mereka mempunyai status bawahan, pada umunmya dalam lingkungan kehidupan sosial, kaum -yanita dalam banyak hal telah beremansipasi sejak timbulnya kapitalisme. Sebagai contoh, mereka telah mencapai persamaan politik dan hukum dengan kaum pria, dan kaum wanita tidak lagi dipandang semata-mata sebagai rendah dan bergantung pada pria. Dibandingkan dengan kaum wanita di hampir semua masyarakat agraris dan Dunia Ketiga, maupun dengan kaum wanita dalam masyarakat hortikultura dan gembala, maka kaum wanita di bawah kapitalisme telah mencapai peningkatan dramatis dalam status dan dalarn kemampuan mengontrol kehidupan sendiri, bebas dari tirani pria.

Shorter menekankan bahwa perubahan status wanita itu terbatas pada petani dan pekerja, dan untuk kelas menengah dan atas situasinya mungkin berbeda. Dalam kelompok-kelompok yang lebih makmur sta tus wanita mungkin sema-kin menurun (misalnya pada tahap awal kapitalisme) karena ketergantungan ekonomi wanita pada suami mereka bertambah. Tetapi seperti dikemukakan oleh Shorter, wanita petani dan kelas pekerja merupakan bagian besar dari penduduk pada masa itu.

Perbaikan besar status wanita pada waktu belakangan ini dapat dikait-kan dengan gerakan mereka yang cepat ke dalam angkatan kerja dalam abad xx. Kaum wanita sekarang ini merupakan bagian yang besar dari angkatan kerja semua masyarakat kapitalis industri (Tabel 14.1). Pada akhir abad xix kaum wanita sebagian besar diperlukan sebagai sekretaris dan pekerjaan tulismenulis. Akan tetapi, mayoritas yang besar wanita pekerja sebelum Perang Dunia II adalah bujangan, janda, atau cerai. Kebanyakan wanita nikah, khususnya mereka yang menanggung anak, tetap tinggal di rumah. Sebagai contoh, di Amerika Serikat dalam tahun 1930 hanya 11,7 persen dari wanita nikah yang bekerja di luar rumah, dibandingkan dengan 50,5 persen wanita buj angan dan 34,4 persen wanita janda atau cerai (U.S. Department of Commerce, 1975). Namun, sejak Perang Dunia II, kenaikan dalam partisipasi angkatan kerja wanita nikah, termasuk pula mereka yang mempunyai anak kecil, mencolok. Di Amerika Serikat dalam tahun 1948, misalnya, hanya 10,8 persen dari wanita nikah, yang mempunyai anak di bawah usia enam tahun, yang berada dalam angkatan kerja (U.S. Bureau of the Census, 1985); akan tetapi, pada tahun 1984 ada 51,8 persen kaum wanita dalam kategori yang sama berada dalam angkatan kerja (U.S. Bureau of Census, 1985).

Selama beberapa dekade lampau kaum wanita juga telah melakukan terobosan yang berarti ke dalam profesi berpendidikan. Di Amerika Serikat dalam tahun 1960 kaum wanita berjumlah hanya 5,5 persen dari dokter yang ada, 0,8 persen dokter gigi, 2,5 persen ahlihukum, dan 0,4 persen insinyur. Tapi pada tahun 1982 mereka berjumlah 25 persen dokter, 15,4 persen dokter gigi, 33,4 persen ahli hukum, dan 10,8 persen insinyur (U.S. Bureau of the Census, 1985). Meskipun kaum wanita telah secara sukar mencapai persamaan dengan kaum pria dalam akses mereka ke profesi-profesi itu, namun situasinya telah inembaik secara dramatis.

Filed under : Bikers Pintar,