PENGERTIAN MASYARAKAT PEMBURU DAN PERAMU – Sekitar 99 persen dari sejarah perjalanan hidupnya, umat manusia menopang hidup mereka sepenuhnya dengan berburu binatang liar dan meramu hasil dari tanaman liar. Monopoli cara hidup berburu dan meramu dalam kehidupan manusia tidak berakhir sampai 10.000 tahun yang lalu, ketika sebagian masyarakat mulai menopang hidupnya dengan pertanian. Dalam waktu 10.000 tahun berjalan, masyarakat pemburu-peramu semakin berkurang, dan hanya sedikit yang tersisa sekarang. Kebanyakan mereka terdapat di lokasi-lokasi geografis yang relatif terpencil, seperti di wilayah kering dan semi-kering Australia, daerah hutan pusat hujan dan padang pasir sebelah selatan Afrika dan kutub utara. Masyarakat ini mungkin tidak akan bertahan dalam beberapa dasawarsa lagi, dan pada awal abad xxi cara hidup berburu dan meramu ini diperkirakan akan hanya merupakan peninggalan sejarah yang diketahui melalui etnografi dan arkeologi.

Kebanyakan pengetahuan kita tentang masyarakat pemburu-peramu sekarang ini didasarkan atas karya penelitian lapangan yang dilakukan pada masyarakat pemburu-peramu yang masih bertahan hingga sekarang. Tidak dapat diketahui secara pasti sejauh mana berbagai masyarakat ini menyerupai keadaan masyarakat pemburu dan peramu pada masa-masa pra-sejarah. Pastilah ada sejumlah perbedaan, tetapi mungkin juga terdapat banyak kesamaan yang mencolok. Dalam peristiwa tertentu, deskripsi tentang cara hidup berburu dan meramu yang diikuti didasarkan terutama kepada hasil penelitian etnografik kontemporer.

Kehidupan peramu dan pemburu dalam kelompok-kelompok kecil dikenal dengan kelompok lokal (lokal bands). Kelompok-kelompok ini berjumlah sekitar 25 sampai 50 orang lelaki, perempuan dan anak-anak yang bekerja sama dalam upaya menopang kehidupan mereka. Masing-masing kelompok lokal kurang lebih otonom secara politik dan secara ekonomi merupakan unit yang hidup dengan swasembada. Namun, banyak kelompok lokal biasanya dihubungkan dengan ikatan perkawinan ke dalam unit kultural yang lebih luas, yang kadang-kadang dikenal dengan suku. Suku adalahjaringan berbagai kelompok yang semua anggotanya mengikuti pola kultural yang sama dan berbicara dengan bahasa yang sama pula. Lebih dari itu, komposisi masingmasing kelompok lokal berubah secara konstan. Orang seringkali berpindah dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Gerak perpindahan itu dapat terjadi karena perkawinan atau kebutuhan untuk menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara jumlah penduduk dan persediaan makanart: –

Para pemburu-peramu umumnya menggantungkan diri kepada pengumpulan sebagian besar makanan mereka (Service,1966; Lee,1968). Richard Lee (1968) memperkirakan bahwa masyarakat pemburu-peramu kontemporer memperoleh hampir 65 persen makanan mereka dari mengumpulkan berbagai jenis makanan, dan dia percaya bahwa gambaran ini banyak kesamaannya dengan berbagai aktivitas subsistensi masyarakat peramu-pemburu masa prasejarah. Namun, biasanya lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas berburu, dan daging adalah makanan yang nilainya jauh lebih tinggi.

Karena pemburu-peramu lebih merupakan pengumpul ketimbang penghasil makanan, mereka harus mengembara ke wilayah geografis yang luas dalam usaha mencari makanan. Dengan demikian, mereka umumnya nomadik, dan jarang membangun tempat tinggal permanen.

Penemuan teknologi masyarakat pemburu-peramu sangat terbatas. Alat dan senjata yang digunakan secara langsung untuk menopang hidup umumava terdiri dari tombak, busur dan anak panah, jaring dan perangkap yang digunakan untuk berburu dan tongkat penggali untuk meramu. Alat-alat tersebut kasar dan sederhana, umumnya terbuat dari batu, kayu, tulang atau bahan alamiah lainnya. Biasanya hanya sedikit atau tidak ada teknik untuk penyimpanan atau pemeliharaan, dan dengan demikian makanan biasanya dikonsumsi secara langsung atau dalam jangka waktu yang pendek.

Struktur masyarakat pemburu-peramu paling sederhana dibandingkan dengan semua masyarakat manusia. Pembagian kerja didasarkan atas umur dan perbedaanjenis kelamin secara sangat ketat. Tanggungjawab utama untuk menopanig hidup biasanya jatuh kepada orang-orang yang berusia setengah baya,-dan para anggota masyarakat muda dan tua kurang dibebani tanggung lawab untuk mencukupi kebutuhan subsisten kelompok. Berburu dilakukan oleh para lelaki, dan meramu oleh para perempuan. Walaupun perempuan kadang-kadang juga berburu atau memasang perangkap untuk binatangbinatang yang kecil, mereka tidak pernah terlibat dalam perburuan binatang besar. Demikian juga, lelaki kadang-kadang melakukan aktivitas meramu, tetapi mereka adalah peramu penting dalam masyarakat yang bukan pemburu-peramu. Masyarakat peramu-pemburu terkenal tidak begitu terspesialisasi dalam pekerjaan selain tugas-tugas subsistensi. Tidak ada “pembuat panah” atau “pembuat busur” spesialis. Setiap lelaki membuat semua alat-alat yang dibutuhkan dalam usaha subsistensi. Demikian juga kaum perempuan.

Unit subsistensi utama di kalangan pemburu-peramu adalah keluarga, dan karena itu kehidupan ekonomi dapat diistilahkanbersifat familistik (Service, 1966). Namun masing-masing keluarga dalam setiap kelompok lokal disatukan dalam sebuah unit ekonomi yang menyeluruh, kelompok lokal itu sendiri. Walaupun masing-masing keluarga memenuhi kebutuhan subsistennya sendirisendiri, mereka juga memberikan kontribusi secara signifikan bagi subsistensi keluarga lain dalam kelompoknya.

Masyarakat Pemburu-peramu sangat dikenal dalam hal kegagalan mereka menghasilkan surplUs ekonomi, kelebihan barang melebihi keperluan subsistensi. Sampai belum lama sebelum ini diyakini secara meluas bahwa ini disebabkan karena ketidakmampuan mereka melakukan itu, sebuah ketidakmampuan yang dikarenakan kehidupan marginal dan genting. Penelitian kontemporer menunjukkan hal yang sebaliknya. Para Ilmuwan sosial sekarang pada umumnya setuju bahwa kegagalan menghasilkan surplus disebabkan tidak adanya kebutuhan untuk itu. Karena sumber daya alam selalu tersedia untuk diambil, maka alam itu sendiri menjadi sejenis gudang yang sangat besar.

Filed under : Bikers Pintar,