Advertisement

Adalah kesatuan sosial yang mendiami Kepulauan Tanimbar. Kepulauan ini terdiri atas Pulau Yamdena yang relatif besar dan sejumlah pulau kecil, seperti Pulau Molu, Larat, Selu, Sera, Selaru, di 1. Kepulauan ini seolah-olah digandeng oleh Laut Banda dan Laut Arafuru. Kini wilayah ini terbagi atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Tanimbar Utara dengan ibu kotanya Larat, dan Kecamatan Tanimbar Selatan dengan ibu kotanya Saumlaki. Dalam kedua kecamatan ini terdapat 47 desa.

Kehidupan masyarakat Tanimbar pada jaman prasejarah ditandai oleh beberapa bukti peninggalan benda budaya, antara lain kapak lonjong dari jaman Neolitik. Orang Tanimbar pun mewariskan benda-benda perunggu, seperti gelang kaki, gelang tangan, dan topi. Peninggalan lainnya adalah perhiasan batu indah, seperti gelang, kalung, tusuk konde, dan mahkota. Ada pula benda-benda keramik yang memakai hiasan tenun dengan pola anyaman, yang menjadi petunjuk tentang kepandaian mereka dalam bertenun pada masa itu. Selain itu, ditemukan pula peninggalan berupa alat-alat pemukul kulit kayu yang diberi lukisan bergaris.

Advertisement

Seorang penyiar agama Kristen, P. Drabbe, pernah berdiam lama di tengah masyarakat Tanimbar, dan kemudian menghasilkan karangan etnografi berjudul Het Leven van den Tanembarees, Ethnografische Studie over het Tanembareesche Volk (Leiden, 1940). Karangan itu menguraikan berbagai aspek budaya orang Tanimbar, mulai dari yang bersifat konkret sampai yang abstrak. Ia menguraikan adat pemeliharaan tubuh, macam-macam pakaian dan perhiasan, pola menetap, makanan, dan cara-cara bertani. Ada pula uraian tentang susunan pemerintahan desa dan kehidupan rumah tangga. Bagian lainnya menguraikan bahasa, kesusastraan, mitologi, ilmu gaib, dan kepercayaan.

Kini mata pencaharian utama orang Tanimbar adalah bertani di ladang dan menangkap ikan. Tanaman pokoknya jagung, ubi, taro, dan singkong. Kadang- kadang mereka juga meramu sagu. Mereka memakan beras pada waktu ada upacara atau pesta. Penduduk kepulauan ini setidak-tidaknya terbagi atas dua kelompok pemakai bahasa, yaitu bahasa Yamdena dan bahasa Fordat. Dalam masalah kekerabatan mereka menganut prinsip patrilineal. Kini bagian terbesar orang Tanimbar memeluk agama Katolik, meskipun unsur kepercayaan asli masih mereka amalkan.

Advertisement