Advertisement

Adalah menghilangnya secara permanen semua tanda-tanda kehidupan, seperti denyut jantung, (angis, gerak, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup, walaupun kehidupan itu hanya berlangsung dalam beberapa detik saja. Kematian bisa terjadi hanya bila ada kelahiran hidup sebelumnya tanpa memperhatikan lamanya waktu antara kelahiran hidup dan kejadian kematian itu. Dalam pengertian mati ini, menurut PBB, tidak termasuk kejadian kematian yang terjadi sebelum kelahiran. Akan tetapi tidak semua negara mengikuti definisi di atas. Di beberapa negara, seperti Equatorial Guinea, Moroko bagian utara, peristiwa bayi yang dilahirkan hidup dan mati dalam waktu 24 jam setelah dilahirkan tidak dianggap sebagai kejadian kematian melainkan sebagai kejadian lahir mati, sedangkan di negara-negara Aljazair, French Guiana, dan Suriah, bayi yang dilahirkan hidup dan mati sebelum masa pencatatan berakhir (mungkin dalam beberapa bulan sesudah kelahiran) dianggap lahir mati sehingga dikeluarkan dari semua tabulasi.

Kelahiran hidup merupakan salah satu hasil kehamilan. Hasil kehamilan lain adalah keguguran (baik tidak disengaja maupun disengaja) dan lahir mati. Kematian bukanlah merupakan hasil kehamilan tetapi suatu kejadian yang terjadi setelah itu (kelahiran hidup terjadi).

Advertisement

Kematian merupakan salah satu faktor utama dalam perubahan penduduk. Oleh sebab itu, data kematian diperlukan untuk mengetahui jumlah penduduk pada suatu waktu tertentu, serta untuk melakukan proyeksi penduduk. Di samping itu, data kematian, khususnya kematian bayi dan anak, dapat pula digunakan sebagai indikator kesehatan dan kesejahteraan suatu masyarakat. Data kematian dapat pula mernberikan gambaran untuk penilaian hasil pemerataan pembangunan yang telah dicapai dalam bidang kesehatan di suatu negara.

Keterangan kematian dapat diperoleh dari registrasi, sensus, maupun survai. Untuk Indonesia sampai saat ini masih dirasa banyak kelemahan pada keterangan tentang kematian. baik yang berasal dari registrasi maupun kedua sumber lainnya. Ada kecenderangan bahwa keterangan tentang kematian yang diperoleh adalah rendah cacah, karena masyarakat sering berusaha melupakan kejadian kematian yang pernah mereka alami. Oleh karena itu sulitlah mengharapkan gambaran/ukuran kematian yang akurat dari perhitungan secara langsung (langsung dari data kematian). Di segi lain, data kematian tetap diperlukan untuk perumusan kebijaksanaan dalam bidang kependudukan. Untuk mengatasi masalah di atas, perlu dicari jalan keluar berupa metode yang dalam perhitungannya menggunakan data yang tersedia. Metode mi dikenal dengan nama penghitungan kematian secara tidak langsung; penghitungan ukurannya dilakukan nielalui keterangan kelahiran (data anak lahir hidup dan anak masih hidup).

Ada beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk welihat keadaan dan perkembangan kematian di suatu daerah, di antaranya (yang dianggap sebagai ukuran dasar): (1) Angka atau Tingkat Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR); (2) Angka atau Tingkat Kematian menurut Umur (AKmU) atau Age Specific Death Rate (ASDR); (3) Angka atau Tingkat dan Ratio Kematian menurut Sebab (AKmS) atau Cause Specific Death Rate (CSDR); (4) Angka atau Tingkat Kematian Maternal (AKM) atau Maternal Mortality Rate (MMR); (5) Angka atau Tingkat Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR); (6) Angka atau Tingkat Kematian Anak (AKA) atau Child Mortality Rate (CMR).

Dari keenam ukuran di atas, angka kematian bayi merupakan ukuran yang paling banyak tersedia. Menurut beberapa sumber data yang ada diperoleh gambaran adanya perbedaan angka kematian antara satu daerah dan daerah lainnya. Tinggi rendahnya angka kematian bayi maupun angka kematian lainnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya struktur umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, status sosial ekonomi, serta keadaan lingkungan.

Angka kematian di Indonesia sampai saat ini masih tinggi, walaupun sudah mulai menunjukkan penurunan. Angka kematian bayi di Indonesia tahun 1971 adalah 143 per 1.000 kelahiran hidup; tahun 1980 adalah 107 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah menunjukkan penurunan tetapi masih tetap tinggi. Oleh karena itu pemerintah Indonesia terus berupaya menurunkan angka kematian, khususnya dengan meningkatkan partisipasi masyarakat. Pada Repelita IV, pemerintah telah menentukan target angka kematian bayi di Indonesia 70 per 1.000 kelahiran hidup pada akhir Pelita IV (1988).

Incoming search terms:

  • pengertian mati
  • gambaran lahir hidup mati
  • mortality arti
  • pengertian child mortality rate
  • pengertian csdr
  • pengertian mortality rate
  • pengrtian mati

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian mati
  • gambaran lahir hidup mati
  • mortality arti
  • pengertian child mortality rate
  • pengertian csdr
  • pengertian mortality rate
  • pengrtian mati