PENGERTIAN MATRILINEALITAS VS. PATRILINEALITAS ADALAH – Sebagian besar ahli pada abad ke-19 yakin bahwa matrilinealitas datang sebelum patrilinealitas, tetapi mereka memiliki perbedaan pandangan mengenai bukti dan alasan mengapa satu sistem keturunan_unilineal muncul terlebih dahulu dan yang lain berevolusi dari-sistem tersebut. William Lubbock (1874[1870]) mengemukakan sikap skeptis terhadap makna matrilinealitas primitif, tetapi ia sependapat bahwa masyarakat matrilineal yang ada telah berevolusi menurut garis yang sama. Ia yakin bahwa matrilinealitas pernah berkembang dominan di dunia, tatkala pranata perkawinan belum sepenuhnya berkembang. Tatkala pranata perkawinan sepenuhnya berkembang, kepemilikan akan diteruskan dari seorang laki-laki ke anak-anaknya (patrilinealitas) ketimbang kepada anak-anak saudara perempuannya (matrilinealitas). Namun, Lubbock juga menunjukkan bahwa pada masyarakat yang paling “biadab” di mana pranata perkawinan tidak dikenal, “perempuan” kurang dihargai, dan dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Dengan kata lain, ia tidak mendukung teori-teori matriarkal yang kuat kedudukannya pada masa itu.

Para ahli yang lebih menyukai pentingnya matrilinealitas berdebat dengan mereka yang lebih menyukai pentingnya patrilinealitas atau dengan kalangan pro-teori matrilinealitas sendiri. Morgan tidak mem-bahas patrilinealitas, dan membiarkannya menjadi bahan perdebatan di kalangan mereka sendiri. Perdebatan itu berpusat pada alasan mengapa matrilinealitas mendahului patrilinealitas. McLennan (1970 [1865]), misalnya, berpendapat bahwa perjuangan untuk memperoleh makanan pada zaman dahulu kala mendorong dilakukannya pembunuhan bayi perempuan. Kekurangan anak perempuan mengakibatkan terwujudnya poliandri (satu perempuan kawin dengan beberapa laki-laki). Para ang-gota masyarakat purba ini tidak dapat menentukan siapa ayah dari setiap anak yang lahir, sehingga mereka akhirnya menentukan garis keturunan berdasarkan ibu saja (matrilineal descent). Patrilineal berkembang ke-mudian, ketika mulai terjadi peristiwa laki-laki tertangkap ketika perang antar kelompok, dan kemudian mereka mempertukarkan perempuan dengan laki-laki dari kelompok lain.

Morgan (1871; 1877) memusatkan perhatian pada terminologi ke-kerabatan. Bagian dari argumentasi Morgan yang penting dalam ke-kerabatan berciri difusionis. Orang Iroquis dari Negara Bagian New York dan Ontario yang dipelajari Morgan selama puluhan tahun mempunyai aturan keturunan dan pewarisan matrilineal dan peristilahan hubungan kerabat yang sama dengan beberapa kasus di Asia Selatan. Ia mencatat pula bahwa orang Indian Ojibwa, tetangga orang Indian Iroquis, memiliki terminologi dengan struktur yang sama meski mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Ia menegaskan bahwa manusia pertama. di Amerika Utara pasti datang dari Asia, suatu fakta yang kini semakin tegas bukti-buktinya. Selanjutnya ia berpendapat bahwa pada masa lampau orang Asia pastilah pernah menganut sistem matrilineal. Klasifikasi mereka yang menyebut ayah dan saudara laki-laki ayah dengan satu istilah kekerabatan, dan klasifikasi sepupu sejajar sebagai “saudara kandung laki-laki dan perempuan’”, mendorong Morgan berhipotesis tentang’suatu sistem perkawinan beberapa saudara sekandung dengan seorang perempuan. Dari sistem yang demikian itulah keturunan matrilineal muncul.

Morgan yakin bahwa terminologi hubungan kekerabatan adalah konservatif, dan terminologi itu mencerminkan fakta sosial purba. Dengan kata lain, terminologi itu menyimpan tanda-tanda bentukbentuk masa lampau organisasi sosial karena aspek-aspek lain dari masyarakat berubah lebih cepat daripada terminologi yang digunakan para anggotanya. Menurut Morgan, patrilinealitas datang agak lambat, yakni ketika meningkatnya kepemilikan pribadi dan aturan-aturan yang terkait dengan pewarisan, dari ayah ke anak laki-laki. Orang Iroquis yang matrilineal merepresentasikan suatu tahap-antara dalam evolusi, sebelum garis keturunan patrilineal, tetapi lama setelah apa yang dia sebut tahap “hubungan seks promiskuitas”. Fase awal dari promiskuitas berevolusi menjadi suatu sistem kohabitasi atau saling kawin antara saudara sekandung laki-laki dan perempuan, sehingga melahirkan “keluarga komunal”. Sebagai contoh, masyarakat Hawaii zaman kuno mempraktikkan saling-kawin di antara saudara laki-laki dan istri-istri mereka, atau saudara-saudara perempuan dengan suami-suami mereka, sehingga pada masa itu mereka saling “memiliki” bersama satu sama lain. Sebagai bukti, keadaan ini tercermin pada adat pengelompokan kekerabatan Hawaiian di mana kelompok kekerabatan tersebut masih memandang hubungan mereka sebagai pinalua, yakni seseorang yang memiliki hubungan intim, meskipun pada masa berikutnya mereka tidak lagi mempertahankan praktik hubungan seksual dalam pengertian yang sebenarnya.

Filed under : Bikers Pintar,