Advertisement

Surat kabar yang diterbitkan pada tahun 1907-1912, mula-mula di Jakarta dan kemudian pindah ke Bandung, dianggap sebagai surat kabar harian pertama berbahasa Indonesia (Melayu) yang dimodali, dicetak, dan diasuh oleh pengusaha dan wartawan pribumi Indonesia. Orang itu Raden Mas Tirtoadhisoerjo, alias R.M. Djokomono, mungkin merupakan warga pribumi pertama yang menjadi pengusaha percetakan dan penerbitan di Indonesia.

Selain itu ia dipandang sebagai “Bapak Wartawan Indonesia.” Ia juga dianggap sebagai wartawan Indonesia pertama yang menggunakan surat kabarnya sebagai media untuk membentuk pendapat umum. Berbagai karangan yang dimuatnya menentang paham kolot dan mengecam keras pejabat Hindia Belanda yang dianggapnya menyalahgunakan kekuasaan. Surat kabar digunakannya pula sebagai alat untuk memperjuangkan hak dan keadilan bagi penduduk.

Advertisement

Memang, setengah abad sebelumnya sudah ada surat kabar pertama dalam bahasa Melayu, yaitu Soerat fcabar Bahasa Melajoe, tetapi surat kabar itu diterbitkan oleh perusahaan Belanda dan diasuh oleh redaktur-redaktur Belanda. Surat kabar itu diterbitkan di Surabaya dan untuk pertama kali muncul pada tanggal l2Januari 1856.

Di bawah logo (nama surat kabar) Medan Prijaji dimuat motto: “Soeara bagai… bangsajang terprentah … di seloeroeh Hindia Olanda.” Semboyan demikian pada masa itu dianggap sangat radikal biia dibandingkan dengan, umpamanya, motto Sinar Soematera di Padang yang berbunyi: “Kekallah keradjaan Wolanda, sampai mati setia kepada keradjaan Wolanda.” Sinar Soematera diterbitkan oleh De Volharding yang direksinya beranggotakan, antara lain, M.A. van Tijn dan Liem Ang Kam.

Sejak pertama kali diterbitkan pada bulan Januari 1907, Medan Prijaji mula-mula tampil sebagai majalah dengan bentuk yang amat sederhana dan berukuran kecil hanya 12,5 x 19, 5 sentimeter setebal 22 halaman. Majalah ini terbit seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan dicetak di Batavia (Jakarta). Karena itu, alamat tata usahanya juga di kota itu. Tetapi suratsurat kepada redaksi dianjurkan untuk dikirim ke alamat Tirtoadhisoerjo, yang menjabat pemimpin redaksi selain penerbit, di Buitenzorg (Bogor).

Untuk memajukan penerbitannya, yang pernah mendapat kesulitan keuangan gawat, ia bekerja sama dengan pengusaha bernama Haji Mohammad Arsad, anggota Budi Utomo cabang Weltevreden (sekarang di Jakarta Pusat) yang diketuai Soetomo. Ia juga mendapat bantuan modal dari Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradiredja ketika majalah ini baru mulai terbit.

Barulah sejak tanggal 5 Oktober 1910 Medan Prijaji berubah bentuk dari majalah mingguan menjadi surat kabar harian. Perubahan itu dilakukan sepulang Tirtoadhisoerjo dari tempat pembuangan di Telukbetung, Lampung. Ia dijatuhi hukuman buang selama tiga bulan oleh pengadilan akibat tulisan-tulisannya yang mengecam keras penyalahgunaan kekuasaan oleh seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda. Ia dituduh menghina pejabat tersebut.

Surat kabar ini kini dicetak di Bandung dan dilengkapi dengan edisi hari Minggu. Sebagai harian, surat kabar ini mengalami kemajuan dan dapat mencapai opiah 2.000 eksemplar. Tetapi riwayat Medan Prijaji berakhir pada tanggal 22 Agustus 1912, karena perusahaan penerbitnya dinyatakan bangkrut akibat utang yang tidak dapat dilunasi. Tirtoadhisoerjo diadili atas gugatan pihak pemberi utang dan dijatuhi hukuman dibuang ke Ambon selama enam bulan pada tahun 1913.

Majalah Wanita Pertama. Tirtoadhisoerjo juga menerbitkan sejumlah media pers lainnya. Yang terkenal ialah majalah Soeloeh Keadilan, yang mulai terbit pada tahun 1907, Soenda Berita, dan Poetri Hindia.

Majalah mingguan Soenda Berita merupakan penerbitan berbahasa Indonesia (Melayu) pertama yang menyediakan ruangan cukup luas bagi karangan mengenai masalah kewanitaan. Banyak di antara karangan itu ditulis oleh kaum wanita dari Jawa dan luar Jawa, dan terutama dimaksudkan sebagai bahan bacaan kaum wanita. Soenda Berita diterbitkan setiap hari Minggu sejak bulan Februari 1903 dan mula-mula berkantor dan dicetak di Cianjur, sebuah kota kabupaten di Jawa Barat Tahun berikutnya majalah ini memindahkan kantornya ke Batavia dan berhenti terbit pada tahun 1906.

Tetapi pelopor penerbitan pers berbahasa Indonesia yang seluruh isinya khusus ditujukan kepada pembaca wanita ialah majalah dwimingguan Poetri Hindia. Majalah wanita pertama dalam bahasa Indonesia ini didirikan di Batavia, dan edisi perdananya terbit pada tanggal 1 Juli 1908. Majalah ini dipimpin oleh Tirtoadhisoerjo sebagai pemimpin redaksi dan R.T.A. Tirtokoesoemo, bupati Karanganyar dan seorang ketua Budi Utomo. Walaupun dipimpin kaum pria, ke19 korespondennya di berbagai kota adalah wanita. Di Nederland, J.J. Meijer, mantan asisten residen di Pulau Jawa, menjadi koresponden dan perwakiian Poetri Hindia dan juga Medan Prijaji. Poetri Hindia berumur empat tahun dan, seperti Medan Prijaji, berhenti terbit pada tahun 1912.

Terbitan berkala pertama di Indonesia untuk kaum wanita sebenarnya adalah majalah Insulinde, yang didirikan di Batavia pada tahun 1902. Tetapi majalah itu berbahasa Belanda dan diterbitkan oleh perusahaan penerbitan dan percetakan Belanda, G. Kolff.

Incoming search terms:

  • surat kabar poetri hindia terbit di kota
  • poetri hindia terbit di kota
  • penerbit surat kabar medan prijaji dan poetri hindia merupakan serag editor yg bernama

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • surat kabar poetri hindia terbit di kota
  • poetri hindia terbit di kota
  • penerbit surat kabar medan prijaji dan poetri hindia merupakan serag editor yg bernama