Advertisement

Adalah tindakan memenggal kepala seseorang atas dasar kewajiban adat atau kepercayaan suku bangsa yang melakukannya. Budaya mengayau terdapat pada beberapa suku bangsa di Indonesia, namun yang lebih dikenal adalah pada suku bangsa Dayak. Bagi mereka, mengayau mempunyai makna dan alasan yang berakar pada nilai budaya.

Menurut adat orang Dayak, mengayau mempunyai maksud dan tujuan bermacam-macam, yang berhubungan dengan banyak aspek kehidupan, misalnya untuk kepentingan memperoleh hasil pertanian yang berlimpah. Menurut kepercayaan mereka, dengan mengayau dan kemudian mempersembahkan kepala korban, segala dosa mereka akan diampuni oleh para dewa, sehingga hama yang merusak tanaman dan gangguan lainnya akibat dosa manusia yang melanggar adat dapat diatasi. Suatu pelanggaran t iat bisn menimbulkan kemurkaan Mahatara atau Jubata, dan hal ini akan menimbulkan gangguan pada tatakosmos, yang terwujud dalam bentuk bencana alam, wabah penyakit, atau musnahnya tanaman. Untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maafnya, mereka harus mengadakan upacara kurban, antara lain berupa persembahan tengkorak hasil mengayau.

Advertisement

sebelum dipersembahkan, tengkorak terlebih dahulu jjadopsi sehingga bisa dianggap sebagai saudara Bandung mereka sendiri, dan dapat mewakili mereka.

Me igayau juga ditujukan untuk mendapatkan tambahan daya rohaniah. Suku bangsa Dayak memandang tinggi dan mempercayai kekuatan jiwa. Menurut kepercayaan mereka, pusat kekuatan jiwa (gana) terdapat pada kepala manusia. Di kepala inilah terpadu seluruh daya kuasa rahasia terampuh dalam diri manusia, sehingga seseorang akan bertambah daya rohaniahnya apabila ia memiliki dan menguasai tengkorak orang lain. Semakin banyak tengkorak yang bisa dikuasai dan dimiliki, semakin besarlah daya rohani yang dimilikinya, dan dengan demikian semakin be ar penghormatan dari warganya.

Mengayau juga dilakukan atas dasar rasa balas dendam secara adat. Pada masa lampau, peperangan antara suku sering kali terjadi; mereka akan senantiasa meneruskan hal ini kepada keturunannya melalui cerita. Dengan demikian rasa balas dendam kepada suku lain yang pernah menyerang atau mengayau anggota kelompoknya akan tetap hidup dalam sanubari merelea. Pembalasan dendam ini bisa melalui berbagai macam cara. Untuk menentukan cara yang akan digunakan, biasanya mereka mengadakan suatu upacara adat, sebab pembalasan dendam tidak selalu harus diganti dengan kepala manusia. Upacara dimulai dengan membaringkan mayat anggota suku yang menjadi korban pembunuhan di tengah lapangan dalam kampung. Di sekitar mayat itu diletakkan empat batang bambu, yang masing-masing diberi tulisan mamaleh, artinya balas darah, balaku sehiring, artinyaminta tebusan, upan kayau, artinya pokok pengayauan, dan dinon jipen, artinya mendapat budak. Cara membalas dendam ditentukan oleh bambu yang terbelah ketika upacara dilangsungkan. Jika bambu pertama a au ketiga terbelah, pembalasan dendam dilakukan dengan cara pertumpahan darah; jika bambu kedua atau keempat yang terbelah, pembalasan dendam dilakukan melalui pembayaran tebusan berupa benda suci, uang, atau budak.

Mengayau tidaklah dilakukan begitu saja, melainkan harus didahului dan diakhiri dengan upacara adat tertentu. Apabila suatu kelompok hendak mengadakan pengayauan, seluruh warga kampung mengadakan upacara pemberangkatan untuk memberikan doa restu. Upacara adat semacam ini dilakukan lagi untuk menyambut rombongan yang pulang membawa tengkorak-tengkorak hasil pengayauan. Menurut kepercayaan, tengkorak tersebut tidak boleh langsung dibawa ke dalam kampung sebelum diadakan upacara tertentu, sebab dapat mendatangkan bencana bagi keselamatan seluruh warga kampung. Selain untuk tujuan di atas, mengayau juga dimaksudkan untuk daya tahan berdirinya suatu bangunan.

Pada mulanya, suku bangsa Dayak ini mempunyai kepercayaan bahwa untuk memperoleh keselamatan uan keoahagiaan Jubata mereka harus mempersembahkan korban kepadanya. Di antara jenis-jenis kurban persembahan, yang dianggap mempunyai khasiat dan nilai tinggi adalah anak tunggal. Hal ini sudah tentu dirasakan sangat merugikan keluarga yang ^enghendaki keselamatan dan kebahagiaan di Nmahnya. Oleh sebab itu, mereka mulai memikirkan Pengganti anak kandung yang akan dikorbankan kepada Jubata. Dari sinilah lahir tindakan mengayau atau memenggal kepala manusia dari kelompok lain yang dianggap musuh.

Bersamaan dengan perubahan kebudayaan mereka, pemenggalan kepala ini pun dirasakan merugikan, dan kemudian diganti dengan mencari kepala orang yang telah meninggal Hal ini pun kemudian dihentikan karena tetap dirasakan merugikan orang lain, lebih-lebih setelah masuknya agama Kristen. Persembahan kepada Jubata berupa tengkorak kemudian digantikan dengan he\van ayam atau babi. Penggantian jenis korban ini bisa diterima karena yang penting dalam berkorban adalah mencurahkan darah untuk pembasuh tempat tertentu dalam rumah atau bangunan baru yang dianggap penting. Dengan demikian, adat mengayau pun kini telah ditinggalkan. Sejak jaman kemerdekaan RI kasus pengayauan sudah jarang terdengar. Tetapi, di Kalimantan Barat, tradisi mengayau yang sudah hilang itu muncul lagi sekitar akhir tahun 1960-an sewaktu terjadi huru hara akibat gerombolan PGRS.

Advertisement