PENGERTIAN MENUJU ILMU PERILAKU YANG LEBIH MENYELURUH – Terlepas dari apakah terapis memiliki warna kulit atau etnis yang sama dengan klien, adalah penting bagi profesional kesehatan mental untuk menyadari dan peka terhadap berbagai struktur nilai dan pengalaman hidup yang dimiliki klien. Hal yang sama juga dapat dikatakan dalam penanganan klien yang memiliki perbedaan dengan terapis hingga memengaruhi sikap dan perilaku. Studi mengenai faktor-faktor etnis atau ras dalam intervensi psikologis, serta perannya dalam pengukuran klinis, dapat ditemukan dalam konteks kepentingan sosial dan sains yang lebih luas yang melibatkan variabel semacam itu dalam studi perilaku manusia. Dipertimbangkannya keragaman dapat meningkatkan pemahaman ilmiah kita mengenai manusia. Jika keanggotaan dalam subkultur tertentu berperan, contohnya, dalam hal seberapa cepat emosi diproses, mengabaikan budaya sebagai suatu variabel dapat membatasi pemahaman kita mengenai peran ekspresi emosi dalam psikopatologi. Dan keterbatasan semacam itu tidak hanya dapat merusak pengetahuan basis data kita, namun juga kemampuan kita untuk memenuhi tanggung jawab sosial kita. Budaya dan nilai-nilai semakin diakui sebagai faktor-faktor penting dalam cara masyarakat menstrukturkan ilmu pengetahuan dan membuat kebijakan. Sensitivitas kami terhadap berbagai paradigma dalam ilmu pengetahuan di sepanjang buku ini mencerminkan pemahaman tersebut. Dalam bab terakhir, kami akan mengkaji lebih jauh saling keterkaitan yang kompleks antara ilmu pengetahuan ilmiah dan penggunaan pengetahuan tersebut dalam memengaruhi kehidupan manusia.

• Penelitian mengenai efektivitas berbagai bentuk psiko terapi telah dilakukan selama beberapa dekade dengan hasil yang kadang membingung-kan dan tidak konsisten. Evaluasi terhadap ber-bagai efek terapi semakin banyak dilakukan seiring meningkatnya tuntutan akuntabilitas dari perusahaan-perusahaan asuransi kesehatan.

• Terdapat perbedaan terkait bagaimana terapi diuji dalam lingkungan eksperimental dan bagaimana terapi tersebut dipraktikkan oleh para ahli klinis. Uji coba klinis acak menggunakan manual pena-nganan yang merinci hal-hal yang harus dilakukan para eksperimenter ketika memberikan terapi tertentu bagi para peserta penelitian. Meskipun praktik ini meningkatkan validitas internal penelitian psikoterapi, kebalikannya dengan pelaksanaan terapi dalam praktik nyata—dilakukan penyesuaian sesuai kebutuhan pasien-mengurangi validitas eksternal penelitian semacam itu.

• Psikoanalisis klasik mencoba mengungkap tekanan di masa kanak-kanak agar rasa takut terhadap ekspresi libidinal di masa kecil dapat diuji oleh ego dewasa terkait realitas di masa sekarang. Berbagai variannya mencakup terapi psikodinamika singkat, yaitu suatu terapi dengan waktu terbatas yang lebih menekankan pada berbagai masalah praktis di kehidupan nyata dalam kerangka umum psikoanalisis. Penelitian mengenai berbagai terapi psikoanalisis menunjukkan bahwa terapi tersebut dapat bermanfaat untuk menangani berbagai macam gangguan anxietas dan depresi, tetapi tidak terlalu bermanfaat untuk psikopatologi yang lebih serius.

• Terapi berpusat pada klien yang dikembangkan oleh Rogers menggunakan empati dan penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) untuk membantu pasien menilai dirinya secara lebih akura t dan memercayai insting mereka sendiri dalam mengaktualisasikan diri. Penelitian mengenai terapi berpusat pada klien menguji apakah faktor-faktor seperti empati dan ketulusan yang diberikan oleh terapis berhubungan dengan hasil yang baik dalam terapi. Hasil-hasilnya tidak konsisten. Terlebih lagi, asumsi Rogers manusia pada dasarnya baik dan bahwa mereka memiliki motivasi dalam diri untuk beraktualisasi tidak dapat diterapkan untuk banyak gangguan.

• Terapi Gestalt dari Perls menekankan hidup di masa sekarang dan banyak teknik yang diperke-nalkan olehnya dan para pengikutnya dirancang untuk membantu klien memahami kebutuhan mereka saat ini dan merasa nyaman untuk memenuhinya saat kebutuhan tersebut muncul. Terapi Gestalt dan terapi humanistik dan eksistensial lainnya hanya melahirkan sedikit penelitian, mungkin karena mereka berpendapat bahwa penelitian merupakan proses yang menjadikan manusia sebagai objek dan menghilangkan kemanusiaannya.

• Terapi kognitif dan perilaku mencoba menerap-kan metodologi dan prinsip-prinsip psikologi eksperimental untuk mengatasi masalah psiko-

logis. Terapi ini telah menj adi subjek dalam banyak penelitian dan bukti menunjukkan efektivitas intervensi counter conditioning, pemaparan, operant, dan kognitif-behavioral dalam menangani berbagai macam gangguan. Meskipun demikian, kondisi keberfungsian tingkat tinggi sering kali tidak dicapai, sekalipun oleh pasien yang mengalami perbaikan signifikan.

• Terapi kognitif, seperti terapi perilaku rasional emotif dari Ellis dan terapi kognitif dari Beck, mengubah pemikiran yang diyakini mendasari berbagai gangguan emosional. Terapi ini mencer-minkan semakin pentingnya kognisi dalam ber-bagai intervensi psikologis berbasis eksperimen. Kontrol diri memberikan semacam tantangan menarik bagi paradigma behavioral: seseorang yang aktif dan sadar melalui pilihan yang otonom dan penuh pertimbangan bertindak tanpa pengaruh dari lingkungan.

• Hal yang memiliki kepentingan khusus dalam teraapi kognitif dan behavioral merupakan gene-ralisasi efek penanganan setelah pasien tidak lagi bertemu dengan terapis secara rutin. Beberapa prosedur yang diberikan menjanjikan dipertahankannya manfaat yang diperoleh selama terapi. Hal yang memiliki kepentingan khusus bagi teknik yang sangat bergantung pada pengaruh terapis ini adalah bagaimana pasien memahami perbaikan kondisi yang dialaminya. Mendorong atribusi internal “Saya menjadi faktor utama dalam perbaikan kondisi yang saya alami” merupakan cara untuk membantu pasien pertahankan manfaat yang diperoleh setelah terapi selesai.

• Terapi perkawinan atau pasangan membantu pasangan yang bermasalah mengatasi berbagai konflik yang tidak terhindarkan dalam setiap hubungan antara dua orang dewasa yang hidup bersama. Terapi behavioral dan beberapa terapi insight menjanjikan untuk mengurangi stres yang dialami banyak pasangan.

• Psikologi komunitas terutama bertujuan untuk mencegah terjadinya gangguan. Bidang ini meng-gunakan moda mencari dan bukan moda tradi-sional yang cenderung menunggu dalam mem-bantu masyarakat melakukan coping dengan ber-bagai stresor berskala besar dan berbagai tantang-an hidup lainnya, seperti infeksi HIV dan penyakit kardiovaskular. Berbagai isu politis dan etis merupakan aspek intrinsik dalam semua upaya terapeutik yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang sebenarnya tidak meminta bantuan.

• Eklektisisme dan integrasi teoretis dalam psiko-terapi mewakili suatu trend yang mencerminkan semakin meningkatnya kesadaran banyak ahli klinis dan peneliti mengenai keterbatasan pende-katan teoretis yang mereka anut. Psikoanalisis dan terapi perilaku dapat saling melengkapi dan mengambil manfaat dari kekuatan masing-masing pendekatan untuk membantu para profesional memahami dengan lebih baik kondisi manusia dan mendesain intervensi terapeutik yang efektif. Meskipun demikian, terdapat risiko dalam mengintegrasikan berbagai macam perspektif teoretis—contohnya, mengomentari perbedaan yang mungkin lebih baik diuji dan dievaluasi.

• Latar belakang budaya dan ras pasien memberi-kan beragam tantangan. Berbagai isu spesifik seputar penanganan kelompok yang beragam seperti etnis Afrika Amerika, Latin, Asia Amerika, dan penduduk asli Amerika, termasuk jenis masalah yang dapat dialami orang-orang dalam kelompok ini dan jenis sensitivitas yang harus dimiliki para ahli klinis dengan tujuan menangani.

Filed under : Bikers Pintar,