Advertisement

Sebuah novel karya Iwan Situpang (1828-1970) yang terbit pada tahun 1968, tlljuh tahun setelah ditulisnya. Novel ini merupakan sajah ;atu dari empat novel Iwan, yang lain adalah liaroh, Kering, dan Koong.

Secara umum, novel-novel Iwan tidak begitu mudah diterima khalayak, karena bentuknya khas. Apajagi novel ini terbit pada waktu kebanyakan novel vang lain bercorak realistis dan membawa ide-ide yang hidup dalam masyarakat secara konvensional. I^ovel ini mengisahkan seorang bekas pejuang di masa revolusi, yang setelah kemerdekaan hidup mengaelandang di kota. Kerap kali ia bertemu dengan bekas bawahannya yang telah menjadi pejabat tinggi, yang elalu menawarkan jasa baik untuk memperoleh kehidupan layak, tetapi ia tetap menolaknya. Ia memilih hidup sebagai gelandangan dengan pikiran bahwa kehidupan macam itu adalah kehidupan yang telah melewati tataran fisik, yaitu mereguk kemewahan yang sukar terjamah oleh manusia yang masih berada di tataran fisik.

Advertisement

Novel ini sarat dengan jalan pikiran yang filosofis. Menurut ceritanya, tokoh utama novel ini mengalami trauma peperangan, setelah pernah menjadi algojo yang memancung pengkhianat bangsa dalam perang. Dahulu ia seorang calon rahib yang saleh. Jalan ceritanya .^eakan-akan disusun secara tidak berurutan, terasa karikaturis, dengan nada kocak tetapi mengandung warna trenyuh tentang keterbatasan pandangan manusia. Karena itu, novel ini pun mengandung gaya esai yang panjang. Acap kali seorang tokoh berbicara panjang lebar tentang pendapatnya. Pada bagian tertentu jalan cerita terasa seperti terputus, tetapi berpaut kembali, hingga akhir cerita.

Banyak kritikus saling berselisih dalam menafsirkan novel ini. Ada yang menganggap bahwa pengarangn a sekadar mengajukan suatu kritik sosial, dengan mengangkat permasalahan gelandangan khas di kota besar. Ada pula yang mempersoalkan ide-ide filsafat yang disodorkan di dalamnya. Tetapi umumnya para pemberi komentar berpendapat bahwa novel ini menuntut tingkat intelektualitas tertentu para pembacanya. Secara umum, novel ini dihubungkan dengan gagasan filsafat eksistensialisme. Dalam jangka waktu hampir 20 tahun, novel ini telah mengalami enam kali cetak ulang (terakhir tahun 1987).

Incoming search terms:

  • arti dari merahnya merah
  • novel merahnya merah
  • Pengertian Ovel

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti dari merahnya merah
  • novel merahnya merah
  • Pengertian Ovel