Advertisement

Atau pemerajan atau sanggah, adalah bangunan suci sebagai salah satu unsur bangunan yang harus ada di antara unit-unit bangunan dalam lingkungan satu pekaiangan rumah tinggal tradisional Bali. Keseluruhan unit bangunan dalam satu pekarangan itu dikelilingi oleh pagar tembok, penyengker pekarangan, pelindung sesuatu yang bersifat fisik dan batin di dalamnya.

Sebagai bangunan suci, di dalam pekarangan merajan ditempatkan di bagian paling hulu, sebagai alam ^-wata, alam sakral, yang terletak di arah matahari terbit, arah gunung, dan perpaduan kedua arah tersebut. Di lingkungan pekarangan merajan ada pula penyengker merjan\ di dalamnya terdapat sejumlah unit bangunan suci (pelinggih) yang terdiri atas sanggah kamulan, taksu, gedong merta, dll.

Advertisement

Merajan merupakan pusat peribadatan keluarga untuk menghormati nenek moyang, sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan hal yang gaib. Bangunan dan kegiatan peribadatan itu merupakan simbol dalam memperoleh keselarasan lahir batin, keselarasan antara kekuatan negatif (buta) dan kekuatan positif (dewadewa) dalam alam semesta. Keselarasan merupakan salah satu nilai yang amat penting dalam pandangan masyarakat Bali.

Unit bangunan suci ini terdiri atas bagian kepala, badan, dan kaki. Pada masa lalu unit bangunan merajan terbuat dari bahan-bahan yang langsung diramu dari alam. Bahan untuk atap (kepala) adalah alangalang, ijuk, atau bilah bambu. Bahan untuk badan dan bawah (kaki) adalah kayu, bambu, tanah liat, batu. Sekarang di banyak pekarangan, bangunan suci dibangun dengan menggunakan bahan-bahan bangunan seperti seng, genteng, bata, keramik, di samping kayu. Bangunan itu dibuat dalam wujud yang lebih besar dan kekar, lebih indah, sehingga menelan biaya yang cukup besar.

Pada masa kini unit tertentu rumah tradisional Bali di lingkungan perkotaan telah berubah fungsinya. Ada bagian yang diubah menjadi toko (kaset, souvenir), restoran, home stay, untuk melayani kebutuhan wisatawan. Keadaan semacam ini menyebabkan unit tertentu rumah ditempatkan di lantai dua atau tiga. Dengan demikian merajan pun terkadang diletakkan di lantai dua atau tiga, namun posisinya tetap pada bagian hulu. Karena merajan disyaratkan harus berhubungan dengan bumi, hubungan itu dilakukan melalui pipa paralon yang diisi tanah. Inilah wujud adaptasi mereka dalam menanggapi perubahan yang terjadi. Di pihak lain mereka tetap menjaga kesucian dan kesakralan bangunan yang merupakan sarana upacara keagamaan itu.

 

Incoming search terms:

  • pengertian merajan
  • makna merajam
  • pengertian sanggah
  • pengertian tentang merajan
  • merajan rumah
  • apa arti merajan
  • klasifikasi pelinggih merajan
  • definisi merajan
  • arti dari SANGGAH BUMI
  • apa itu mrajan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian merajan
  • makna merajam
  • pengertian sanggah
  • pengertian tentang merajan
  • merajan rumah
  • apa arti merajan
  • klasifikasi pelinggih merajan
  • definisi merajan
  • arti dari SANGGAH BUMI
  • apa itu mrajan