Advertisement

Perusahaan penerbangan nasional Indonesia yang melayani rute penerbangan domestik. Menurut Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1978 tugas penerbangannya meliputi penerbangan perintis, penerbangan lintasbatas, penerbangan transmigrasi, dan penerbangan angkutan barang dalam dan luar negeri.

Armada perusahaan ini berjumlah 84 buah (tahun 1989), yang terdiri atas 2 pesawat Vickers Viscount (Jengan kaPasitas angkut 65 penumpang; 2 pesawat pj$_748 dengan kapasitas 44 penumpang; 15 pesawat fokker F-27 dengan kapasitas 6D penumpang; 10 pesawat Cassa CN-235 buatan IPTN Bandung dengan kapasitas 40 penumpang; 17 Cassa C-212 dengan kapasitas 18 sampai 24 orang; 12 pesawat Twin Otter pffT dengan kapasitas 18 penumpang; 21 pesawat fokker F-28 dengan kapasitas 65 sampai 85 penumnang; 2 pesawat Hercules dengan kapasitas 100 penumpang; serta  pesawat DC-9.

Advertisement

Sejarah. Perkembangan Merpati bermula sejak awal November 1958. Ketika itu Perdana Menteri Indonesia Ir. H. Djuanda meresmikan “Jembatan Udara Kalimantan” untuk hubungan antardaerah di Kalimantan yang sangat sulit sarana perhubungannya. Tuaas ini mula-mula dilaksanakan oleh TNI-AU.

Dalam perkembangannya, turun Keputusan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1962, yang menetapkan bahwa tanggal 6 September 1962 sebagai hari lahirnya PN Merpati Nusantara ketika itu belum memakai nama Merpati Nusantara Airlines. Tugas pokoknya adalah menyelenggarakan perhubungan udara antardaerah dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat luas.

Pesawat yang menjadi modal pertama PN Merpati Nusantara waktu itu berupa 4 pesawat De Havilland Otter DHC-3 dan 2 pesawat Dakota DC-3. Tenaga-tenaga penerbang dan teknisi pada awalnya diperoleh dari bantuan TNI-AU dan Garuda Indonesian Airways. Operasi penerbangan yang pertama adalah menjembatani perhubungan antara Jakarta Banjarmasin Pangkalanbun dan Sampit.

Pada tahun 1963, Irian Barat diserahkan Pemerintah Belanda ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, sebuah perusahaan penerbangan Belanda di Irian Jaya, NV. De Kroonduif diserahkan kepada Garuda Indonesian Airways, lengkap dengan 6 pesawatnya. Oleh Garuda, semua hak atas pemilikan pesawat dan operasinya beserta teknisinya diserahkan kepada Merpati Nusantara.

Merpati pun makin berkembang dan daerah operasinya diperluas lagi. Pada tahun 1969 nama Merpati Nusantara diubah menjadi Merpati Nusantara Airlines, disingkat MNA.

Penerbangan Perintis. Pada tahun 1974, secara resmi Merpati diserahi tanggung jawab oleh Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan penerbangan perintis ke daerah terpencil. Sebenarnya, pengoperasian penerbangan perintis merupakan suatu proyek non-komersial, bahkan pada awalnya bisa dikatakan sebagai proyek rugi. Hal ini disebabkan karena pesawat-pesawat untuk penerbangan perintis itu hanyalah pesawatpesawat kecil yang biaya operasi per unitnya sangat tinggi.

Pada tanggal 1 September 1989, Merpati dinyatakan berintegrasi penuh ke dalam tubuh Garuda Indonesia. Dalam proyek integrasi itu Merpati akan memperoleh “hibah” dari Garuda berupa 9 pesawat DC-9, 22 pesawat Fokker F-28 seri 4000 dan 6 pesawat Fokker F-28 seri 3000. Merpati juga akan memperofeh operan 48 rute penerbangan dari Garuda. Kemudian dilakukan pembagian tugas operasional antara Merpati dan Garuda. Merpati bertugas menyelenggarakan penerbangan seluruh rute domestik, dan Gamda menyelenggarakan penerbangan internasional.

Selain itu, Merpati juga akan diserahi tugas menyelenggarakan penerbangan angkutan haji dan penerbangan carter, di samping tetap melaksanakan penerbangan lintas batas. Namun demikian, misi utama sejak pertama didirikan, yaitu misi penerbangan perintis, terus dikembangkan.

Advertisement