Proletarisasi.

Pengertian middle class (kelas menengah) adalah Ada serang­kaian kontroversi panjang tentang tempat kelas menengah dalam sistem masyarakat industri. Kontroversi itu antara lain me­nyangkut apakah ada satu kelas menengah atau lebih; apakah CLASS (atau kelas-ke­las) jenis ini ada di “tengah” masyarakat; apakah posisi kelas ini bisa diubah melalui proses “proletarisasi,”; dan apakah kelas­kelas semacam ini akan mengembangkan bentuk politik dan kesadaran yang berkai­tan dengan WORKING CI,ASS atau kelas kapi­talis atau apakah independen dari kedua kelas itu.

Pekerjaan kerah putih.

Istilah “kelas menengah” tampak­nya pertama kali dipakai oleh Reverend Thomas Gisborne pada 1785, untuk me­nyebut properti dan kelas entrepreneurial yang berada di antara pemilik tanah, di satu pihak, dan pekerja agrikultural dan urban, di pihak lain. Penggunaan istilah ini masih umum selama abad ke-19 tetapi pada abad ke-20 istilah “kelas menengah” mengacu pada “pekerjaan kerah putih” (“kantoran”). Jenis pekerjaan ini antara lain kelompok profesional, seperti dokter, akuntan, pengacara, akademisi, dan peker­jaan klerik atau administratif yang rutin. Apa pun definisinya yang jelas bahwa kelompok jenis ini makin banyak di nega­ra-negara Barat. Di Inggris, misalnya, pro­porsi pekerja non-manual naik dari 19 persen pada 1911 menjadi 47 persen pada 1981. Peningkatan ini terutama menonjol di kalangan wanita. Pada 1981 sekitar ada tiga perlima dari pekerja perempuan, tetapi hanya sekitar dua perlima dari pe­kerja lelaki, yang memegang jabatan non­manual. Namun, ada perbedaan mencolok dalam komposisi gender dalam pekerjaan non-manual yang berbeda. Kebanyakan pekerja profesional atau pria; kebanyakan pekerja kerah putih level rendah adalah wanita. Ada banyak teori yang berusaha me­nempatkan kelas ini di dalam sistem ma­syarakat kapitalis maju. Ini dapat dibagi menjadi teori Marxis dan Weberian. Dalam teori Marxis dikatakan bahwa adalah rela­si produksi yang menghasilkan kelas sosial yang berbeda, sedangkan teori Weberian menyatakan bahwa kelas diciptakan me­lalui cara-cara berbeda di mana imbalan dari pekerjaan yang berbeda diterima dan didistribusikan melalui pasar. Pandangan Marx sendiri mengandung kontradiksi. Di satu sisi, dia mengatakan bahwa akan ada polarisasi yang membesar antara “dua kelompok yang bertentangan” yakni kelas borjuis dan pekerja (buruh) yang menyebabkan kelas menengah akan muncul dan bergabung atau bermusuhan dengan salah satu dari dua kelompok itu (lihat juga BouRGEoistE). Di sisi lain, dia berpendapat bahwa kelas menengah akan makin banyak karena semakin sedikit pro­porsi pekerja yang perlu berperan langsung dalam produksi komoditas material—teru­tama akan meningkatkan pentingnya “pe­kerja komersial upahan”. Namun banyak Marxis berpendapat bahwa pekerja kantoran itu pada dasarnya adalah kelompok yang tak stabil. Beberapa penulis menegaskan bahwa tidak ada yang namanya kelas menengah, tetapi hanya strata menengah. Akibat dari ketidak­amanan pekerjaan dan “deskilling” tenaga kerja, dengan meningkatnya mekanisasi dan perkantoran, strata itu akan meng­alami “proletarisasi” posisi kelas mereka (Braverman, 1974). Dan dikatakan bahwa dari waktu ke waktu strata menengah ini akan mengadopsi bentuk kesadaran kelas proletarian dan memilih partai beraliran kiri.

Kelas manajerial-profesional. Pengertian middle class (kelas menengah) adalah

Penulis Marxis lainnya berpendapat sebaliknya, yakni bahwa tidak ada proses proletarianisasi umum. Poulantzas (1947), misalnya, berpendapat bahwa ada “bor­juis kecil” yang bukan hanya ditentukan oleh sruktur ekonomi, tetapi juga struktur ideologi dan politik, dan memiliki posisi kelas yang berbeda dari kelas kapital dan buruh. Johnson (1972) berpendapat bah­wa profesi tertentu tidak akan mengalami proletarianisasi apabila kekuatan mereka didasarkan pada bentuk pengetahuan yang tidak mudah diekspresikan dan dikodifika­sikan dalam term teknis. Di AS, Ehrenreich dan Ehrenreich (1979) berpendapat bahwa ada “kelas manajerial-profesional” yang didasarkan pada gelar sarjana, yang ber­fungsi mereproduksi kultur kapitalis dan relasi kapital. Kelas baru ini memuncul­kan bentuk politik baru yang mengganggu struktur politik antara kapital dan buruh sebelumnya. Terakhir, Wright (1985) ber­pendapat bahwa tidak semua posisi dalam pembagian kerja dapat dilihat sebagai po­sisi kelas saja—mereka sebaiknya dilihat sebagai “posisi kelas yang bertentangan”. Penulis Weberian mengembangkan se­jumlah argumen berbeda yang sebagian me­nentang klaim Marxis. Lockwood (1958) berpendapat bahwa pekerja klerik tidak akan diproletarianisasikan karena mereka menempati situasi kerja yang masih mem­beri mereka status di atas pekerja manual. Giddens (1973) berpendapat bahwa teori dikotomi kelas sosial tidak berguna kare­na tak mampu menunjukkan bagaimana kapasitas pasar dari kualifikasi teknis dan edukasional akan menghasilkan pekerjaan kelas menengah yang memiliki keunggulan ekonomi di atas pekerjaan manual. Pengertian middle class (kelas menengah) adalah Penulis lainnya mengatakan bahwa tidak ada enti­tas tunggal seperti kelas menengah. Yang ada adalah sistem kelas yang terpecah yang terdiri dari berbagai kelompok so­sial yang memiliki citra dan konsep yang berbeda tentang apa itu sistem. Lebih jauh diklaim bahwa penelitian pengalaman kerja seseorang sepanjang hayatnya akan menunjukkan banyak diversitas. Banyak pekerja klerik pria, misalnya, tidak diang­gap “diproletarianisasikan”, sebab mereka menjalani mobilitas karier dan menjadi manajer. Yang lebih mungkin diproletari­anisasikan adalah karyawan wanita, meski ada beberapa bukti bahwa beberapa wani­ta muda mendapat pendidikan yang lebih tinggi untuk promosi jabatan. Terakhir, tampaknya banyak karyawan kerah pu­tih mau bergabung dengan serikat pekerja yang sering mengambil posisi “proletar­ian” pada berbagai isu. Adalah pekerja kerah putih di sektor publik itulah yang paling militan di banyak negara Eropa pada 1980-an. Pada tahun-tahun belakangan, para periset menunjukkan sejumlah pandangan. Pertama, perbedaan antara teori Marxis dan Weberian menjadi kurang jelas pada 1980-an. Ini disebabkan, di satu pihak, penulis Marxis sekarang mulai mengana­lisis secara lebih detail tentang perbedaan pasar kerja, terutama yang berasal dari pemilik gelar yang berbeda. Pengertian middle class (kelas menengah) adalah Dan, di pi­hak lain, Weberian mulai mengapresiasi bahwa yang ada di balik perbedaan oku­pasional (pekerjaan) di pasar kerja adalah serangkaian transformasi struktural dari produksi. Secara khusus, internasionalisasi produksi berarti bahwa ada perbedaan be­sar dalam jumlah dan arti penting kelas menengah di antara masyarakat yang ber­beda, terutama tergantung pada di mana kantor pusat perusahaan besar berada. Kedua, contoh dari semakin menyatu­nya pendekatan Marxis dan Weberian da­pat dilihat dalam literatur tentang “kelas jasa.” Gagasan ini dikembangkan oleh Karl Renner dari kubu Austro-Marxis yang berpendapat bahwa setelah kapital­isme mengembangkan skala operasinya, kapitalis makin banyak mempekerjakan orang untuk menjalankan fungsi yang ti­dak mereka lakukan secara personal. Ke­las ini melayani kapital, entah itu secara langsung di dalam organisasi kapitalis atau secara tak la ngsung di dalam prof esi dan negara. Goldthrope (1980) mengembang kan gagasan ini, baik dengan menunjukkan asal muasalnya yang heterogen, maupun dengan menekan pentingnya karier dan ke­percayaan pada kelas jasa. Riset di Inggris belakangan ini menunjukkan bahwa jenis posisi kelas jasa baru sedang berkembang dan tidak selalu melayani satu organisasi sepanjang hidupnya. Perkembangan dari apa yang dinamakan kultur “yuppie” dinisbahkan pada meningkatnya jumlah orang yang memiliki keahlian profesional dan manajerial tinggi yang membuat me reka bisa berpindah antar-organisasi. Terakhir, muncul pendapat kuat hallwa tidak ada “proletariat” sederhana ya,ng ke­pentingannya dapat diraih tanpa masalah dan beberapa sektor kelas menengah mung­kin bergerak ke arah proletar ini. Apakah politik “proletarian” muncul atau tidak, itu akan tergantung kepada perkiraan pekerja tentang keuntungan yang mungkin mereka dapatkan dari politik itu. Lebih jauh, di – katakan bahwa masyarakat kontemporer banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan ke­las jasa yang menguat yang mengu bah pcta kehidupan sosial dan politik dan terutama memengaruhi “proletariat” dan kema puannya untuk mengembangkan bentuk politik sendiri. Orang di dalam masyarakat modern tidak semuanya “kelas menengalt” namun kelas menengah jelas memengaruht semua orang.