Perpindahan musiman.

Pengertian migration (migrasi) adalah Perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain adalah fenomena lama. Invasi, penaklukan, eksodus, perpindahan musiman, clan menetap di suatu tempat dan di masyarakat berbeda telah lama terjadi dalam sejarah manusia. Dewasa ini, hanya ada sedikit masyarakat yang tidak dibentuk oleh integrasi kelom­pok dan budaya yang bertemu selama be­rabad-abad. Masyarakat Eropa—Spanyol abad ke-16, dan masyarakat industri, den­gan perkecualian Perancis—menyaksikan migrasi penting ke Amerika, Australia, dan kekuasaan kolonial. Perpindahan ke daerah baru ini dikarenakan alasan yang sama dengan alasan sekarang: kepadatan penduduk dan kemiskinan yang melanda sebagian besar Eropa, seperti Irlandia, Skotlandia, atau sebelah selatan Italia, dan karena kekacauan ekonomi tradisional se­bagai akibat berkembangnya pasar kapi­talis, terutama di Inggris. Kadang-kadang emigrasi adalah akibat dari sebab politik atau agama: minoritas, yang ditindas kare­na alasan politik, religius, atau etnis, mela­rikan diri dari penguasa yang mengancam mereka. Bagi Yahudi, minoritas Protestan, Armenia, pelarian politik, dan sebagainya, negeri baru adalah simbol kebebasan dan kemakmuran.

Sosiologi migrasi.

Sosiologi migrasi pada dasarnya meng­kaji imigrasi, proses integrasi, dan asimi­lasi komunitas asing dengan masyarakat setempat. Tak mengherankan jika AS ada­lah negeri tempat pertama kali berkem­bangnya sosiologi ini, sebab imigrasi me­ngiringi kelahiran masyarakat Amerika. Di Eropa, sejak pertengahan abad ke-20 tren perpindahan mulai berubah, dengan negara emigrasi di Eropa industrial mena­rik pekerja, kemudian keluarganya, dari Eropa selatan, dan kemudian dari Afrika, West Indies, Asia Tenggara, dan Indonesia dan dari koloni lama. Ketika aliran migrasi mulai stabil dan populasi menetap, ekono­mi Eropa memasuki masa sulit, sepanjang 1970-an, dan studi ekonomi, demografi, kultural, dan politik dari imigrasi mulai berkembang. Pada 1920-an sosiolog dari aliran Chi­cago (lihat CHICAGO SOCIOLOGY) memba­has imigrasi dalam term integrasi urban, peruhahan dari gaya hidup tradisional ke modern. Bagaimana komunitas migran yang datang dari pedesaan Selatan, komu­nitas kulit hitam, dan yang lainnya, atau dari berbagai belahan dunia, berintegrasi dalam kota secara spasial dan masuk ke modernitas dari sudut pandang kultural? Robert Park dan Ernest Burgess mempela­jari jejak berbagai kelompok di kawasan urban dengan mengisolasi proses siklus dan reguler yang berkisar dari segregasi ke integrasi, melalui proses hubungan transi­sional dengan masyarakat setempat. Studi ini menunjukkan bahwa pola peleburan, percampuran kultur Amerika, memuncul­kan sejumlah perkecualian: beberapa imi­gran gagal dan kembali ke negeri asalnya; yang lainnya tidak berhasil mengakhiri segregasi dan PREJUDICE; yang lainnya bah­kan tetap dalam komunitas tertutup; dan ada yang melebur di dalam kota modern. Dengan berlalunya waktu, tanda-tanda segregasi urban di kota-kota Amerika be­lum berubah, terutama di antara kelom­pok kulit putih dan kulit hitam. Imigrasi dapat dilihat sebagai proses transformasi kultural, perjuangan dari orang yang melihat norma, nilai, dan identifikasi dirinya atau kelompoknya mulai menghilang, tetapi tidak diimbangi dengan adopsi pola masyarakat setempat dan tidak diterima. Studi Thomas dan Znaniecki, The Polish Peasant (1918), tentang kehidupan imigran Polandia yang datang ke Chicago pada awal abad ke-20 mendeskripsikan mekanisme “akulturasi” dan transformasi kultural yang dialami oleh migran yang harus berubah dari ma­syarakat pendesaan ke perkotaan, dari ko­munitas yang dibangun berdasarkan nilai agama dan ke diversitas kota, dari saling kenal ke saling tidak kenal. Hancurnya ikatan tradisional, isolasi dan ketidakpas­tian normatif, mungkin membuat imigrasi menimbulkan disorganisasi sosial yang menyebabkan perilaku menyimpang dan marginal yang kerap diasosiasikan.

Kaum migran. Pengertian migration (migrasi) adalah

Tetapi kaum migran tidak selalu sen­diri, sebab dia mungkin termasuk komuni­tas yang masih koheren di tempat barunya, mampu menyambut baik pendatang baru, memberi keamanan dan kontinuitas iden­titas, dan membuat perubahan kultural. l)alam kenyataannya, asimilasi total dari suatu kelompok ke kultur setempat pada awal generasi kedua atau ketiga imigran adalah sesuatu yang jarang terjadi, dan banyak masyarakat migran yang hubun­gannya dengan masyarakat setempat telah mengubah mereka sedikit demi sedikit. Imigrasi harus dilihat sebagai sebuah pros­es asimilasi progresif yang pada masa itu aktor yang terlibat akan berubah tanpa se­penuhnya melebur. Sudah ada banyak stu­di sejarah yang mengungkapkan dinamika dan pengayaan “kerja” kultural ini. tetapi, proses asimilasi tidak sela­lu secara alami dan selaras. Pengertian migration (migrasi) adalah Kelompok imi­gran, bahkan mereka yang saat ini sudah terasimilasi dengan amat baik, semuanya pernah merasakan permusuhan rasis atau gerakan xenofobia, dengan variasi tingkat kekerasan, tergantung pada situasi eko­nomi dan politik. Di masa ekonomi sulit, imigran mungkin dilihat sebagai pesaing berbahaya yang merebut pekerjaan pen­duduk asli. Karenanya banyak kelompok yang merasa kesulitan dan terancam akan menjadikan mereka sebagai kambing hi­tam, menyalahkan mereka karena tneru­sak negeri. Kebijakan negara juga amat bervariasi, bergantung pada situasinya, mulai dari usaha untuk menarik tenaga kerja atau meningkatkan populasi, sam­pai ke membatasi imigrasi akibat adanya tekanan dari kelompok xenofobia. Di AS sejak akhir abad ke-20, dan di Eropa be­lakangan ini, komunitas imigran berusaha meningkatkan kapasitas mereka untuk me­lakukan negosiasi politik dan partisipasi sosial. Pengertian migration (migrasi) adalah Pada umumnya, ada tiga strategi di kalangan gerakan imigran. Imigran da­pat bergabung dengan gerakan sosial yang sudah ada dan karenanya ikut ambil ba­gian dalam kehidupan politik negara. Ini adalah strategi yang sering dipilih oleh pekerja imigran yang berpartisipasi dalam serikat pekerja. Atau, mereka mungkin m•ngikuti gerakan clemokrasi yang me­ngampanyekan hak-hak sipil dan mclawan rasisme. Atau mereka mungkin berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan peng­hormatan atas identitas kultural mereka, dan mereka justru lebih menekankan pada perbedaan dan ETHNICITY mereka, sebuah “etnisitas” yang menjadikan mereka bisa diakui dan menjadi aktor politik. Pada ak­hirnya, kelompok yang terintegrasi secara ekonomi tetapi tetap menjaga hubungan komunitas di dalam usaha bisnis etnis atau dalam kultur etnis akan mungkin memba­ngun kekuatan lobi, terutama di AS. Daerah emigrasi lama, Eropa Barat, kini adalah daerah imigrasi akibat adanya ketidakseimbangan antara negeri miskin dan kaya; jadi negara Eropa menjadi se­makin multietnis. Pada saat perekonomian dan kultur melampaui batas nasionalnya, gerakan migrasi ikut ambil bagian dalam transformasi pola Eropa di mana negara­bangsa mendefinisikan kultur, teritori, dan kerangka politiknya. Konsekuensinya, pro­blem imigrasi adalah problem dari negara tuan rumah.