PENGERTIAN MINORITAS MENENGAH (MIDDLEMAN) ADALAH – Sebagian minoritas tidak selalu berada di dasar struktur kelas, tetapijuga tidak secara kuat terserap ke dalam kebudayaan yang dominan. Mereka tetap mempertahankan warisan budaya mereka dan berjuang sendiri masuk ke dalam suatu posisi yang unik di jenjang n}enepgah struktur sosial-ekonomi. Minoritas yang terspesialisasi demikian disebut minoritas menengah (Middleman minoritas) (Blalock, 1967; Bonacich, 1973, Turner dan Bonacich, 1980).

Minoritas menengah pada dasarnya mempunyai ciri-ciri berikut: tidak terkonsentrasi pada posisi sosial-ekonomi tingkat bawah, mereka justru cende rung menduduki suatu posisi menengah dalam struktur kelas; mereka cende-rung terkonsentrasi pada pekerjaan di sektor perdagangan dan perniagaan, dan mereka juga sering dipekerjakan sebagai agen-agen kontraktor tenaga kerja, pengumpul sewa, pemberi pinjaman uang, dan perantara; dan mereka biasanya mempunyai solidaritas dan kesadaran etnik yang sangat tinggi, yang pada umumnya membuat mereka terpisah dan menentang asimilasi ke dalam kebudayaan yang dominan. Minoritas-minoritas menengah yang terkemuka mencakup kelompok-kelompok seperti Yahudi di Eropa, Cina di Asia Tenggara , Asia di Afrika Timur, Persia di India, dan Jepang dan Yunani di Amerika Serikat. Menarik dicatat bahwa beberapa kelompok seperti orang-orang Cina, India, dan Yahudi, selalu menjadi golongan menengah di mana saja mereka berada. Suatu teori minoritas yang menarik telah dikemukakan oleh Bonacich (1973; cf. Turner dan Bonacich, 1980). Bonacich percaya bahwa minoritasminoritas itu telah timbul dari rangkaian peristiwa berikut: Beberapa kelompok meninggalkan tanah air mereka dalam mencari kesempatan ekonomi di mana-mana. Akan tetapi mereka berimigrasi dengan tujuan mencapai hasil ekonomi dengan cepat bukannya untuk menetap di negeri yang baru itu. Motivasi ini mempunyai dua akibat utama: ini berarti bahwa kelompok demikian itu sangat menentang keterserapan ke dalam kebudayaan yang baru, karena mereka tetap bermaksud kemb ali ke tanah air mereka setelah mencapai sukses ekonomi, dan berartibahwa mereka berusaha untuk berkonsentrasi diri pada pekerjaan-pekerjaan di mana sukses ekonomi dapat diwujudkan dengan cepat. Kenyataan yang terakhir ini menjelaskan mengapa kelompok demikian itu sangat terkonsentrasi dalam pekerjaan-pekerjaan “menengah”: Pekerjaanpekerjaan itu tidak mengikat modal, dan mereka cenderung untuk berfungsi sebagai sumber kekayaan yang dengan mudah dapat dilikuidasi. Tentu saja, banyak anggota kelompok etnik itu tidak pernah mampu mewujudkan maksud mereka untuk kembali ke tanah air mereka, dan mereka yang tetap tinggal di negeri tuan rumah itu lalu membentuk minoritas-minoritas menengah yang permanen. Bonacich memberi penekanan khusus kepada fakta bahwa minoritas menengah sering tertimpa tingkat permusuhan yang tinggi dari berbagai anggota negeri asing itu. Kelompok-kelompok menengah dituduh sebagai bersifat kesukuan dan asing, bersikap takabur dan percaya bahwa mereka adalah superior dari anggota-anggota negeri tuan rumah, tidak setia kepada negeri tuan rumah, dan merupakan parasit yang menghisap sumber-sumber daya ekonomi negeri tuan rumah. Sebagai tambahan pada stereotip negatif itu, minoritas menengah menghadapi :”usaha-usaha untuk memotong sumber hidup mereka”, kerusuhan dan penganiayaan, gerakan-gerakan eksklusi dan pengusiran, disingkirkan ke kamp-kamp konsentrasi, dan “peleburan akhir” (final solution) (Bonacich, 1973:589). Bonacich menandaskan bahwa sikap permusuhan ini bukan akibat dari sikap atau prasangka etnosentrik yang abstrak; malah, ia percaya bahwa permusuhan itu ditimbulkan oleh adanya ancaman ekonomik (atau persepsi dari situ) yang ditampilkan oleh kelompok-kelompok menengah terhadap masyarakat tuan rumah. Ancaman ini adalah akibat dari adanya monopoli yang dipagari dan dikembangkan oleh kelompok menengah itu atas beberapa pekerjaan. Seperti dikemukakan oleh Bonacich (1973:592): “kesulitan mendobrak monopoli kelompok menengah yang dipagari itu, kesulitan mengawasi pertumbuhan dan perluasan kekuasaan ekonomi mereka, mendorong negara tuan rumah untuk melakukan reaksi-reaksi yang lebih ekstrim. Orang menemukan tindakan-tindakan yang semakin kejam, yang saling menimpa, sampai diberlakukannya penyelesaian akhir, ketika semua tindakan lainnya gagal”.

Filed under : Bikers Pintar,