social mobility (mobilitas sosial)

Mobilitas sosial telah lama menjadi topik penting dalam pemikiran sosiologi, dan sejak tahun 1940- an, menjadi obyek berbagai penelitian empiris. Minat dalam bidang ini sebagian muncul dari hubungannya dengan keadilan dan efisiensi dalam masyarakat, dan sebagian lagi dari kemudahan relatif di mana mobilitas dapat dikuantifikasi. Berbagai hipotesis telah diajukan untuk menerangkan tingkat atau pola mobilitas, kecenderungan mobilitas atas waktu dan perbandingan antara mobilitas di sejumlah negara (Lipset dan Bendix 1966). Sebagai contoh, telah diperdebatkan bahwa kemudahan relatif dari pergeseran ke atas di AS abad 19 menjadi penyebab tidak adanya gerakan sosialis yang cukup signifikan (Sombart 1976 [1906]). Tetapi bagaimanapun, penelitian empiris tidak secara pasti mendukung proposisi bahwa terdapat lebih banyak mobilitas di AS daripada di Eropa. Tentu saja, hasil-hasil dari penelitian yang paling empiris adalah bersifat inkonklusif.

Meskipun begitu, beberapa proposisi telah muncul dengan beragam derajat dukungan. Sejak pertengahan tahun 1960-an, telah disetujui bahwa di antara kaum laki-laki terdapat korelasi yang kuat, meski tidak bisa dibilang sempurna, antara tingkat pendidikan dengan tingkat kedudukan sosial (Blau dan Duncan 1967). Juga jelas bahwa tingkat intelejensi (IQ) pada masa anak-anak ada¬lah prediktor tunggal yang terbaik bagi prestasi pendidikan dan tingkat kedudukan dari kaum laki-laki (Duncan 1966).

Himpunan Koleksi data mobilitas dari masa lalu memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa di Norwegia pada abad 16 seseorang memiliki kesempatan 50 persen jika bergerak di bidang yang sama dengan usaha milik ayahnya, tetapi jika meninggalkan usaha itu maka peluang yang didapat sama saja dengan memulai usaha baru . Pada abad ke 20, mobilitas Amerika Utara sangat asimetris, di mana AS berubah dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan, dan anak-anak muda meninggalkan daerahnya dan memasuki struktur non-pertanian di segala tingkatan. Hal ini menjelaskan timbulnya pemikiran bahwa AS adalah masyarakat terbuka yang bersifat khusus.

Berbagai temuan ini, termasuk yang didasarkan pada bahan yang kurang kuantitatif (Kaelble 1977; 1985), merupakan kumpulan pengetahuan kita tentang apa itu mobilitas yang terjadi belakangan ini dan beberapa di antaranya kebal terhadap penyangkalan.

Jika kita beralih dari fakta empiris kepada hal- hal yang bersifat interpretasi teoretis, maka kita akan menghadapi permasalahan pengukuran, model dan makna. Salah satu permasalahan itu adalah perbedaan teoretis antara mobilitas dalam pengertian gerakan ke atas yang tergeneralisasi dalam sebuah masyarakat seperti halnya masyarakat Amerika Utara abad ke 19 dengan gerakan yang terdiri dari aliran gerakan naik dan turun di antara dua kategori sosial. Sebuah masyarakat yang merupakan perwujudan dari tipe yang disebut terakhir itu, yaitu pertukaran bilateral yang berimbang dalam tingkat yang tinggi, disebut sebagai masyarakat yang terbuka atau fluid (Thernstromm 1973). Di dalam pergerakan ke atas maupun fluidify (baik dalam derajat yang tinggi maupun rendah) harus kita bedakan antara gerakan yang disebabkan oleh kualitas-kualitas yang universal (merit) dan gerakan, atau tidak adanya gerakan, yang didasarkan pada kualitas-kualitas askriptif (seperti mewarisi usaha ayah).

Argumentasi bahwa mobilitas tinggi menghambat perkembangan sosialisme di AS biasanya didasarkan pada pengamatan bahwa hanya sedikit orang Amerika kelas menengah yang turun ke kelas pekerja, sedangkan banyak anak-anak para petani (dan juga banyak pendatang yang bermula dari pelayan) justru mengalami peningkatan ke kelas menengah. Klaim yang muncul belakangan hari bahwa AS memiliki masyarakat yang lebih terbuka dan lebih “meritokratis” dari pada Inggris didasarkan pada keyakinan bahwa terdapat lebih banyak pertukaran bilateral di AS, dan mereka yang mengalami kenaikan kelas di skala sosial Amerika Utara juga mengalaminya karena mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan karena itu layak mendapatkan mobilitasnya. Pada kenyataannya tampak bahwa laki-laki Inggris (data untuk kaum wanitanya lebih sulit untuk diinterpretasikan) tidak kalah mobile dari pada para pria AS, jika tunjangan diberikan bagi konsentrasi relatif para Britons dalam kelas pekerja. Nampaknya juga, di bawah sistem pendidikan yang selektif, anak laki-laki Inggris yang mampu dari seorang ayah kelas pekerja memiliki kesempatan yang lebih baik dari pada sejawatnya di AS dalam mendapatkan pekerjaan yang baik, karena ia akan lebih berpeluang mendapatkan pendidikan yang baik dan status sosial yang lebih tinggi. (Hope 1984).

Telah umum diketahui, para ilmuwan Eropa dan Amerika Utara berbeda pandangan terhadap topik mobilitas. Sebagian besar ilmuwan Amerika tertarik pada pertanyaan tentang bagaimana individu mengambil posisi dalam hirarki vertikal yang terutama berkaitan dengan keuntungan material. Jika mereka mengetahui posisi dalam hirarki tersebut ditentukan pada tingkat yang cukup tinggi berdasarkan tingkat pendidikan yang diperoleh, maka mereka pasti mengklaim masyarakat mereka sebagai sebuah meritokrasi, di mana yang menjadi dasar prestasi adalah kualitas-kualitas universal, bukan yang askriptif. Mereka cenderung berpikir bahwa model ini mampu menggambarkan struktur sosial bagi kaum laki-laki kulit putih, bukan untuk kaum hitam dan perempuan (Blau dan Duncan 1967; Featherman dan Hauser 1978). Para periset Eropa, sebaliknya, lebih sering melihat bahwa kesempatan-kesempatan-hidup dan derajat kesadaran-kelas terhadap kolektivitas dengan sebuah pandangan untuk memperkirakan apakah agregat-agregat ini mungkin melakukan tidakan-kelas. Mereka bertanya apakah mobilitas merusak solidaritas kelas serta menyebabkan alienasi (Dahrendorf 1959). Baik di Eropa maupun di AS ilmuwan politik berspekulasi atas hubungan antara mobilitas, terutama gerakan menurun dari seluruh kategori person, dan dukungan terhadap fasisme (Lipset 1981). Kekhawatiran ini diperburuk oleh pencalonan presiden Ross Perot pada pemilihan presiden AS tahun 1992, serta oleh keberhasilan yang lebih besar bagi Forza Berlusconi pada tahun 1994. Turner (1992) mengajukan sebuah karya tentang sikap politik di berbagai negara.

Kritik utama terhadap riset mobilitas sejauh konsep ini berurusan dengan transmisi antar generasi ialah mobilitas sama sekali mengabaikan transmisi genetis. Secara logika, kita tidak bisa mengatakan bahwa transmisi itu bersifat sosial kecuali disain risetnya memungkinkan kita bisa memperkirakan transmisi genetik. Sementara ahli-ahli biologi mengupayakan genome manusia, ahli-ahli sosiologi mengarah pada environmen- talisme. Dalam dunia sosial, kritikan utamanya adalah kekayaan jarang sekali diukur. Hal ini penting sekali dalam kajian kemiskinan karena aspek serius dari kemiskinan adalah eksistensi “dari tangan beralih ke mulut” (the hand to mouth) yang terjadi ketika simpanan kekayaan kita meni¬pis (sepasang sepatu tanpa serep, tidak ada uang untuk ongkos bekerja). Kritik lebih lanjut adalah bahwa perimbangan yang melibatkan pendapatan didasarkan pada asumsi-asumsi distribusi normal, tetapi ketidakseimbangan dalam masyarakat AS mengambil bentuk discrepant enumeration runing sebesar US$200 juta per tahun. Sebuah model umpan balik positif bisa dipakai untuk menerangkan keberhasilan dari kandidat-kandidat politis yang berlandaskan media populis, dan distribusi dari penghargaan kepada kaum selebritis.

Kesimpulan utama dari riset mobilitas di AS adalah bahwa masyarakat di Amerika Utara bersifat “universalistis” dan penghargaan didistribusikan secara rasional. Pada kenyataannya, dengan menganalisis data dari General Social Surveys terlihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar berdasarkan agama dan afiliasi etnis, bahkan dalam kelompok pria kulit putih. Ini tidak mengherankan. Dalam sebuah masyarakat yang pluralistis, ” Anda bantu teman anda dan menghabisi musuh-musuh anda.” (mengutip kata-kata seorang bekas ketua American Trial Lawyers Association). Lebih lanjut, sebuah masyarakat di mana terdapat 497.697 pegawai yang dipilih dalam 83.236 pemerintahan, yang banyak di antaranya juga menjadi anggota berbagai komisi dan dewan, sangat tidak mungkin bersifat pluralistis (Sterba 1992). Ahli sosiologi menklaim telah mendirikan universalisme, meskipun para ilmuwan politik mengagungkan pluralisme Amerika. Pada kenyataannya para ahli sosiologi sangat menyadari hambatan-hambatan menuju universalisme. Di enambelas wilayah Chicago, empat di antaranya 87-98 persen terdiri dari kulit hitam dan ada yang 0 persen. Sedang pendapatan per kapita bervariasi dari US$3.952 sampai $35.275 (Reardon 1994).