Interpretasi sistem aksiotna.

Pengertian model (model) adalah Teori seharusnya menyatukan hu­kum-hukum eksperimental, akan tetapi se­tiap model yang (sebagian) diasosiasikan dengan interpretasi sistem aksiotna secara logis dan epistemologis adalah amat re­dundan. Norman Campbell, meski sepakat dengan pandangan Duhem tentang teori yang terdiri dari struktur kaidah empiris yang ditata secara deduktif, berpendapat dalam Physics, the Elements (1920), bah­wa agar memuaskan secara intelektual, sebuah teori juga harus melibatkan relasi analogi (nondeduktif) dengan beberapa dang fenomena. Jadi, menurut pandangan Campbell, teori bukan sekadar pertimba­ngan bahwa hukum Boyle, hukum Charles, hukum Graham, semuanya adalah kon­sekuensi deduktif dari teori gas kinetik, tetapi sekumpulan model yang diasosiasi­kan dengan teori ini—sebab molekul gas, dalam hal tertentu, dibayangkan seperti bola biliar yang saling bertumbukan dan bertukar momentum—yang menguatkan penilaian intelektual kita. Dalam teori, hal­hal di mana molekul gas berbeda dengan bola biliar, seperti warna, ukuran (analogi negatif), akan diabaikan; sedangkan dalam hal di mana kita tidak tahu apakah molekul gas seperti bola biliar atau tidak (analogi netral) dipakai sebagai sumber “makna surplus (tak terikat)” untuk menunjukkan cara di mana teori bisa diperbaiki.

Revolusi saintifik. Pengertian model (model) adalah

Dalam positivisme yang menjadi ciri PHILOSOPHICAL OF SCIENCE hingga akhir 1960-an, pendekatan Duhem sangat disu­kai. Akan tetapi, ada kesulitan substan­sial dalam pandangan Duhem. Pengertian model (model) adalah Braithwaite berpendapat bahwa model yang memuas­kan secara intelektual tidak bisa menjusti­fikasi pilihan model tertentu. Gagasan im­plisit tentang penjelasan—sebagai reduksi atas hal-hal yang tidak diketahui—juga dikritik. Sebab revolusi saintifik mungkin melibatkan transformasi dalam konsep kita tentang hal-hal yang masuk akal. Pada inti problem ini terletak REALISM empiris dan deduktivisme Campbell, dan khususnya dalam ketidakmauannya me­ngakui model, seperti diargumentasikan Max Black, Mary Hesse, Rom Harre, dan Roy Bhaskar, sebagai deskripsi hipotesis dari sesuatu realitas yang tidak diketahui tetapi bisa diketahui, dan konsekuensinya ia memandang sains sebagai sesuatu yang terus berkembang. Realisme transendental Bhaskar memandang daya deduksi masih kurang mencukupi untuk dipakai sebagai penjelasan dan bahwa dalam proses ilmiah bahkan analogi positif sekalipun dapat di balik. Setiap model memiliki sumber (yang mungkin juga model). Model mungkin dibagi menjadi model di mana subjeknya sama dengan sumbernya, homoeomorphs, dan model di mana subjeknya berbeda, paramorphs. Sebuah boneka adalah model bayi, dibuat berdasarkan bentuk bayi. Pengertian model (model) adalah Ho­moeomorphs mungkin bisa diklasifikan menjadi model skala, representasi kelas, idealisasi, dan abstraksi. Tetapi, ini jelas merupakan model-building paramorphic, yakni konstruksi sebuah model dengan menggunakan sumber kognitif yang ada (“pinjaman ilmiah” menurut Bachelard) untuk subjek yang tak diketahui (yang re­alitasnya dapat dipastikan secara empiris), yang amat penting dalam ilmu pengeta­huan yang kreatif dan terus berkembang. Model semacam ini mungkin didasarkan pada satu atau lebih aspek dari sumber, seperti dicontohkan oleh teori kinetik, Darwinian dan Freudian. Darwin meng­gunakan teori seleksi domestik dan teori populasi Malthus yang dipadukan dengan fakta variasi alam untuk menyusun teori baru: seleksi alam. Harre berpendapat bahwa paramorphs akan menghasilkan postulat proses baru. Namun, penyusunan model imajinatif, yang amat penting dalam sains, selalu tunduk pada uji empiris yang ketat.