PENGERTIAN MOMENTUM MODERNIS ADALAH

65 views

PENGERTIAN MOMENTUM MODERNIS ADALAH – Identifikasi terhadap apa yang disebut modern pertama kali dan paling menonjol adalah persoalan temporalitas; artinya, sesuatu yang terikat dengan masa lalu, sesuatu yang berlaku sebelumnya. Yang modern hanya ada jika datang sesudah yang sebelumnya. Modernitas adalah sebuah kategori periodisasi historis yang semata-mata didefinisikan dalam konteks temporal, jadi tidak seperti contoh periodisasi mitos, agama, atau dinasti (Osborne, 1992). Konsep modernitas juga didefinisikan dalam konteks kualitas baru dari temporalitas, yang secara intrinsik berbeda dari yang mendahuluinya. Konsep tradisi merupakan penyebutan masa kini atas masa lampau dalam hal nalar pikiran dan kemajuan. Dalam pemikiran masa Pencerahan, nalar pikiran adalah otonom, yang mampu mengembangkan validasi hukum-hukumnya bagi dirinya sendiri, pada masa kini, tanpa mengacu ke masa lampau atau ke tradisi (Osborne, 1992: 79).

Perspektif temporal ini mendasar bagi kategori-kategori sosiologi Weber, dan hingga kini masih secara luas diikuti, misalnya oleh Anthony Giddens (1990), yang mengatakan bahwa institusi-institusi sosial modern adalah unik—berbeda dalam bentuknya dari semua tipe keteraturan tradisional. Apabila tradisi didefinisikan dengan menggunakan wacana modernitas, sebagaimana yang kita saksikan secara umum diteriffia pada abad ini, konsekuensinya adalah bahwa tradisi dilihat sebagai kebalikan dari tanda positif dari modernitas. Bagi Giddens (1990), seperti juga bagi Weber yang hidup sebelumnya, tradisi sebagai konsep bukanlah sebuah topik yang penting dikaji. Konsep ini lebih merupakan wadah dan cara berwacana untuk membangun dan mengartikulasikan suatu perhatian dan minat dalam dunia yang kompleks, dan yang terusmenerus dikaitkan dengan konsep modernitas itu.

Ciri mendasar yang lain dari temporalitas modernitas itu adalah jarak temporal yang oleh Johannes Fabian (1983) disebut alokronik (allochrony). Alokronik merujuk kepada cara di mana populasi-populasi yang menurut urutan kronologis eksis pada masa yang sama (artinya, mereka sinkron), ditanggapi (dilihat) dalam periode temporal yang berbeda. Populasi-populasi tersebut biasanya dilihat dalam konteks evolusi atau kemajuan sejarah (sebagai contoh, suku bangsa `zaman batu’ yang hidup pada abad ke-20, atau kaum tani yang hidup seperti `zaman purba’). Yang mengherankan bila kualitas modernitas—yang kini dan yang baru —kerap kali diasosiasikan dengan masyarakat Eropa, dan kemudian Amerika, sehingga dengan demikian, tak pula mengherankan kalau masyarakat pinggiran dilihat sebagai masyarakat yang eksis pada masa temporal sebelumnya. Masa “yang lain” yang dikontraskan ini di-tempatkan dalam ruang dan waktu (spasialisasi) sehingga tradisi eksis berdampingan dengan modernitas tapi dalam tempat yang berbeda. Etnologi dan antropologi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah alokronik dalam hal ini, dan dinyatakan dalam perbedaan mutlak, yang dinyatakan secara temporal, antara orang-orang yang mengkaji dan mereka yang dikaji.

Antropologi fungsionalis dapat dilihat sebagai bentuk modernis khusus dari disiplin kita sebagaimana yang dinyatakan oleh Ardener (1989). Adalah fungsionalisme yang paling keras mendesak pengidentifikasian objek-objek penelitian antropologi sebagai stabil dan tradisional dan berupaya membangun teori tentang tradisi atas landasan ini. Perlu bagi kita untuk berargumen bahwa kajian kekerabatan yang memperoleh posisi sentral dalam antropologi sebagian adalah konsekuensi dari temporalitas modernis ini. Adam Kuper (1988) menegaskan bahwa “ditemukannya masyarakat primitir oleh antropologi pada masa awal diperlukan untuk menjadi antitesis bagi `yang modern’. Oleh karena modern dikaitkan dengan individualisme dan pemisahan antara ranah publik dan pribadi, maka masyarakat primitif adalah kebalikannya, yang diidentifikasi dengan kekerabatan (Kuper 1988). Selain itu, dapat pula ditambahkan bahwa citra tradisi dan kesinambungan, yang begitu sering dikaitkan dengan ikatan genealogi, keturunan, turut menekankan pentingnya (sentralitas) kekerabatan bagi definisi masyarakat tradisional.

Antropologi yang berciri nasionalis juga pas di sini, yakni antropologi yang berupaya menemukan tradisi-tradisi yang otentik, yang atas dasar tradisi itu gerakan-gerakan nasionalis dan revitalisasi etnik memperoleh inspirasi. Jadi, masa lampau adalah sumber landasan dalam upaya menemukan identitas kolektifyang baru, karena modernitas sangat dikaitkan dengan individualitas dan sebaliknya. Perbedaan kontras antara modern dan tradisional kerap kali dianggap analog dengan kontras antara individualisme dan komunitas. Alasannya, di atas semua itu, adalah individu yang otonom, dan kolektif dianggap sebagai keadaan yang lampau dan ketinggalan zaman (Bodley, 1978: 56).

Dampak dari arus dan konstelasi pemikiran di atas cukup kuat ter-hadap pemikiran antropologi. Teori-teori pada tahun 1930-an, tentang “perubahan sosial” dan “kontak kebudayaan” memberi jalan bagi di-kembangkannya konsep-konsep sistem dunia dan globalisasi, tetapi citra masa lampau yang kuat dalam definisi tetap bertahan sepanjang waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *