Kekuasaan absolut.

Pengertian monarchy (monarki) adalah Monarki adalah institusi kekuasaan yang dipimpin oleh keluarga secara turun-temurun, sedang­kan monarkisme adalah doktrin bahwa monarki adalah yang terbaik. Monarki atau kerajaan adalah salah satu bentuk tipe pemerintahan tertua dan, sampai abad ini, merupakan bentuk yang paling umum. Klaim AUTHOR1TY paling kuno adalah raja adalah keturunan dewa atau bahwa jabatan raja adalah sakral. Jadinya kepatuhan ke­pada raja adalah sebentuk kewajiban ala­miah. Tetapi, kekuasaan raja tidak dilihat sebagai kekuasaan absolut. Sampai abad ke-17, belum ada ide kekuasaan absolut: sebab jika monarki adalah institusi ilahiah, maka raja harus patuh pada hukum Tu­han. Monarki abad pertengahan di Eropa dianggap sebagai pelayan atau penjaga dunia atas nama Tuhan. Kristen memper­masalahkan klaim otoritas absolut: Kristus mengajarkan bahwa beberapa hal adalah dalam kekuasaan Kaisar dan beberapa hal adalah dalam kekuasaan Tuhan. Teologi bersifat dualistik: gereja mengklaim otono­mi yang lebih besar tetapi bahkan orang awam (jika mereka cukup kuat) dapat mempertanyakan kekuasaan sekuler.

Loyalitas. Pengertian monarchy (monarki) adalah

Di dalam monarki selalu ada justifi­kasi untuk pemberontakan dan beberapa ambiguitas tentang suksesi. Baik itu di dunia Kristen maupun Muslim, anak sulung yang tidak kompeten dapat dila oleh anggota keluarga lainnya. Dalam kekhali­fahan, suksesi sering dilakukan dengan pembunuhan atau perang terbatas antar­anggota istana. Di abad ke-17 ide monarki ini menjadi umum, seperti dirumuskan oleh Thomas Hobbes, bahwa demi kedamaian dan menghindari perang sipil sebuah entitas abstrak yang dinamakan STATE harus me­megang semua kekuasaan dan menjadi ob­jek loyalitas. “Terbuka atas nama raja” di­gantikan oleh “terbuka atas nama negara”. Doktrin “hak ilahi sang raja” merupakan upaya mengklaim keda ulatan seseorang dalam kerajaan. Louis XIV mungkin meng­klaim bahwa “L’etat c’est moi,” namuri ini adalah paradoks. Sebab dengan demikian monarki akan dianggap sebagai sebentuk jabatan, dijalankan secara hati-hati dan berdasarkan nasihat, bukan properti dari seseorang atau dinasti. Loyalitas kepada seseorang sebagai se­buah kebaikan adalah ajaran yang dikem­bangkan para pembela raja, tetapi ini lebih mudah di masa modern jika kekuasaan me­reka terbatas. Walter Bagehot (1867) mem­bedakan antara “kekuasaan martabat” Ratu Victoria dan “kekuasaan efisiennya” yang diyakini hanya ada sedikit. Pengertian monarchy (monarki) adalah Kekuasa­an martabat, atau kekuasaan simbolis atau ritual adalah fokus dari loyalitas dan kon­tinuitas bangsa. Loyalitas semacam ini su­lit ditemukan dalam sistem multipartai. Di AS, simbol persatuannya adalah konstitu­sinya, bukan presidennya. Ada sedikit monarki yang masih ber­tahan, tetapi tidak ada yang menjalankan kekuasaan politik riil, namun beberapa di antaranya (seperti di Inggris) berfungsi un­tuk melegitimasi tatanan sosial hierarkis; yang lainnya, seperti Belanda, Denmark, dan Norwegia, tampak lebih bergaya de­mokratis, dan lebih borjuis ketimhang aris­tokratis. Teoretisi sosial modern ternyata tidak begitu tertarik dengan aspek anakro­nisme ini.