Teori uang.

Pengertian money (uang) adalah Ini adalah fenomena se­hari-hari yang merupakan fakta sosial dari masyarakat modern, namun teori uang ke­banyakan diabaikan oleh ilmuwan sosial. Pengabaian ini lantaran uang direduksi hanya sebagai instrumen rasional, dilihat sebagai alat pertukaran (lihat NEOCLASSICAL ECONOMICS), atau sebagai alat komunikasi (lihat AUSTRIAN ECONOMICS). Perkembangan historis, bentuk eksistensi dan mode ope­rasi uang telah direduksi ke fungsi eko­nomi dan sosialnya, dan fungsi utamanya dianggap sebagai alat pertukaran. Bebe­rapa teori uang berbeda pendapat dalam spesifikasi fungsi ini, dan juga dalam hal hubungan hierarkisnya, namun ada kesa­maannya yakni mengabaikan uang sebagai fenomena sosial, yang hanya dianggap se­bagai representasi fenomena nonmoneter. Akan tetapi, dalam menegaskan kesimetri­san relasi pertukaran (exchange) sebagai hasis rasionalitas instrumental dari uang, teori-teori itu mengabaikan asimetri esen­sial dalam relasi dominasi yang dengannya uang menegaskan diri bukan sebagai seka­dar simhol, namun sebagai kekuatan sosial yang otonom.

Konsep uang.

Dia mendefinisikan fungsi utamanya sebagai alat pertukaran, tetapi juga meng­akui fungsi derivatifnya, sebagai ukuran nilai, dan, setidaknya secara implisit, se­bagai penyimpan nilai. Perkembangan -eori moneter selanjutnya tidak hanyak memberi tambahan pada analisis Aristo­teles. Pengertian money (uang) adalah Debat utamanya adalah antara pihak yang menegaskan bahwa uang itu sendiri pasti punya nilai, dengan mereka yang ber pendapat bahwa bentuk primitif dari uang komoditas dapat diganti dengan bentuk uang simbolis, yang nilainya ditentukall berdasarkan konvensi dan ditetapkan oleh negara. Debat ini berkaitan dengan dehat dari mereka yang mengikuti Aristoteles dalam memandang fungsi uang utama se­bagai alat tukar, dengan mereka yang lebih menekankan fungsi sosial lainnya. Signifi­kansi politik dari debat itu berpusat pada “teori kuantitas uang”: jika fungsi utama uang adalah sebagai alat tukar, maka ke­naikan suplai uang akan menaikkan harga. Apabila fungsi utamanya adalah sebagai penyimpan nilai, peningkatan suplai uang akan menurunkan suku bunga. Adam Smith (1776), mengikuti David Hume (1752), telah meletakkan dasar eko­nomi modern dengan menegaskan kem­bali ortodoksi Aristotelian untuk melawan kaum “merkantilis”, yang memandang fungsi utama uang adalah penyimpan ni­lai. “Teori uang negara” Knapp (1905) menegaskan bahwa fungsi utama dari uang adalah sebagai alat pembayaran, divalidasi oleh statusnya sebagai tender legal. Keynes (1930) mengikuti Knapp, menekankan money-of-account lebih utama ketimbang uang sebagai alat tukar. Tetapi merkantilis atau Knapp tidak mengembangkan teori uang yang sistematis untuk menentang ortodoksi klasik, sedangkan Keynes tidak mengemukakan implikasi dari pandangan­nya. Dia hanya membatasi diri pada anali­sis terhadap motif untuk menyimpan uang sebagai basis dari teori bunga dan pengang­gurannya (1936). jadi, teori Keynes segera diserap kembali ke dalam ortodoksi klasik, dalam bentuk “sintesis neoklasik”, dan keutamaan uang sebagai penyimpan nilai, yang diekspresikan dalam teori “prefer­ensi likuiditas” Keynes, dianggap sebagai penyimpangan irasional dari fungsi sistem moneter normal, yang didasarkan pada uang sebagai alat tukar. Para ekonom tidaklah demikian naif­nya untuk percaya bahwa teori mereka tidak memadai untuk menjelaskan realitas masyarakat di mana uang adalah instru­men rasional yang transparan, tetapi juga sebagai substansi dan simbol kekayaan, status, dan kekuasaan. Meski demikian, irasionalitas yang diasosiasikan dengan sistem moneter yang telah maju diper­lakukan sebagai fenomena patologis, yang dapat dipisahkan dari normalitas yang ada dalam sistem teori ekonom yang ideal, yang semestinya dijelaskan oleh sosiolog dan psikolog sosial, atau bahkan oleh teo­log dan filsuf moral. Irasionalitas semacam itu dijelaskan bukan dalam kerangka ira­sionalitas objektif dari masyarakat kapi­talis, tetapi dari segi irasionalitas subjek­tif dari aktor sosial, dan penjelasan ini harus menerangkan semua kejahatan ma­syarakat modern: “siklus perdagangan”, pengangguran massal, kemiskinan yang terus-menerus, kesenjangan yang melebar, penyalahgunaan kekuasaan, konflik in­dustri, penurunan urban yang berasal dari kegagalan manusia untuk mewujudkan cita-cita rasionalitas yang ada di dalam teori ekonomi.

Konsep irasionalitas psikologistik. Pengertian money (uang) adalah

Sosiologi, karena lebih menelaah pada dimensi nonrasional dari tindakan sosial, tidak mengemukakan tantangan berarti terhadap ortodoksi para ekonom. Weber (1921-2) sepakat penuh dengan konsep uang menurut para ekonom, yakni uang sebagai instrumen dan alat ekspresi rasion­alitas ekonomi. Parsons (1967) melangkah lebuh jauh. Dia memandang konsep uang para ekonom sebagai model untuk analisis subsistem sosial lain, memandangnya se­bagai sistem pertukaran simbolis, sebuah pendekatan yang dikembangkan lebih lanjut dalam konsep postmodern tentang masyarakat sebagai jaringan komunikasi (Habermas, 1981; Luhmann, 1983, 1984; cf. Ganssmann, 1988; lihat MODERN1SM AND POSTMODERN1SM) di mana uang adalah analog dengan tanda linguistik (sebuah konsep yang melahirkan teori siklus uang, sebab teori tanda Saussure (1916) diilhami oleh konsep uang menurut para ekonom). Pengertian money (uang) adalah Para sosiolog tidak mengabaikan aspek irasional dari uang. Mereka juga tak puas dengan konsep irasionalitas psikologistik dari para ekonom itu. Meski demikian, so­siolog mengikuti ekonom dalam meman­dang irasionalitas itu sebagai fenomena pa­tologis, sebagai institusi sosial yang fungsi utamanya sebagai instrumen rasional untuk mendapatkan makna sekunder yang mung­kin menggantikan tujuan aslinya. Philoso­phy of Money (1907) karya Simmel, satu­satunya kontribusi sosiologi paling serius untuk teori uang, merupakan pembahasan yang brilian tentang pengaruh uang dalam kehidupan sosial, namun irasionalitas dari suatu masyarakat yang didominasi uang dinisbahkan pada metafisika universal, proses psikologis yang dengannya sarana dan tujuan akan diputarbalikkan. Jadi, ciri esensial dari uang dalam masyarakat kapitalis, yakni sebagai alat, dinisbahkan pada proses psikologis misterius yang pasti muncul karena uang didesains sebagai in­strumen nalar. Satu-satunya teoretisi sosial yang se­cara sistematis menentang konsep orto­doks tentang uang adalah Karl Marx. Sampai saat ini interpretasi teori uang Marx masih ada dalam kerangka fungsio­nalis, umumnya menegaskan bahwa fungsi utama dari uang adalah pada perannya se­bagai bentuk nilai independen, dan sebagai kapital. Konsep uang ini sesuai dengan konsep Marxis tentang kapitalisme sebagai masyarakat yang bukan didasarkan pada pertukaran dan komunikasi, namun pada EXPLO1TATION dan dominasi, yang perkem­bangannya ditentukan bukan oleh kebu­tuhan dan aspirasi manusia, tetapi oleh akumulasi kapital. Teori ini menyebabkan Marxis berpendapat bahwa “irasionalitas substantif” dari masyarakat kapitalis tidak bisa dipisahkan dari, dan lebih fundamen­tal ketimbang, “rasionalitas formalnya”. Akan tetapi, pandangan ini bukan teori uang Marxis murni, karena teori ini meng­kritik pandangan ortodoks dari Marx. Di dalam interpretasi fungsionalis ter­hadap Marx, uang dianggap sebagai in­strumen kapital, bukan nalar. Irasionalitas uang tidak inheren di dalam uang, tetapi di luar uang, yakni di dalam relasi sosial. Implikasinya adalah uang adalah netral se­cara sosial, dan dapat berfungsi sebagai in­strumen perencanaan sosialis atau sebagai instrumen eksploitasi kapitalis. Publikasi karya awal Marx dan Grun­drisse telah membuka jalan ke interpretasi alternatif dan lebih radikal terhadap teori Marx yang menekankan pada kritik uang­nya. Pendekatan ini merepresentasikan sebentuk konvergensi analisis “nilai-ben­tuk,” yang dirintis di Jerman, dan analisis uang sebagai mode dominasi, yang dirintis oleh gerakan autonomia Italia, pada awal 1970-an (Backhaus, 1969; Negri, 1972). Interpretasi ini membalikkan hubungan konvensional antara bentuk dan fungsi, memandang fungsi uang berasal dari properti uang sebagai bentuk sosial khu­sus. Pengertian money (uang) adalah Pendekatan ini menolak pemisahan analitis atas sistem “riil” dengan sistem moneter, yang menandai baik itu ekonomi ortodoks maupun Marxisme ortodoks, dan yang muncul dalam bentuk terbalik di dalam teori postmodernis. Uang tidak melambangkan sebuah hubungan riil. Uang bukan merupakan dunia simbolis murni. Hanya bersama perkembangan ka­pitalismelah uang menghancurkan “ikatan prasejarahnya” sehingga hubungan anta­ra individu-individu hanya dapat diang­gap sebagai hubungan sosial, dan dengan demik ian mendapatkan karakter sosial tertentu, melalui bentuk uang. Dalam ma­syarakat kapitalis maju, uang, karenanya, hanyalah simbol, alat mediasi utama anta­ra individu dcngan masyarakat. Pandangan ini mengandung konsekuensi mendasar, sebab ini menyiratkan bahwa teori uang bukan teori ekonomi teknis, namun meru­pakan inti dari teori masyarakat kapitalis.