PENGERTIAN MUNCULNYA SUATU MASYARAKAT BERPENDIDIKAN BERLEBIHAN (OVEREDUCATED) ADALAH – Kira-kira permulaan tahun 1970, Amerika Serikat mulai menjadi apa yang oleh sebagian orang menyebutnya suatu masyarakat yang berpen-didikan betlebihan (o-oci.educated society). Suatu masyarakat yang ber-pendidikan berlebiban bukardah suatu masyarakat yang anggota-anggo tanya sudah menjadi terlalu berpengetahuan atau terpelajar. Indikator besar tentang transisi ke suatu masyarakat berpendidikan berkelebihan yang dibahas oleh Freeman ialah kenaikan yang dramatis dalam kesulitan para lulusan perguruan tinggi untuk menemukan pekerjaan yang sepadan dengan pendidikan mereka — atau nlalah pekerjaan apa pun. Sebagai contoh, pada akhir tahun 1972 tingkat penga.ngguran lulusan kelas 1972 adalah 11,7 persen. Angka ini melampaui angka rata-rata untuk semua pekerja, yang adalah 5,1 persen, dan rata-rata untuk lulusan sekolah menengah atas dengan usia yang sama, yang adalah 7,7 persen. Lulusan yang pelajaran pokoknya ilmu-ilmu sosial atau humanitas mengalami Icadaan yang lebih jelek: tingkat pengangguran mereka kira-kira 16 persen.

Lagi pula, skenario berikut akan men-tberi pembuktian yang luas tentang kesulitan-kesulitan pasar tenaga kerja lulusan perguruan tinggi dalam masa awal tahim 1970-an (Freeman, 1976:28): Enam bulan sesudah lulus, hampir seperlima dari lulusan seni sastra ta_hun 1973 dari suatu universitas besar menganggur, dan 15 persen lainnya lulusan itu bekerja sebagai penjaga geclung, pekerja pabrik, juru-tulis, dan resep-sionis; dala.m musim semi tahun 1975 para mahasiswa pada Ltnyersity of Illinois bermalam di depan kantor tenaga kerja menunggu masa pendaftaran dan wawancara kerja esoknya; dalam tahun yang sama kira-kbra dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard. University, begitu ada waktu luang, berbaris di luar kantor penempatan tenaga kerja gima diwawancarai oleh bank-bank; dalam menjawab suatu kresioner yang dikirimkan kepada mereka, hanya kira-kira seperenam dari lulusan Montclair State College melaporkan bahwa pekerjaan mereka sepadan dengan tingkat pendidikan mereka. Terdapat banyak respons terhadap perubahan-perubahan oleh para mahasiswa maupun oleh lembaga-lembaga pendidikan. Salah satu res-pons banyak mahasiswa ialah untuk ti.dak melanjutkan kuliah. Semen-tara kira-kira 53 persen dari pemuda berusia 18 sampai 21 tabun meng-ikuti kuliah dalam tahun 1970, jumlah itu telah turun menjadi sekitar 47 persen pada tahun 1973. Namun, ternyata turunnya pengikut kuliah hanya bersifat sementara, karena pada tahun 1980 jumlah mereka yang berusia 18 sampai 21 tahun yang mengikuti kuliah telah naik kembali, sampai kira-kira 57 persen. Ada reaksi-reaksi yang lebih stabil yang berasal daripara mahasiswa. Dalam 15 tahun lalu para mahasiswa telah mengalihkan fokus pendidikan mereka secara dramatis. Sirnalah kesadaran sosial dan politik yang menjadi ciri khas tahun 1960-an. I-Ianya sedikit mahasiswa sekarang ini yang mempunyai perhatian dalam persoalan-persoalan sosial dan yang merupakan perhatian paling besar banyak mahasiswa dalam tahun 1960-an. Kebanyakan mahasiswa sekarang ini agaknya telah menjadi bosan dengan soal itu. Memang, radikalisme pada kampus-kampus tahun1980-an agaknya tampak mati.

Para mahasiswajuga telab mengubahfokusmatakuliah pokokmereka dalamjurnlab besar. Terdapat suatu penurunan yang sebanding dalam jumlah mahasiswa yang mengutamakan 11111t1 111I1t1 sosial dan humanitas; dart bidang-bidang seperti sejarah, kesusasteraan Inggris, bahasa asing, dan filsafat sekarang ini kehabisan mahasiswa. Para mahasiswa jelas merasa bahwa subyek-subyek intelektual yang lebih ketat itu adalah hal-hal yang mewah yang tidak mereka sanggupi. IVIereka memalingkan perhatian ma lah ke bidang-bidang yang lebibpraktis,ritisalnya administrasibisnis dan ilmu komptiter, yang mereka pikir dapat mernberi harapan pekerjaan yang lebih besar. Malah banyak mahasiswa yang tadrnya berbrientasi intelektual kemudian berpalingke bidang-.bidang yang lebih praktis, sementara dalam suatupasar tenaga kerja yang baik mereka itu, dalam banyak hal, akan dilibatkan dalam bidang-bidang yang lebih abstrak secara intelektual yang memang menarik perhatian mereka.

Perguruan tinggidanuniyersitasmemberi respons terhadap orientasi para mahasiswa yang berubah itu dengan jalan menggeserkan fokus kurikula mereka. Dalarn kebanyakan lembaga pendidikari tinggi Amerika para administrator rupanya senang sekali untuk mengembangkan program-program studi yang lebih praktis. Ini berarti mengintroduksikan program-program yang baru seluruhnya maupun bergeser dari bidang-biclang seni sastra yang lebih tradisional ke penekanan yang lebih besar atas bidang-bidang yang praktis. Jurusan-jurusan sosiologi dan antropologi, rn isalnya, mulai n-temberi penekanan yang besar pada “sosiologi terapan” dan “antropologi terapan” agar dapat mengatasi menurunnya perhatian rnahasiswa dalam bidang-bidang itu.

Karena Amerika Serikat telah menjadi suatu masyarakat yang ber-pendidikan berlebihan maka seluruh karakter sistern pendidikannya mulai berubah, dan dalam cara yang olehbanyak pengarnat sangat tidak diingini. Para n-tahasiswa inerasa serna kin ditekan untuk belajar dengan baik sehingga mereka dapat bersaing dalam pasar kerja setelah tamat, dan kelas-kelas tinggi telah hampir menjacli suatu obsesi. Lagi pula, meningkatnya penekanan pada hal-hal yang praktis berarti terjadinya kernerosotan yang sebanding dalam penekanan atas seni sastra, yak_ni ilzti traclisional daripada pendidikan tinggi. Para pendidik tradisional sernakin n-ierasa tidak senang dengan erosi ini, yang percaya bahwa hal ini akan menjurus kepada diabaikannya bidang-bidang pengetahuan yang sesungguhnya menandai seorang yang berpendidikan. Jadi, pendidikan yang berlebihan dalam dirinya merupakan suatu paradoks yang mendalam, karena pendidikan berlebihan di satu pihak sesunggulmya menjurus kepada “kurang berpendiclikan” (unclereducation) di pihak lain.

Filed under : Bikers Pintar,