Paradigma “postmodernis”.

Pengertian national socialism (sosialisme nasional) adalah Keyakinan terhadap penjelasan umum tentang Sosialisme Nasional—sebagai ge­rakan politik, ideologi, dan rezim—telah terkikis oleh kemajuan riset dan kemuncul­an paradigma “postmodernis”. Teori-teori Hitlerisme, TOTALITARIANISM, FASCISM, atau Sonderweg Jerman (lihat Grebing, 1986; Blackbourn dan Eley, 1984) kini tampak­nya hanya bisa dipakai untuk menjelaskan ciri-ciri tertentu, atau sebagai pijakan un­tuk pemikiran dan analisis lanjutan. De­wasa ini tampaknya ada persoalan apakah Sosialisme Nasional pada 1920-an, seperti di jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitier, yang menciptakan kediktatoran (1933-45) yang menyebabkan penderitaan besar bagi umat manusia pada Perang Du­nia lI dan memunculkan kebijakan pemus­nahan massal, dapat dimasukkan ke dalam kategori umum fasisme, meski secara his­toris ia dikaitkan dengannya.

Nasionalisme baru.

Salah satu akar Sosialisme Nasional di dalam sejarah Eropa dapat dijumpai dalam upaya intelektual dan politik, bah­kan sebelum pergantian abad di Perancis dan Eropa Tengah, untuk menyatukan nasionalisme dengan politik massa di fase awal demokratisasi, dan dengan konsep sosialis. Meski “nasionalisme baru” ini yang tidak direalisasikan secara penuh oleh partai-partai seperti Partai Sosial Kristen pimpinan Ado1f Stoecker di Berlin atau Pan-jerman pimpinan Georg von Schonere di Vienna, sering diasimilasikan dalam pe­mikiran politik tradisional dengan aliran kanan ekstrem, dan dalam kenyataannya, seperti fasisme, ia menghindari skema kiri. Pengertian national socialism (sosialisme nasional) adalah Si­kap ganda ini juga menjelaskan mengapa kontroversi di antara ilmuwan sosial dan sejarawan sosial selalu berkisar pada per­soalan apakah Sosialisme Nasional mesti dianggap sebagai revolusioner atau reak­sioner, berpandangan ke belakang atau ke arah modernisasi (lihat Prinz dan Zitel­man, 1991), sebagai usaha untuk menca­pai stabilitas sosial dengan cara reaksioner ataukah sebagai modernisasi ekonomi dan kemasyarakatan melalui revolusi politik “konservatif” (1ihat Schoenbaum, 1966). Berbeda dengan fasisme Mediterania dan Eropa Barat, Sosialisme Nasional dim­ulai dengan kultur nasional yang dicirikan oleh konsep keturunan bersama, “tanah dan air”, “ras”, dan “Vo/k”. Elemen pen­ting lainnya adalali ANT1-SEMITISM “mod­ern” yang didasarkan pada tradisi Kristen. Elemen-elemen ini dikombinasikan dengan cara berbeda di Jerman sejak masa unifika­si nasional 1871. Keyakinan pada “Volk” Jerrnan, yang diekspresikan melalui monu­men nasional, festival publik, novel dan tu­lisan populer, dan opera Wagner, menjadi semacam “agama sekuler” di banyak ma­syarakat Jerman (1ihat Mosse, 1964). “Ide­ologi Jerman” dikomunikasikan dalam simbol dan bentuk-bentuk liturgi sebagai “politik teatrikal”. Ini adalah sumber lain dari Sosialisme Nasional, dan pada saat yang sama merupakan prakondisi untuk difusinya ketika masyarakat Jerman terke­na krisis sosial dan ekonomi pada periode antarperang. Perintis Sosialisme Nasional, baik da­lam nama dan organisasi, muncul sebelum 1918 dalam perjuangan nasionalis di Bohe­mia Jerman di masa kekaisaran Habsburg (tahun 1903 menjadi saksi pembentukan Partai Buruh Jerman), dan setelah Perang Dunia I mereka bangkit kembali di Austria, Cekoslowakia, dan jerman. Gerakan Sosialisme Nasional pada awalnya adalah pecahan dari gerakan buruh “volkisch” di masa pascaperang di Munich, tetapi ke­mudian melahirkan tokoh Hitler yang di­anggap sebagai pemimpin utama. Setelah National Socialist German Workers’ Party (NSDAP) pada 1920 mengadopsi program cii mana klaim nasionalistik radikal dan imperialistik, dan tuntutan revisi tatanan domestik dan internasional pascaperang dipadukan isu anti-Semit, dan tuntutan so­sial kelas menengah (seperti nasionalisasi turst, pembagian laba di perusahaan besar, komunalisasi distributor besar, dan pemba­gian properti tanah), program ini dimasuk­kan ke dalam gagasan “komunitas rakyat” tanpa kelas. Heterogenitas program ini se­lalu ditegaskan oleh sejarawan dan pemikir pada masa itu, dan ini kurang signifikan dalam praktik politik Sosialisme Nasional. Walau demikian ia memampukan NSDAP untuk tidak hanya berkomitmen pada satu kelompok sosial saja, dan selama krisis ekonomi NSDAP mampu merespons berb­agai protes dan kekecewaan, lalu menyatu­kan mereka dalam gerakan massa.

Bolshevisme Yahudi. Pengertian national socialism (sosialisme nasional) adalah

Pandangan Hitler (yang dikemukakan pada 1925 dalam Mein Kampn, yang di­susun di Vienna pada akhir kekuasaan monarki Habsurg dan diperbarui di masa pascaperang di Munich, oleh para sejara­wan dianggap sebagai rumusan utama dari ideologi Sosialis Nasional. Pengertian national socialism (sosialisme nasional) adalah Prinsip dasarnya adalah perjuangan Darwinian untuk eksis (lihat SOCIAL DARWINISM); keya­kinan pada superioritas “ras Arya”; dan pandangan elitis. Tujuan utamanya adalah menaklukkan “ruang kehidupan di Timur” dan “pembuangan Yahudi” secara radikal dari masyarakat, yang dalam praktiknya bergabung dengan perjuangan menentang “Bolshevisme Yahudi”. Berbeda dengan Richard dan Heinrich Himmler (1900- 1945), Hitler, yang menerima eksistensi properti privat meski dia menghendaki agar properti itu disubordinasikan pada “komunitas rakyat”, memandang masa depan jerman 11(an sangat terindustrialisasikan dan menjadi masyarakat yang maju secara teknologis (lihat Zitelmann, 1987; Kershaw, 1991, Bab 1 dan Kcsimpulan). Prinsip kepemimpinan karismatik, agi­tasi antidemokratis, dan “anti-Marxis”, serta politik paramiliter (“tentara raha­sia” SA dan “polisi rahasia” SS) disem­purnakan oleh NSDAP setelah kegagalan pemberontakan Munich Beer Hall pada 1923, meskipun pemimpin partai mem­batasi hanyak tendensi kombatif “revolu­sioner” di antara anggota militannya dan menghindari upaya merebut kekuasaan secara inkonstitusional. Keanggotaan par­tai dan dukungan elektoral pada awal 1930-an menimbulkan kesan partai rakyat yang lebih modern ketimbang partai kelas menengah atau borjuis kecil yang banyak dibahas teori Marxis dan fasisme. Yang juga meragukan adalah asumsi tentang pembiayaan dari kemunculan NSDAP, terutama oleh “modal besar”, akan tetapi perebutan dan konsolidasi kekuasaan pada 1933 sulit dibayangkan tanpa dukungan elite nasional dan konservatif dari kubu Republik Weimar (aristokrasi Prusia, pe­mimpin militer, dan pejabat tinggi). Pembentukan kekuasaan Sosialis Na­sional menimbulkan pertanyaan mendasar tentang struktur dan fungsinya. Secara khusus, sejarawan Jerman pada 1980-an memperdebatkan apakah Third Reich ter­gantung kepada kehendak Hitler sebagai sosok pemimpin yang amat berkuasa, atau merupakan poliarki pemimpin-pemimpin subordinat dan birokrasi yang saling ber­saing, yang, dalam analisis terakhir, dapat direduksi ke dikotomi struktural faktor “negara” dan “partai” dalam struktur kekuasaan Nazi (“negara ganda”) (lihat Fraenkel, 1941 dan Neumann, 1942). Pengertian national socialism (sosialisme nasional) adalah Da­lam konteks yang sama, jawaban yang be­ragam telah diberikan untuk pertanyaan apakah dalam rezim Nazi dapat dijumpai realisasi program Sosialis Nasional atau program Hitler, atau apakah realitas bru­tal dari Reich Ketiga acialah konsekuensi dari proses radikalisasi yang kurang teren­cana, yang muncul dari tendensi laten dimasyarakat Jerman dan masyarakat modern lainnya. Dalam rangka menjelas­kan asal usul “solusi final” atas persoalan Yahudi, debat ini menimbulkan evaluasi yang berbeda secara politik, evaluasi yang berkaitan dengan realitas sistem Sosialis Nasional: sebagai kediktatoran totalitar­ian penuh teror (Arendt, 1951), atau seba­gai rezim konsensus, “resistensi populer” parsial, dan tingkat kebebasan dalam ke­hidupan privat, yang berada di luar ritual publik pembantaian oponen dan Yahudi, dan sebagai efek dari perang. Terbatasnya penetrasi “totalitarian” ke masyarakat Jerman oleh Sosialisme Nasional setelah kekalahan pada 1945 ini menimbulkan kesan bahwa Sosialis Nasional tidaklah meyakinkan, kecuali di mata para oportunis dan orang-orang ter­kelabui. “Denazifikasi” pascaperang yang dilaksanakan oleh Sekutu hanya terbatas di Jerman Barat dan kurang mendalam di Jerman Timur, tetapi ada kebangkitan ide Sosialis Nasional dalam pengertiannya yang tepat. Organisasi dan partai neo-Nazi tidak banyak berpengaruh, kecuali secara singkat di era 1960-an dengan munculnya Partai Demokratis Nasional Jerman (yang bukan neo-Nazi dalam pengertian penuh) dan sejak 1990, meski kubu “Republik” lebih merupakan nasionalis sayap kanan ketimbang neo-Nazi (lihat Benz, 1989).