Unit politik natural.

Pengertian nationalism (nasionalisme) adalah Doktrin ini menyatakan bahwa kelompok etnis dan politik haruslah kongruen (sama dan se­bangun). Secara lebih spesifik dan konkret, nasionalisme menyatakan bahwa negara nasional, yang diidentifikasi dengan kultur nasional dan berkomitmen untuk melin­dunginya, adalah unit politik natural; dan bahwa adalah keliru jika sejumlah besar anggota komunitas nasional diwajibkan hidup di luar batas negara nasional. Na­sionalisme juga tidak menyukai kehadiran unsur nonnasionalis dalam jumlah besar di dalam wilayah negara nasional. Tetapi, situasi politik yang keliru menurut nasio­nalis adalah apabila kekuasaan dipegang oleh kelompok etnis di luar mayoritas pen­duduk.

Pengaruh nasionalisme.

Prinsip nasionalisme dianut secara luas dan bahkan diterima begitu saja di dunia modern. Di mata penduduk dewasa ini, adalah wajar jika orang semestinya tinggal di dalam unit politik yang beranggotakan orang dari “kebangsaan” yang sama, atau kultur yang sama, dan bahwa mereka se­harusnya menolak kekuasaan asing. Unit politik dan nasional adalah unit yang merepresentasikan dan mengekspresikan kehendak mayoritas dari satu bangsa, me­lindungi kepentingannya, dan menjamin kelangsung hidup budayanya. Pengertian nationalism (nasionalisme) adalah Di bawah pengaruh nasionalisme, baik itu peta etnografi maupun peta politik di Eropa, dan di belahan dunia lainnya, mu­lai dibuat lagi. Prinsip yang mengatur pe­nyusunan peta Eropa pada 1815, setelah perang Napoleon, adalah prinsip dinasti atau agama: tidak banyak upaya menye­laraskan nasionalitas rakyat dan nasiona­litas penguasa. Di banyak negara Eropa, hal ini mustahil: peta etnis di Eropa san­gatlah kompleks, clan mengimplementasi­kan prinsip nasionalis akan membuat peta seperti teka teki jigsaw. Lehih jauh, sering mustahil untuk memproyeksikan batas­batas etnis pada peta teritorial: kelompok etnis, kultural dan religius sering kali di­pisahkan bukan oleh wilayah, tetapi oleh posisi mereka dalam struktur sosial. Mere­ka sering mendiami wilayah yang sama, tetapi peran mereka dalam masyarakat adalah berbeda-beda. Penting untuk dicatat bahwa gaya penggambaran batas-batas politik yang di­dasarkan pada dinasti, religius atau komu­nitas tetapi mengabaikan prinsip nasional­itas adalah gaya yang tidak dipertanyakan lagi keabsahannya pada saat itu. Gaya ini jarang ditentang. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sebuah prinsip, setelah diabaikan, pada abad ke-19 dan 20 men­jadi prinsip yang amat kuat dan efektif. Ada dorongan insting di dalam diri manusia, yang membuat mereka ingin berdekatan dengan orang yang “berda­rah” sama atau berkultur sama (atau keduanya) dan untuk menjaga wilayah bersama-sama, dan ada insting untuk menolak orang-orang yang mereka anggap asing, apalagi kekuasaan oleh orang asing. Kebangkitan kembali do­rongan ini mungkin disebabkan oleh berbagai hal, seperti menurunnya iman religius, keruwetan dunia modern, atau tendensi umum untuk kembali visi ma­nusia yang “alamiah”. Dampak nasionalisme diakibatkan oleh formulasi dan diseminasi ideologi nasionalis, yang disusun oleh berbagai pemikir pada pergantian abad ke-18 dan 19, dan kemudian dielaborasi le­bih jauh dan disebarluaskan. Proponen utama teori ini adalah Elie Kedourie. Teori yang dianut oleh banyak Marxis, yakni bahwa konflik dasar dalam se­jarah adalah antarkelas, sehingga kon­flik antaretnis tidak relevan; tetapi wa­lau begitu, konflik itu menjadi penting karena kelas dominan mengembang­kan perasaan nasionalis, untuk mengalihkan perhatian dari pihak yang me­reka kuasai agar tidak memerhatikan kepentingan mereka. Nasionalisme adalah plot untuk mencegah kaum tertindas untuk berjuang. (Lihat juga Bauer, 1907). Pengertian nationalism (nasionalisme) adalah Nasionalisme muncul bersama deng­an “perkembangan” ekonomi, yakni selama difusi industrialisme, yang di­interpretasikan secara umum sebagai perekonomian yang didasarkan pada pertumbuhan pesat dan perkembang­an teknologi. Difusi perekonomian ini menyebabkan area yang “terbelakang” dan populasinya terseret ke dalam perekonomian industri sehingga me­reka dirugikan, bailc secara ekonomi maupun sosial. Untuk melindungi diri, mereka harus mengorganisasikan unit politik sendiri, yang akan memandu perkembangan ekonomi, terutama pa­da tahap awal. Nasionalisme adalah efek samping dari kondisi di dunia modern, ketika kebanyakan orang tidak lagi tinggal di desa yang tertutup, ketika pekerjaan menjadi makin semantik, bukan fisik, dan membutuhkan kemampuan un­tuk berkomunikasi dalam idiom dan tulisan yang bisa dipahami bersama, lcetilca struktur pekerjaan berubah cepat dan tidak mudah menoleransi pembagian kerja etnis, dan ketika kon­tak dengan, dan ketergantungan pada, birokrasi, baik secara politik maupun ekonomi, telah meliputi semua aspek kehidupan. Dalam kondisi ini, literasi universal dan penggunaan kode stan­dar menjadi kelaziman. Penguasaan atas kode itu menjadi aset penting hagi seseorang dan merupakan sarana pen­ting untuk mendapat akses ke lapang­an kerja, partisipasi sosial dan politik, penerimaan sosial, dan kehormatan. Hanya negara yang dapat melindungi dan menjaga homogenitas kultural ini, dan prinsip satu negara satu budaya cenderung berlaku. Maka, individu ingin agar wilayah atau negara yang didiaminya menggunakan kultur yang sama dengan individu itu. Individu akan berjuang agar kongruensi ini ter­capai, entah itu dengan berasimilasi ke dalam kultur dominan atau berusaha mengubah kulturnya menjadi domi­nan. M.ereka akan berusaha mencip­takan negara baru berdasarkan kultur ini, dan/atau memodifikasi batas poli­tik yang sudah ada.

Teori na­sionalisme Marxis. Pengertian nationalism (nasionalisme) adalah

Penulis masa sekarang cenderung percaya bahwa yang benar adalah pada jawaban nomor (4) dan (5). Keberatan terhadap teori “atavistik” adalah bahwa dorongan insting manusia ini, walau amat kuat, di masa lalu tidak bisa mencegah kebencian dan pembunuhan antar-anggota “berda­rah” sama atau berkultur sama. Tidak ada dasar yang kuat untuk percaya bah­wa panggilan Blut und Boden (“tanah air”) akan menguat di zaman ini. Penjela­san “ideologis” gagal untuk menunjukkan mengapa ide ini, di era yang penuh dengan kemunculan ide, menjadi lebih disukai ketimbang ide lain, yang sering disebarlu­askan oleh para pemikir yang lebih berse­mangat dan berbakat. Beberapa teori na­sionalisme Marxis tampaknya juga tidak memiliki bukti faktual yang cukup. Pengertian nationalism (nasionalisme) adalah Akan tetapi, isu ini belum usai, dan bukti empiris dan historis justru lebih mendua. Teori yang didukung oleh penulis masa sekarang hanya bisa diaplikasikan dengan baik untuk Eropa ketimbang Du­nia Ketiga, di mana nasionalismenya jelas melahirkan gerakan antikolonial yang kuat. Pemerintahan plural, multi-etnis, j uga bisa ber­. tahan, demikian pula dengan proliferasi negara yang memiliki kultur sama (Arab dan negara Hispano-Amerika). Hubung­an kebangsaan dengan era industri juga mulai dipertanyakan, misalnya oleh salah satu sarjana nasionalisme paling aktif dan serius, Anthony Smith.