Materialisme.

Pengertian naturalism (naturalisme) adalah Pada abad ke-20 naturalisme biasanya mengandung kono­tasi tiga ide yang berkaitan: ketergantungan kehidupan sosial dan kehidupan manusia pada alam, yakni materialisme; penerimaan penjelasan dengan cara yang ilmiah; karakter pernyataan fakta dan nilai, dan khususnya tiadanya jurang logis antara pernyataan seperti yang dike­mukakan oleh David Hume, Max We­ber dan G. E. Moore, yakni natural­isme etis. Entri ini terutama memaparkan pengertian kedua. Ini pernah menjadi isu dominan dalam filsafat, dan isu kontroversial dalam praktilc ilmu manusia. Naturalisme, dalam pengertian ini, harus dibedakan dari dua jenis lain dari naturalisme: saintisme, yang mengklaim kesatuan yang komplet, dan reduksionisme, yang menegaskan kemirip­an aktual dari subjek ini, antara ilmu alain dan ilmu sosial. Ada tiga pandangan umum: (a) natu­ralisme nonkualifikasi, biasanya diasosia­sikan dengan Posmvism, yang dominan dalam filsafat dan praktik ilmu-ilmu sosial (s’etidaknya di dunia Anglophone) sampai sekitar 1970; (b) anti-naturalisme, didasar­kan pada konsep tentang keunikan realitas yang berbeda-beda, yakni yang karakternya diinterpretasikan, dikonseptualisasikan, atau berkarakter linguistik—hermeneutik, “lawan resmi” bagi positivisme, yang cu­kup kuat di Jerman; (c) naturalisme kritis, yang didasarkan pada konsep sains rcalis dan konsep aktivitas sosial transforma­sional, yang mulai menonjol pada perem­pat akhir abad ke-20 (lihat REALism).

Ontologi positivis.

Positivisme. menemukan ekspresinya dalam tradisi sosiologi Durkheimian dan behaviourisme, fungsionalisme, dan struk­turalisme. Anteseden filosofisnya adalah karya David Hume, J. S. Mills, Ernst Mach, dan VIENNA CIRCLE, yang menyediakan da­sar konsep sains ortodoks. Leluhur filsa­fat hermeneutik adalah Wilhelm Dilthey, Georg Simmel, Heinrich Rickert, dan Max Weber. Mereka memadukan perbedaan Kantian dan Hegelian untuk menghasilkan pertentangan antara dunia alam fenomenal dengan dunia kebebasan yang dapat dipa­hami, yang menjadi dasar bagi perbedaan antara penjelasan kausal (Erkliiren) deng­an pemahaman interpretatif ( Verstehen), nomotetik dan ImoGRAPHic, dunia fisik dan. sejarah. Ia menemukan ekspresinya dalam tradisi sosiologi Weberian dan dalam studi fenomenologi, etnometodologi, dan inter­pretatif pada umumnya. Di sini harus dibe­dakan antara mereka yang berusaha men­sintesiskan atau mengombinasikan prinsip positivis dengan hermeneutik seperti We­ber atau Jurgen Habermas, dan paradualis yang menyangkal daya terap positivisme untuk bidang kemanusiaan, seperti H. G. Gadamer atau P. Winch. Ketiga, tradisi naturalis kritis yang didasarkan pada fil­safat sains realis yang dikembangkan oleh Rom Harre, E. H. Madden, Roy Bhaskar, dan yang lainnya dan konsep aktivitas so­sial yang diajukan oleh sejumlah penulis termasuk Russell Keat, Ted Benton, Wil­liam Outhwaite, dan Peter Manicas. Ke­banyakan penulis ini menemukan ekspresi sosiologis awalnya dalam karya Marx dan dalam teori sosial (baik Marxis maupun non-Marxis) yang didasarkan pada tradisi strukturalis dan Verstehende. Pengertian naturalism (naturalisme) adalah Sulit untuk mengkarakteristikkan karya pemikir post­strukturalis, dan postmodernis. Mereka mengadopsi perspektif epistomologis Nitz­schean berdasarkan ontologi positivis atau Humean. Kubu positivis mendasarkan naturalis­menya pada teori epistemologi yang rela­tif a priori, sedangkan penganut herme­neutik mendasarkan antinaturalismenya pada pertimbangan ontologis, terutama ciri dari makna atau aturan realitas sos­ial. Positivis menegaskan bahwa hipotesis tentang ciri ini harus tunduk pada prose­dur normal dari ilmu empiris, sedangkan penganut hermeneutik menunjukkan ti­dak adanya kaidah dan penjelasan yang menguatkan kanon positivis. Untuk mere­spons pendapat ini, positivis menyatakan bahwa dunia sosial jauh lebih kompleks ketimbang dunia alam atau bahwa hukum yang mengaturnya hanya dapat diidentifi­kasi berdasarkan be-berapa hal, misalnya pada level neurc.)fisiologis. Baik positivis maupun hermeneutisis menerima penjela­san positivis tentang ilmu alam. Jika ini salah, seperti dikatakan realis, maka posi­tivis harus menunjukkan mengapa posi­tivisme dapat diaplikasikan untuk dunia manusia; dan hermeneutisis harus menilai kembali pandangannya. Jadi, dua argumen utama Winch adalah semacam parasit bagi ontologi positivis. Konjungsi kejadian-ke­jadian yang konstan tidak cukup untuk memahami alam atau dunia sosial se­cara ilmiah: keduanya harus menemukan hubungan-hubungan yang bisa dipahami. Gabungan argumen konseptual dan em­piris tidak dapat menggantikan yang riil. Realisme dapat mengakui bahwa konsep adalah sesuatu yang berbeda tetapi tidak bisa menggantikan dunia riil. Lebih jauh, realis mengatakan bahwa tema positivis masuk ke dalam metateori hermeneutik.

Pandangan naturalisme. Pengertian naturalism (naturalisme) adalah

Pandangan naturalisme kritis diarah­kan pada sejauh mana analisis independen terhadap objek pengetahuan sosial dan psikologis konsisten dengan teori ilmu menurut realis. Jadi, pada tradisi Webe­rian objek sosial dilihat sebagai akibat dari perilaku yang disengaja atau mengan­dung makna, yang cenderung melahirkan voluntarisme dan pada tradisi Durkheimian objek sosial diang­gap memiliki kehidupan sendiri, dan cen­derung melahirkan reifikasi , sedangkan pada tradisi naturalis kritis masyarakat dilihat sebagai kondisi yang diperlukan untuk agen (pandangan Durkheim) tetapi juga hanya eksis di atas masyarakat.Maka berdasarkan l<onsep im, ma­syarakat adalah syarat dan hasill (outcome) dari agen manusia (dualitas struktur) dan agen manusia menghasilkan dan merepro­duksi (atau mengubah) masyarakat (duali­tas struktur). Pada model ini, yang berten­tangan dengan pandangan hermeneutika, penjelasan aktor diperbaiki sekaligus di­batasi oleh adanya kondisi yang tidak di­ketahui, konsekuensi tal< terduga, keahlian yang tersembunyi, dan motivasi bawah sadar; tetapi, berbeda dengan pandangan positivis, penjelasan aktor merupakan pi­jakan awal utama bagi penelitian sosial. Pengertian naturalism (naturalisme) adalah Model transformasional ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial memiliki karal<ter rekursif dan non-teleologis. Agen mere­produksi dan mengubah struktur dasar yang mereka gunakan (dan dibatasi oleh) dalam aktivitas substantif mereka. Ini juga menunjukkan konsep relasional dari po­kok persoalan ilnlu sosial, yang berbeda dengan konsep metodologi individualis dan kolektivis yang menjadi ciri teori sosi­al dalam tradisi utiiitarian (dan Weberian) dan Durkheimian. Ciri sistem tertentu yang dapat diang­gap sebagai batas ontologis naturalisme dapat diturunkan langsung dari model ini. Ciri ini bisa diringkas sebagai konsep ketergantungan, ketergantungan aktivitas dan spesifitas ruang-waktu dalam struk­tur sosial.