Konsep kebutuhan.

Pengertian needs (kebutuhan) adalah Istilah untuk keperluan dasar manusia, kebutuhan untuk bertahan hidup, baru mendapat perhatian sebagai subjek teori pada abad ke-20. Filsuf pada masa lalu berpendapat bahwa kebutuhan adalah konsep yang pada dasarnya bisa diperdebatkan, atau bahwa tidak ada per­bedaan esensial antara kebutuhan dengan keinginan. Pemikir sejak zaman Plato dan Aristoteles telah mempostulatkan kebutu­han manusia sebagai basis kota (polis), se­buah agregat sosial yang dasar ekonomin­ya adalah pasar. Tetapi konsep kebutuhan Yunani ini sering diterjemahkan sebagai “keinginan”. Penulis Stoik dan Epicurean dari periode Yunani menggunakan kebu­tuhan sebagai kriteria untuk membedakan antara kehidupan yang baik dan buruk, untuk mempromosikan cita-cita “manu­sia dengan sedikit kebutuhan.” Pemikir seperti Epictetus dan Seneca mengatakan bahwa kebutuhan itu elastis sehingga bisa berkembang jika kaidah moral tidak me­rintanginya. Ini adalah garis pemikiran yang diambik oleh pemikir Pencerahan seperti jean jacques Rousseau, yang dalam Diskursus Pertama dan Keduanya mengikuti Seneca dalam menunjukkan bahwa analisis penurunan peradaban bergeser ke soal perbedaan antara kebutuhan “alami­ah” dengan “artifisial”. Psikolog lingku­ngan Perancis dan sosialis akhir abad ke­18 dan awal abad ke-19, seperti Helvetius, d’Holbach dan La Mettrie, menarik suatu kesimpulan berdasarkan perbedaan ini: bahwa masyarakat yang baik akan tergan­tung pada perumusan kebutuhan yang te­pat untuk individu.

Kebutuhan moralistis.

Perbedaan pembahasan kebutuhan moralistis dan nonsistematik awal dan penggunaan konsep semi teknis muncul dalam karya Hegel bertajuk Philosophy of Right. Hegel, yang jelas dipengaruhi oleh ekonom politik Skotlandia, mendefi­nisikan masyarakat sipil sebagai “sistem kebutuhan”, mengacu pada fungsi eko­nomi dari masyarakat sebagai penyedia kebutuhan subsisten melalui mekanisme pasar. Opsi ini dikaitkan dengan Aristo­teles, yang dalam karyanya Politics telah membuat perbedaan antara nilai pakai dan nilai tukar, sedangkan Hegel mem­buat konsep masyarakat yang lebih luas sebagai lapisan-lapisan jaringan institusi dan struktur yang dibuat selama proses pemuasan kebutuhan. Marx, yang banyak berutang budi kepada Hegel, memperluas gagasan ini dalam konsep mode produksi, basis sosial, di mana suprastruktur institu­sional didirikan sesuai dengan kebutuhan. Namun, Marx juga tidak mendefinisikan kebutuhan atau membahasnya secara spe­sifik. Pengertian needs (kebutuhan) adalah Dalam 1844 Manuscripts, misalnya, dia membuat perbedaan Rousseauan an­tara kebutuhan manusia dan nonmanusia, sedangkan dalam Capita/ dia menyebut kebutuhan sebagai sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari keinginan, tak soal apakah itu dari kebutuhan riil atau dari keinginan belaka. Di abad ke-20 fokus pada kebutuhan manusia telah dipengaruhi oleh dua per-‘ timbangan: problem dalam teori Marxis, dan isu dalam kebijakan publik. Marxis klasik harus menjelaskan daya tahan ka­pitalism• yang pernah diprediksi akan ambruk karena kelebihan produksi dan kekurangan konsumsi. Sejumlah revisio­nis Marxis, yang mengawinkan gagasan hasrat instingtual Freudian dengan obser­vasi tentang peran media oleh teoretisi masyarakat massa, mengemukakan pen­jelasan dalam term “kebutuhan palsu”. Dimulai oleh Erich Fromm, yang pertama kali mengemukakan ide itu pada 1930-an, dan juga Wilhelm Reich. Herbert Marcuse dan anggota mazhab Frankfurt, para pe­mikir ini berpendapat bahwa kapitalisme punya kapasitas unik untuk menanamkan ke dalam jiwa subjeknya berbagai kebutu­han yang diperlukan oleh kapitalisme un­tuk tetap hidup.

Kediktatoran atas kebu­tuhan. Pengertian needs (kebutuhan) adalah

Stimulus kedua untuk diskusi kebutu­han teoretis adalah perkembangan studi kebijakan. Teoretisi pendidikan, perenca­na kota, pekerja sosial dan pegawai negeri sipil berhadapan dengan kebijakan “ber­basis kebutuhan”. Batas kebutuhan dan kriteria untuk membedakan antara kebu­tuhan yang saling bertentangan merupa­kan perhatian utama dalam teori mereka. Pengertian needs (kebutuhan) adalah Perbedaan antara kebutuhan yang sejati dan yang palsu, sebagaimana dirumuskan oleh neo-Marxis, kini dianggap moralistis dan tidak ilmiah, dan dianggap mendu­kung pandangan “kediktatoran atas kebu­tuhan” (Feher et al., 1983) yang dibangun oleh negara sosialis. Berkat karya imajina­tif dari Michael Ignatieff (1984), para teo­retisi sekali lagi lebih fokus pada problem kebutuhan untuk orang tak punya: mereka yang tak punya ruang publik akibat telah dicaplok oleh institusi privat, tertekan oleh beban utang yang dibuat oleh kolusi antara perekonomian kapitalis Dunia Per­tama dengan kediktatoran Dunia Ketiga. WELFARE STATK, yang legitimasinya didasar­kan pada klaimnya untuk menjamin ke­butuhan subsisten dan keamanan, harus mengatasi problem yang diakihatkan oleh orang-orang miskin dan tunawisma, di mana mereka adalah orang-orang yang amat membutuhkan.