Advertisement

underdevelopment (keterbelakangan)

Makna asli kata underdevelopment sebenarnya bersifat netral, yaitu sekadar mendefinisikan negara-negara miskin yang kemudian disebut negara-negara terbelakang (underdeveloped countries). Namun sejak dianggap bernada menghina, istilah ini hilang dari kosa kata internasional, diganti dengan kata-kata yang lebih halus “negara-negara sedang berkembang” (developing countries). Akibatnya istilah terbelakang (underdeveloped) memiliki makna spesifik dan agak berbeda. Sekarang istilah itu erat kaitannya dengan aliran ketergantungan, dan sekaligus menyiratkan suatu keyakinan bahwa dalam ekonomi dunia terdapat kekuatan-kekuatan sentrifugal, yang memperkuat posisi inti yang sudah kaya sembari membiarkan kelompok periferi tetap miskin dan berada dalam kondisi terbelakang. Penulis utama yang menggunakan dan mengembangkan istilah ini adalah Andre Gunder Frank (1967). Frank juga orang pertama yang berbicara tentang “perkembangan keterbelakangan,” yang mengandung pengertian bahwa perkembangan hubungan negara kaya/negara miskin atau inti/periferi hanya menimbulkan proses pemiskinan terhadap pihak yang miskin atau periferi.

Advertisement

Ada beberapa varian dalam aliran keterbelakangan. Ragamnya mulai dari sayap radikal yang mengidentifikasi keterbelakangan sebagai hubungan neo-kolonial dan merupakan pengembangan pemikiran Marxis, hingga penjelasan-penjelasan non-politik atau non-ideologi seperti prinsip sebab-kumulatif (cumulative causation) yang dikembangkanGunnarMyrdal(1956).Prinsip sebab-kumulatif menyatakan bahwa ada lingkaran

setan yang membuat negara miskin atau kelompok miskin tetap miskin (misalnya, rendahnya pendapatan menyebabkan rendahnya tabungan dan investasi, kondisi ini kembali lagi menyebabkan rendahnya pendapatan pada putaran berikutnya; atau pendapatan rendah menimbulkan kesehatan yang buruk dan produktivitas rendah, yang akhirnya kembali lagi menyebabkan pendapatan rendah). Sebaliknya, di negara-negara kaya atau di kalangan kelompok kaya, lingkaran menguntungkan yang berputar ke arah berlawanan memungkinkan mereka memperkuat diri dan meningkatkan kondisi mereka secara progresif. Pandangan tegas Marx yang dengan sangat baik dihadirkan kembali oleh Rodney (1972) dalam bukunya, How Europe Underdeveloped Africa: “Komponen penting dalam keterbelakangan modern adalah adanya hubungan eksploitasi tertentu: eksploitasi suatu negara terhadap negara lain.” Logika pandangan ini tentunya juga mengarah pada peng-gunaan konsep tersebut untuk menggambarkan berbagai hubungan domestik dalam negara-negara sedang berkembang (sebagaimana hubungan antara kelompok elite perkotaan dengan rakyat miskin pedesaan), tetapi dalam prakteknya istilah tersebut sekarang berkaitan dengan konteks hubungan internasional antar negara. Di antara kedua aliran ekstrim ini terdapat beberapa aliran pemikiran lain yang menjelaskan bahwa sistem hubungan perdagangan internasional memiliki kecenderungan untuk lebih menguntungkan negara-negara kaya daripada negara-negara miskin. Yang paling terkenal adalah teori Prebisch-Singer, yang berpandangan bahwa terms of trade atas produk-produk primer cenderung mengalami penurunan dalam hubungannya dengan harga-harga barang manufaktur (Prebisch 1964; Singer 1950).

Pandangan radikal yang menyatakan bahwa setiap kontak internasional antara negara kaya dan miskin hanya akan merugikan negara miskin menghasilkan kesimpulan agar negara-negara miskin menganut kebijakan pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficient) dan berorientasi domestik (inward looking), sementara untuk negara-negara yang lebih kecil, di mana kebijakan ini tidak mungkin diterapkan, disarankan membentuk kelompok negara sedang berkembang dalam kawasan regional. Namun, tidak perlu menjadi bagian aliran keterbelakangan untuk sekadar mendukung kebijakan-kebijakan seperti itu; sudah jelas bahwa perdagangan, investasi dan berbagai relasi ekonomi lainnya di antara negara-negara sedang berkembang memang sangat jarang terjadi dibandingkan hubungan negara kaya-miskin. Dengan kata lain, negara-negara industri yang lebih kaya seharusnya berkepentingan untuk mendukung kerja sama selatan-selatan yang lebih erat.

Pandangan yang lebih lunak menyatakan bahwa kontak-kontak internasional menguntungkan kedua belah pihak yang terkait, sesuai dengan doktrin liberal dan hukum keunggulan komparatif, hanya saja keuntungannya tidak terdistribusi secara adil.

Keyakinan aliran keterbelakangan radikal bahwa hubungan-hubungan internasional pasti merugikan negara-negara miskin pada gilirannya memunculkan dua kesimpulan kebijakan yang berbeda. Salah satunya adalah mengurangi kontak-kontak utara-selatan dan sebaliknya mengembangkan hubungan-hubungan selatan-selatan; sedangkan yang lainnya adalah mereformasi sistem internasional sehingga keuntungan-keuntungannya didistribusikan secara lebih adil. Pen-dekatan ini terjadi akibat desakan negara-negara sedang berkembang terhadap Tatanan Ekonomi Internasional Baru (New International Economic Order) yang mendominasi diskusi-diskusi internasional sejak pertengahan tahun 1970-an dan juga dalam proposal-proposal reformasi seperti dua Laporan Brandt (Brandt 1980; 1983).

Incoming search terms:

  • pengertian negara miskin
  • negara terbelakang
  • pengertian keterbelakangan ekonomi
  • pengertian negara terbelakang
  • definisi negara miskin
  • pengertian keterbelakangan
  • definisi keterbelakangan
  • contoh negara terbelakang
  • negara negara terbelakang
  • NEGARA UNDERDEVELOPED

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian negara miskin
  • negara terbelakang
  • pengertian keterbelakangan ekonomi
  • pengertian negara terbelakang
  • definisi negara miskin
  • pengertian keterbelakangan
  • definisi keterbelakangan
  • contoh negara terbelakang
  • negara negara terbelakang
  • NEGARA UNDERDEVELOPED