Advertisement

Barat dalam pikirannya cenderung menekankan dunia objektif daripada rasa sehingga hasil pola pemikiran demikian membuahkan sains dan teknologi. Filsafat Barat telah dipusatkan kepada ujud dunia rasa. Oleh karenanya, pengetahuan mempunyai dasar empiris yang kuat. Demikian pula dalam tradisi agama Barat, dunia empiris memiliki arti (Harold, Marylin, dan Richard, 1979). Pada zaman sekarang semakin nyata bahwa sikap aktif dan rasional di dunia Barat unggul — sebaliknya, pandangan hidup tradisional, baik filsafat maupun agama, ada kesan mundur.

Barat dalam cara berpikir dan hidupnya lebih terpikat oleh kemajuan material dan hidup sehingga tidak cocok dengan cara berikir untuk meninjau makna dunia dan makna hidup. Barat hidup dalam dunia teknis dan ilmiah, rnaka filsafat tradisional dan pemahaman agama muncul sebagai suatu sistemik ide-ide abstrak tanpa hubungan dengan yang nyata dan praktek hidup. Akibatnya, pengaruhnva atas hidup dan pikiran orang makin berkurang karena Barat mengungguikan cara berpikir analitis rasional, yakni filsafat postivisme. Maka mereka menganggap pikiran nilainilai hidup yang meminta kepekaan hati sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bermutu. Apa yang tidak rasional diserahkan kepada daya pembayangan para sastrawan, sehingga karya sastra bukan saja pantulan hidup, melainkan juga merupakan norma kehidupan (The Huijbers, 1986). Kalau begitu, apa yang menjadi dasar nilai-nilai di Barat? Menurut To Thi Anh (1975) ada tiga nilai penting yang mendasari semua nilai di Barat, yakni martabat manusia, kebebasan, dan teknologi.

Advertisement

Dalam hal manusia, mereka beranggapan bahwa manusia adalah ukuran bagi segalanya. Maksudnya manusia mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan hidupnya sendiri, dengan syarat bertitik tolak dari rasio, intelek, dan pengalaman (Dorothy L. Marx, 1983). Pemikiran demikian menurut sejarah pemikiran filsafat berasal dari filsafat Protagoras (±480—411 SM), sebagai orang pertama yang mula-mula mengemukakan bahwa manusia menjadi ukuran segalanya (Hadiwiyono, 1980). Boleh jadi Protogoras adalah bapak humanisme yang kemudian berkembang pesat di Barat. Sebagai penerusnya adalah Comte dan Feuerbach pada abad ke-18. Dengan bersumber dari filsafat positivisme, Barat mengakui kelayakan martabat manusia. Manusia nilainya tak terukur dengan apa pun. Oleh karena itu, bagi manusia perlu respek, bantuan, dan hormat. Manusia oleh Barat dipandang sebagai pusat segala sesuatu yang mempunyai kernampuan rasional, kreatif, dan estetik sehingga kebudayaan Barat menghasilkan beberapa nilai dasar seperti demokrasi, lembaga sosial, dan kesejahteraan ekonomi. Kesemuanya berpangkal demi penghargaan rnutlak bagi manusia. Manusia harus mendapat segala yang bernila! dalam mewujudkan kemampuannya karena manusia yang memiliki nilai sehingga diukur dari kemampuannya, bukan dari kebijaksanaan hatinya.

Dalam tradisi humanistik ditekankan bahwa setiap manusia harus memilih untuk dirinya tentang kebenaran dan kebaikan. Akibatnya gerakan sekuiarisme pemikiran semaicin berkembang dan diperluas ke bidang estetika, moral, dan agama. Agama yang di kalangan Timur merupakan sumber nilai, di Barat dicampakan. Barat menganggap kebajikan agama tidak ada bedanya dengan kebajikan kodrati manusia. Barat ingin membangun agama baru yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, sebab agama (di Barat) mengalami kemunduran melalui tekanan mentallitas ilmiahDi Barat kepuasan diperoleh melalui usaha-usaha atau perhatian terhadap benda, kenikmatan dan keselarasan di dunia. Usaha-usaha in! dengan sendirinya dapat menirnbulkan kondisi kehidupan yang penuh dengan persaingan masyarakat dalam mencapai kehidupan, terkadang dapat menimbulkan kekacauan.

Tentang kebebasan di Barat cukup menarik untuk diamati. Semua orang Timur menganggap bahwa Barat itu negara kebebasan, segala sesuatunya serba mungkin terjadi. Hal ini dimulai dari sosialisasi anak, yang dibiarkan untuk membentuk dirinya sendiri dan mengembangkan bakatnya sendiri. Spontanitas lebih dihargai dan individu bebas dari tekanan dan campur tangan orang lain. Akhirnya kebebasan itu diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik, kebudayaan, dan ekonomi. Tradisi kebebasan ini menirnbulkan rasa percaya diri dan kernampuan serta menghilangkan perbedaan status sosial.

Tetapi sebagai akibat tekanan berat dari kehidupan (ekonomi dsb.), sering kebebasan ini menyebabkan orang menjadi tidak bebas lagi. Misalnya, kebebasan mengakibatkan tuntutan moral, kepribadian dan nilai etika menjadi semakinkeras lagi sehinga sering kebebasan yang dijadikan tumpuan harapan ini hanya menjadi impian atau Utopia belaka. Sebagai contoh ialah kasus pungutan pajak yang tinggi, wajib militer, penekanan aksi protes, dan Iain-lain. Keadaan ini pun sekarang sudah dirasakan di negara-negara Dunia Ketiga.

Teknologi Barat membikin kagum dan iri bangsa Timur. Tidak sedikit negara Timur yang menjadi korban “penjajahan” teknologi Barat karena rasa kagum ini. Filsafat berdiri di atas kaki sendiri tidak tahan terhadap godaan dan tantangan teknologi Barat sehingga tunduk kepada teknologi. Hasi! teknologi barat melebihi kebutuhan manusia, bahkan mengganggu kepentirigan manusia karena terlalu cepat sampai ke depan (Alfin Topler menyebutnya future shock). Cepatnya teknologi Barat suiit diikuti imajinasi sehingga banyak benda yang cepat dimusiumkan. Di Barat tidak sedikit manusia yang dikuasai oleh perubahan teknologi sehingga menirnbulkan dampak kehilangan arah, hilang kepercayaan terhadap diri sendiri* terhadap nilai-nilai dan iman. Timbul kecenmsan. tekanan, hidup acuh tak acuh, dan terganggu kesehatan mental. Akibatnya, teknologi yang tadinya meningkalkan nilai eksistensi manusia, secara serempak juga merendahkan martabat manusia. Yang menjadi ukuran dalam budaya teknologi sekarangadaiah kultur orang. kuantiras (produksiyang meiirupah), kultur boat an (artifisial), kontrol menyeluruh (kemahakuasaan sistem).

Tradisi humanistik di Barat. berupa penghargaan terhadap martabat manusia sebagai suatu yang otonorn, merdeka, dan rasional, rnenunjang nilai-nilai demokrasi, lenibaga sosial, dan kesejahteraan ekonomi. Nilainilai lain pun berkembang seperti kebebasan, perekoriomian, dan teknologi. Kemajuan teknologi menghasilkan dinamisme, perencanaan, organisasi, manajemen, keberanian berusaha, penguasaan materi, dan sekaligus rnenggerogoti kehidupan sosial dan pribadinya (Tho Thi Anh, 1974). Di Barat orang lebih condong menekankan dunia ernpiris sehingga mereka maju dalam sains dan teknologi. Melalui pengaruh Yunani, Barat berkembang dalam pengetahuan deskriptif dan spesialisasi. Dukungan sikap Barat yang lebih besar tekanannya kepada realitas dan nilai waktu menyebabkan perkembangan yang pesat dalam filsafat prosesi pengonsepan evolusi kreatif serta kemajuan. Dengan demikian, waktu mempunyai peran dalam keselamatan manusia. Manusia dengan alam menurut konsep Barat adaiah terpisah. Alam sebagai dunia luar harus dieksploatasi. Hal ini tertulis dalam kata-kata: menaklukkan luar angkasa, menaklukkan alam dan hutan rimba. Kata-kata tersebut dibuktikan oleh problema yang dihadapi Barat seperti polusi udara dan air. Pendek kata, Barat memiliki persepsi yang berbeda terhadap nilai pengetahuan, keinginan, watak, proses waktu, dan sikap terhadap alam.

Incoming search terms:

  • pengertian budaya barat
  • nilai budaya barat
  • nilai nilai budaya barat
  • nilai-nilai budaya barat
  • apa itu budaya barat
  • definisi budaya barat
  • nilai budaya barat dan timur
  • kebudayaan barat adalah
  • contoh nilai nilai budaya barat
  • 3 nilai yang mendasari nilai budaya menurut tho thi anh

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian budaya barat
  • nilai budaya barat
  • nilai nilai budaya barat
  • nilai-nilai budaya barat
  • apa itu budaya barat
  • definisi budaya barat
  • nilai budaya barat dan timur
  • kebudayaan barat adalah
  • contoh nilai nilai budaya barat
  • 3 nilai yang mendasari nilai budaya menurut tho thi anh