Advertisement

value and distribution (nilai dan distribusi)

Para teoritisi awal abad ke-19 yang mempunyai kesamaan dengan Adam Smith dalam memfokuskan pada persoalan-persoalan ekonomi makro juga mengikuti teladannya, yaitu menggunakan kerangka analisis biaya produksi untuk membahas masalah-masalah yang menentukan nilai tukar relatif barang di satu pihak dan distribusi nilai-nilai di antara berbagai faktor produksi di pihak lain. Selanjutnya mereka merumuskan nilai setiap komoditas (dan nilai output nasional secara keseluruhan) sebagai jumlah pembesaran imbalan bagi para pekerja, tuan tanah dan pemilik modal yang terlibat dalam kegiatan produksi itu.

Advertisement

Karena buruh pada umumnya dihitung untuk kumpulan biaya-biaya ini, maka analisis ekonomik klasik cenderung menggunakan versi pendekatan biaya produksi yang disederhanakan yang mendekati teori nilai buruh. Ricardo, misalnya, menjustifikasi tindakan mengabaikan sewa dalam menghitung nilai dengan menggunakan teori sewa diferensial dalam pertanian, yang memungkinkannya mengambil kesimpulan bahwa sewa adalah harga yang ditentukan bukan harga yang menentukan. Kemudian ia membahas modal dengan mengatakan bahwa, pada akhirnya, nilai- nilai tukar relatif barang bisa diperkirakan bervariasi secara proporsional tidak hanya terhadap biaya buruk langsung tapi juga terhadap biaya buruh dalam modal tetap yang digunakan dalam proses’memproduksi barang tersebut. Dengan demikian Ricardo mendapatkan ukuran sederhana tapi memadai atas nilai-nilai tukar relatif berbagai komoditas dalam kerangka durasi jam perorangan dari buruh yang digunakan dalam memproduksi komoditas-komoditas itu.

Penyederhanaan ini telah menciptakan landasan bagi teori Marxis tentang pembangunan ekonomi kapitalis berdasarkan eksploitasi buruh oleh para pemilik alat produksi. Marx merumuskan bahwa buruh yang dimunculkan dalam berbagai komoditas tidak sekadar merupakan ukuran umum tetapi esensi paling hakiki dari nilai sistem ekonomi kapitalis. Kemudian ia mengembangkan teori nilai surplus di mana pembagian laba dalam nilai output dijelaskan berdasarkan karakteristik spesifik historis dari kapitalisme matang yang, di mana para pengusaha yang sangat berkuasa dapat mengalihkan surplus sosial komunitas ke dalam saku mereka sendiri. Dalam menjelaskan hal ini ia mengetengahkan suatu spektrum umumnya tidak diakui ekonom politik klasik yaitu spektrum konflik yang tak terhindarkan antara kepentingan modal dan buruh.

Teori nilai dan distribusi dari suatu biaya produksi memberikan landasan yang efektif baik bagi doktrin ekonomi ortodoks maupun non-ortodoks hingga tahun 1870-an ketika sejumlah teoretisi mulai menganalisis teori nilai itu dalam kerangka orientasi-pasar, bukan orientasi-produksi. Adalah Marshall yang pertama kali secara sistematik mengeksplorasi berbagai perspektif baru yang dikembangkan analisis marjinal dan meletakkan landasan ekonomi neo-klasik yang dengan cepat diasumsikan sebagai bentuk lain ortodoksi dalam arus utama pemikiran ekonomi. Karakteristik penting ekonomi baru itu adalah pergeseran dari perhatian ekonomi makro terhadap ekonomi politik klasik untuk tujuan pemfokusan, dengan makin meningkatnya peran matematika dan kelonggaran sosial, menuju analisis sistematik terhadap harga-harga pasar dalam equilibrium kompetitif jangka panjang. Ini melibatkan upaya menafsirkan perilaku para konsumen maupun produsen dalam kerangka kegunaan marginal dan fungsi biaya mereka. Dengan demikian sikap kelompok individu terhadap transaksi pertukaran diasumsikan sebagai upaya menyesuaikan kuantitas yang ditawarkan atau diminta hingga mencapai satu titik di mana preferensi marjinal dan biaya marjinal bertemu dengan harga-harga pasar, dan ini pada gilirannya diasumsikan mencerminkan gabungan preferensi dan biaya atas perekonomian secara keseluruhan. Harga-harga faktor produksi (demikian juga pembagian distributifnya) dijelaskan dengan mekanisme yang sama. Para pengusaha yang memaksimalkan laba dipandang sebagai bagian dari proses substitusi berkesinambungan di antara faktor- faktor produksi mempertimbangkan berbagai biaya dan laba dari alternatif gabungan, katakanlah, antara mesin dan tenaga kerja atau antara tenaga kerja terlatih dan tidak terlatih agar dapat menghasilkan teknik yang paling menguntungkan (dirumuskan sedemikian rupa sehingga meletakkan biaya dan laba pada marjin). Singkatnya, para ahli teori neo-klasik memberikan jawaban atas pertanyaan megenai apa yang menentukan titik temu relatif dari faktor-faktor produksi sebagai dampak logis dari asumsi mereka mengenai haraga-harga pasar dalam ekuilibrium kompetitif.

Karena itu para ekonom abad ke-20 mewarisi dua tradisi analisis yang berbeda mengenai nilai dan distribusi. Sistem ide neo-klasik dengan baik mengalami pematangan pada pertengahan abad ini menjadi model ekuilibrium Arrow-Debreu yang menghadirkan konsistensi matematis dan hasil abstrak tingkat tinggi tanpa implikasi-implikasi normatif atau deskriptif bagi ekonomi terapan. Debreu (1959), misalnya, memberi subjudul untuk pembahasan mengenai value sebagai Art Analysis of Economic Equilibrium. Sementara itu para ekonom yang program-program penelitiannya digerakkan oleh masalah-masalah kebijakan ekonomi makro kontemporer secara realistis berusaha selektif dalam memilih asumsi-asumsi dan dalam konsekuensinya cenderung lebih eklektik dan tidak terlalu berharap terhadap analisis mereka. Keynes, misalnya, yang dibesarkan dalam ekonomi Marshallian ortodoks mutakhir telah dipengaruhi menjelang tahun 1930-an sehingga dalam situasi di mana terjadi pengangguran kronis dan nilai uang berfluktuasi rumusannya yang menyoroti operasional pasar kerja tidak realistis dan teorinya tentang nilai dan distribusi tidak bersesuaian dengan teorinya tentang uang dan harga. Berbagai kelemahan inilah yang kemudian hendak dikoreksi dalam teori ekonomi neo-klasik ini yang dirumuskan oleh Keynes (1936) dalam General Theory of Employment Interest and Money dan memunculkan sebutan doktrin revolusi ekonomi Keynesian.

Teori-teori mumi tentang nilai dan distribusi yang baru dan yang lama tetap mengundang perdebatan sengit (bahkan sering tidak konklusif) dalam konferensi-konferensi akademik pada pertengahan kedua abad ke-20 dan berpotensi merangsang topik-topik riset tingkat doktoral yang bermanfaat. Bagi para ahli ekonomi terapan, berbagai situasi politik, kelembagaan dan problem teknologi masa kini yang berubah cepat di mana para agen ekonomi kontemporer membuat keputusan sendiri telah menyebabkan tidak tepat lagi untuk menciptakan teori-teori terobosan dan bertujuan umum dalam bidang nilai dan distribusi. Namun, barangkali dengan contoh Keynes, ada bukti yang makin kentara mengenai adanya fertilisasi silang imajinatif dari gagasan di antara berbagai aliran pemikiran yang tidak mampu berkomunikasi efektif karena perbedaan yang sangat tajam.

Incoming search terms:

  • pengertian diasumsikan
  • teori nilai distribusi
  • makalah teori nilai distribusi
  • ekonomi politik nilai dan distribusi
  • definisi distribusi nilai
  • arti diasumsikan
  • nilai distribusi
  • pengertian diamsusikan
  • apa yg dimaksud dengan nilai distribusi
  • pengertian diasumsuikan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian diasumsikan
  • teori nilai distribusi
  • makalah teori nilai distribusi
  • ekonomi politik nilai dan distribusi
  • definisi distribusi nilai
  • arti diasumsikan
  • nilai distribusi
  • pengertian diamsusikan
  • apa yg dimaksud dengan nilai distribusi
  • pengertian diasumsuikan