PENGERTIAN OBSERVASI-DIRI (SELF-OBSERVATION) – Dalam studi yang dilakukan Paul, pelaku observasi adalah orang-orang di luar pembicara publik. Selama beberapa tahun, para terapis dan peneliti perilaku juga telah meminta para individu mengamati perilaku mereka sendiri dan untuk mencatat berbagai kategori respons. Pendekatan ini disebut pemantauan-diri (self-monitoring). Self monitoring telah digunakan untuk me-ngumpulkan berbagai macam data yang diinginkan oleh para ahli klinis dan peneliti, termasuk mood, pengalaman yang menyebabkan stres, perilaku coping, dan berbagai pemikiran (Hulburt, 1979; Stone dkk., 1998).
Contoh self observation adalah suatu prosedur yang disebut ecological momentary assessment atau EMA (Stone & Shiffman, 1994). EMA mencakup pengumpulan data secara langsung pada saat itu juga (real time) berbeda dengan metode tradi sional yang menghendaki para individu untuk mengingat kembali ke masa beberapa periode sebelumnya dan menuturkan pikiran, mood, dan stresor yang dialami belum lama ini. Metode penerapan EMA mulai dari meminta orang-orang menulis catatan harian pada waktu-waktu tertentu dalam sehari (mungkin ditandai dengan bunyi jam tangan pada waktu-waktu tersebut) hingga melengkapi para individu dengan komputer palm-top yang tidak hanya memberi tanda kapan harus menulis laporan, namun juga memungkinkan mereka memasukkan respons-respons secara langsung ke dalam komputer (Stone & Shiffman, 1994).

Alasan utama menggunakan EMA adalah bahwa menceritakan ingatan tentang mood, pikiran, atau pengalaman mungkin tidak akurat. Pertimbangkan, contohnya, sangat sulit bagi Anda untuk secara akurat menceritakan apa tepatnya yang Anda pikirkan ketika menghadapi suatu stresor. Para peneliti memori menunjukkan tidak hanya lupa terhadap hal kecil yang dapat membuat penuturan kejadian lampau menjadi tidak akurat, namun informasi yang disampaikan juga dapat menjadi bias. Sebagai contoh, penuturan tentang mood seseorang selama sehari penuh sangat dipengaruhi oleh mood yang terakhir kali dialami orang tersebut. (Strongman & Russell, 1986). Karena banyak masalah yang dihadapi dalam penuturan kejadian lampau, beberapa teori dalam bidang psikologi abnormal dapat diuji paling baik dengan menggunakan EMA. Sebagai contoh, teori-teori masa kini mengenai berbagai gangguan anxietas dan depresi menyatakan bahwa reaksi emosional terhadap suatu stresor ditentukan oleh ber bagai pikiran yang ditimbulkan oleh stresor tersebut. Walaupun demikian, tidak mung kin pikiran-pikiran tersebut dapat ditutur kan kembali secara akurat. Pertimbangkan juga teori terkenal dalam bidang psikologi kesehatan yang menyatakan bahwa respons terhadap suatu stresor tergantung pada evaluasi terhadap stresor tersebut, upaya mengatasinya, dan kemudian mengeva luasinya kembali (Lazarus & Folkman, 1984). Proses tersebut sangat tidak mungkin dapat diingat dalam penuturan kembali kejadian masa lalu.

EMA juga dapat bermanfaat dalam bidang klinis, memberikan informasi yang mungkin tidak terungkap dalam prosedur pengukuran tradisional. Sebagai contoh, Hurlburt (1997) menggambarkan seorang pria yang mengalami serangan kecemasan parah. Dalam wawancara klinis, pasien tersebut menuturkan bahwa kehidupannya berjalan sangat baik, bahwa dia mencintai istri dan anak-anaknya, dan pekerjaannya secara finansial dan secara pribadi memuaskan. Tidak ditemukan penyebab serangan kecemasan. Pria tersebut diminta mencatat berbagai pikirannya ketika ia menkatani rutinitas hariannya. Walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-monitoring atau EMA dapat memberikan pengukuran akurat terhadap perilaku semacam itu, riset penting menunjukkan bahwa perilaku dapat berubah karena perilaku tersebut dipantau oleh diri sendiri—yaitu, kesadaran-diri (self-consciousness) yang diperlukan dalam self monitoring memengaruhi perilaku (Haynes & Horn, 1982). Fenomena perubahan perilaku karena perilaku tersebut diamati disebut reahtivitas. Secara umum, perilaku yang diinginkan, seperti terlibat dalam percakapan sosial, sering kali mengalami peningkatan frekuensi ketika dipantau oleh diri sendiri (Nelson, Lipinski, & Black, 1976), sedangkan perilaku yang ingin dikurangi, seperti merokok, berkurang (McFall & Hammen, 1971). Penemuan-penemuan semacam itu menunjukkan bahwa intervensi terapeutik dapat memanfaatkan reaktivitas yang merupakan efek samping alamiah dari self-monitoring. Merokok, kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan telah mengalami perubahan yang menguntungkan dalam berbagai studi self-moni toring (Febbraro & Clum, 1998).

Wawancara dan Alat Tes Lapor-Diri. Terlepas dari ketertarikan pada pengamatan langsung terhadap perilaku, para ahli klinis behavioral masih sangat tergantung pada wawancara untuk mengukur berbagai kebutuhan para klien mereka (Sarwer & Sayers, 1998). Dalam hubungan kepercayaan, tugas terapis perilaku adalah menentukan, dengan keahlian bertanya dan pengamatan teliti terhadap reaksi emosional klien selama wawancara, faktor-faktor SORC yang membantunya mengonseptualisasi masalah klien.
Para terapis perilaku juga memanfaatkan ala-alat tes self-report. Seperti akan kita lihat nanti, beberapa kuesioner tersebut sama dengan tes-tes kepribadian yang telah kita bahas sebelumnya. Namun, beberapa tes memiliki fokus situasional yang lebih besar dibanding berbagai kuesioner tradisional. Sebagai contoh McFall dan Lillesand -(1-971) menggunakan Conflict Resolution Inventory yang terdiri dari 45 item yang terfokus pada kemampuan responden untuk menolak permintaan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh, -Anda sedang tekun belajar untuk menghadapi ujian ketika seorang kenalan Anda datang ke kamar dan berkata, saya lelah belajar. Keberatan jika saya masuk dan istirahat sebentarr Para mahasiswa diminta menunjukkan kemungkinan mereka akan menolak permintaan semacam itu dan seberapa nyaman perasaan mereka bila melakukan hal tersebut. Validitas concurrent untuk alat tes self-report ini ditetapkan dengan menunjukkan bahwa alat tersebut berkorelasi dengan beragam data observasional langsung tentang keterampilan sosial (Frisch & Higgins, 1986). Alat tes tersebut dan alat lainnya yang sejenis, yang akan dibahas pada bagian berikutnya, dapat digunakan oleh para ahli klinis dan juga telah membantu para peneliti behavioral dalam me ngukur hasil intervensi klinis. Pendekatan Khusus terhadap Pengukuran Kognitif. Seperti halnya semua jenis pengukur an, fitur kunci berbagai pende katan kontemporer dalam pengukuran kognitif adalah bahwa pengembangan metode terutama ditentukan oleh teori dan data serta tujuan peng ukuran. Sebagai contoh, ba nyak riset mengenai depresi dikaitkan dengan kognisi hal-hal yang secara sadar dan kadangkala tanda sadar dinya takan oleh orang-orang kepada dirinya sendiri dan juga asumsi atau sikap yang mendasari yang dap at disimpulkan dari perilaku dan penuturan verbal mereka. Satu teori kognitif (Beck, 1967), yang akan kita bahas lebih rinci pada Bab 10, menyatakan bahwa depresi terutama disebabkan oleh pemikiran negatif terhadap diri sendiri, ling kungan, dan masa depan. Contohnya, banyak orang yang yakin bahwa mereka tidak memiliki banyak arti dan segala sesuatu tidak pernah berubah menjadi lebih baik.

Metode pengukuran kognitif yang paling banyak digunakan adalah kuesioner self-report diri yang mengungkap berbagai macam kognisi, seperti rasa takut terhadap evaluasi negatif, kecenderungan untuk berpikir irasional, dan kecenderungan untuk membuat kesimpulan negatif terhadap berbagai pengalaman hidup. “Bila seseorang mengkritik Anda di kelas, apa yang Anda pikirkan?” adalah pertanyaan yang mungkin diajukan kepada klien dalam suatu wawancara atau tes tertulis. Bila pasien ditanya mengenai pikiran mereka dalam wawancara dan tes self-report, mereka harus meng ingat ke masa lalu dan memberikan penuturan ulang yang bersifat umum tentang pikiran mereka dalam situasi tertentu.
Suatu kuesioner self report yang digunakan para peneliti dan terapis kognitif adalah Dysfunctional Attitude Scale (DAS). DAS mencakup item seperti “Orang orang mungkin akan kurang menghargai saya jika saya melakukan kesalahan” (Weissman & Beck, 1978). Mendukung validitas konstruk, para peneliti menunjukkan bahwa mereka dapat membedakan antara orang-orang yang mengalami depresi dan yang tidak berdasarkan skor yang mereka peroleh dalam skala tersebut dan bahwa skor menurun (berarti terdapat perbaikan kondisi) setelah berbagai intervensi yang menyembuhkan depresi. Lebih jauh, DAS memiliki kaitan dengan aspek-aspek kognisi lainnya secara konsisten dengan teori Beck. Contohnya, DAS berkorelasi dengan alat self-report lainnya yang disebut Cognitive Bias Questionnaire (Krantz & Hammen, 1979), yang mengukur cara pasien penderita depresi mendistorsi informasi. Data yang terkumpul membantu menentukan validitas dan reliabilitas kuesioner-kuesioner tersebut (Glass (ST Arnkoff, 1997).

Filed under : Bikers Pintar,