PENGERTIAN ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN

72 views

Dalam studi kepemimpinan telah diuraikan adanya variabel pe-mimpin, kepemimpinan, organisasi, dan interaksi. Dalam uraian berikut akan dibahas mengenai aspek daripada organisasi yang dihubungkan dengan kepemimpinan. Pengertiannya secara umum dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

“Organization” is an arrangement of interdependent parts, each having a special function with respect to the whole.

Dalam kehidupan sehari-hari tingkah laku dari anggota suatu organisasi, misalnya: perusahaan, perguruan tinggi, politik, dan seba- gainya memiliki karakteristik tersendiri. Masing-masing anggota memiliki dan mentaati kegiatan-kegiatan tertentu yang diatur oleh transaksi berdasarkan jangka waktu tertentu, dan memiliki suatu bentuk interaksi sosial tersendiri, misalnya perusahaan mengarah pada bentuk interaksi untuk menghasilkan suatu keuntungan, rumah sakit mengarah pada pelayanan kesehatan, dan perguruan tinggi menghasilkan alumninya. Tiap anggota kelompok dalam organisasi yang disebut partisipan, memiliki kemampuan, pendidikan, pengetahuan, dan kebutuhan- kebutuhannya. Tingkah laku mereka mempunyai ketergantungan masing-masing dan adanya koordinasi. Selain itu, tiap anggota dalam organisasi telah mempunyai suatu posisi dan tugasnya masing-masing yang ditentukan secara formal atau informal melalui diskripsi tugasnya. Semuanya merupakan suatu sistem kerja yang mentaati pefaturan- peraturan dan ketentuan-ketentuan, sehingga tiap partisipan memiliki tingkah laku yang sudah terarah. Untuk adanya suatu kesamaan dan persepsi yang sama perlu adanya mekanisme kontrol yang ditentukan atau diawasi oleh suatu otoritas yang bertanggung jawab.

Di dalam tingkah laku ini dengan sendirinya diperlukan pengawasan dan pengarahan dari seorang pemimpin dengan ciri-ciri kepemimpinannya tersendiri. Kita mengetahui adanya tiga tipe kepemimpinan ialah: demokratik, otokratik, dan laissez faire. Dalam suatu perusahaan, konsepsi dari suatu manajemen dapat didasarkan kepemimpinan demokratik atau yang otokratik. Dalam hal ini akan terlihat apakah organisasi ini akan efektif dan menghasilkan prestasi yang diharapkan. Perlu dibedakan bahwa dalam memimpin suatu organisasi ada posisi yang otoriter dan ada kepemimpinan yang otoriter. Posisi yang otoriter ini akan banyak menggunakan wewenang daripada kedudukannya, sedangkan kepemimpinan otoriter akan banyak menggunakan kemampuan individualnya. Dalam hal ini dapat dibedakan “kekuasaan personal” dan “posisi dari kekuasaan”.

Di dalam menangani organisasi ini dengan sendirinya memerlukan pengaturan yang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomis, psikologis, dan politik.

Dalam pertimbangan penggunaan daripada kekuasaan ini diperlukan dengan sendirinya beberapa ciri kepemimpinan sebagai berikut:

  1. Keahlian, yang merupakan prasyarat untuk dapat mengatasi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan berdasarkan keahliannya;
  2. Koersif, yang berarti ia harus mengetahui bagaimana cara ia memperjuangkan keinginannya, sehingga dapat diterima;
  3. Stabilitas emosional ialah cara dengan baik agar segala keinginannya dapat diterima secara emosional;
  4. Asosional ialah bertingkah laku agar dapat ditiru secara asosiatif;
  5. Lain-lain berupa penampilan-penampilan dan pendekatan-pendekatan agar tidak terjadinya antipati.

Cara-cara ini akan memudahkan proses pengambilan keputusan untuk tidak terjadinya hambatan-hambatan. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan dengan sendirinya motivasi yang kuat yang mendukung kepemimpinannya. Schulze mengatakan: berdasarkan analisis dalam menyelesaikan suatu sengketa dalam struktur community kekuatan politik, perlu adanya hubungan langsung antara kekuasaan sebagai suatu potensi untuk menentukan suatu aktivitas. Dengan sendirinya selain motivasi diperlukan instrumen atau penolong yang cukup tangguh. Proses penyelesaian dengan cara-cara ini dapat dikatakan juga suatu manajemen untuk mengawasi jalannya organisasi secara obyektif.

Hemphill mengatakan bahwa motivasi akan meningkatkan faktor- faktor:

  1. Large reward promised by accomplishing the group’s task;
  2. Reasonable expectancy that by working on the task it can be accomplished;
  3. Acceptance by other members of the group for attempting to lead;
  4. A task which requires a high rate of group decisions;
  5. Possessions of superior knowledge or competence relevant to the accomplishment of the task;
  6. Previously acquired status as the group’s leader.

Dalam hal ini akan terlihat bahwa adanya suatu positif korelasi antara kekuasaan yang dimiliki dan penggunaan dari kekuasaan tersebut. Hal ini berarti bahwa tipe kepemimpinan yang otoriter akan pula berhasil dalam menggunakan kekuasaannya dalam bentuk aktivitas penggunaan posisinya. Dengan sendirinya dalam mempengaruhi, melalui kekuasaan telah diadakan suatu analisis oleh Russell, di mana didapatkan tiga cara yang efektif untuk menggunakan pengaruhnya:

  1. a) Secara fisik dengan memasukkan dalam penjara atau dibunuh;
  2. b) Diberikan hukuman atau penghargaan;
  3. c) Mempengaruhi pendapatnya melalui propaganda atau pendidikan.

Sedangkan Gilman dalam menyelesaikan problema menggunakan empat metode:

  1. a) Pemaksaan (Coersife);
  2. b) Manipulasi;
  3. c) Otoriter;
  4. d)

Cara-cara ini biasanya dilakukan pada negara-negara yang memiliki ideologi yang sangat radikal atau fundamentalis. Di samping itu ada suatu cara pendekatan melalui kontrol ekologik yang dikemukakan oleh Rossenberg dan Pearlin (1962), ialah mempengaruhi seseorang dengan memindahkan dalam lingkungan sosial yang lain dengan harapan timbulnya perubahan-perubahan dalam tingkah lakunya. Cara-cara ini dikembangkan pula oleh Lewin yang dikenal dengan teori Social gate keepers.

Di dalam cara mempengaruhi secara sosial digunakan interaksi sosial yang akhirnya mempengaruhi sikap seseorang. Kelman (1958), mendapatkan tiga bentuk:

  1. a) Identifikasi;
  2. b) Intervalisasi;
  3. c)

Di dalam menggunakan kekuasaan ini dapat kita kategorikan yang disebut dasar-dasar kekuasaan atau bases of power yaitu:

  1. a) Reward power;
  2. b) Ceorsive power;
  3. c) Refferent power;
  4. d) Legitimate power;
  5. e) Expert power.

Yang mana kelima faktor ini adalah identik dengan reward power memberikan janji-janji untuk masa depannya, coersive power dengan memberikan hukuman-hukuman, refferent power adanya suatu identifi-kasi, legitimate power adanya suatu intervalisasi daripada nilai-nilai, dan expert power dengan menggunakan keahlian khusus yang identik dengan informational power.

Dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pada suatu organisasi memerlukan suatu keputusan dan pemecahan masalah. Dengan sendirinya penyelesaian permasalahan ini akan memiliki suatu model yang disebut pola keputusan atau design for decision. Model ini berdasarkan suatu perhitungan matematik agar dapat digunakan penilaian-penilaian secara normatif, sehingga hasilnya dapat diuraikan secara deskriptif. Dalam model ini dijelaskan bahwa terdapat beberapa alternatif keputusan dan harus dicari mana yang paling relevan terhadap permasalahannya. Para pengambil keputusan harus menyatakan keputusan mana yang akan diambil berdasarkan pilihannya, dan eksperimen ini dilakukan berkali-kali dengan batas waktu 20-30 menit. Keputusan ini dapat berdasarkan pertimbangan:

  1. a) Rasional;
  2. b) Kepekaan diri terhadap permasalahan;
  3. c) Mengetahui benar permasalahannya.

Dalam menyelesaikan permasalahan dengan sendirinya berdasarkan hasil pemikiran dari Teori Gestalt. Problema yang timbul akan terdapat dalam suatu psychological field, dari suatu stress atau ketegangan individu sehingga diperlukan pengambilan keputusan. Ketegangan atau stress ini mengarah kepada restructuring atau reorganisasi dari kekuatan-kekuatan dalam psychological field. Dalam penyelesaian permasalahan ini akan timbul suatu proses reproduksi dari masalah yang telah diajarkan. Dalam proses penyelesaian ini adanya suatu informasi yang merupakan suatu sistem tersendiri, akan merangsang individu tersebut bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah berdasarkan informasi proses sistem. Dalam sistem ini tercakup:

  1. Control system yang terdiri atas daya ingat;
  2. Informasi proses primitif;
  3. Hukum-hukum yang memproses seluruh program dari daya ingat dan informasi primitif.

Secara obyektif program dari proses ini akan terlihat pula kesamaannya dalam proses-proses sebagai berikut:

  1. a) Simulasi, seperti pada komputer dalam menyelesaikan suatu masalah;
  2. b) Algarithmic versus heuristic processes, yang berarti bahwa sebelum didiskusikan masalah program telah ditulis berdasarkan simulasi beberapa tipe pemecahan masalah;
  3. c) Matematik dan plansible reasoning, ialah pembuatan suatu diagram yang terdiri atas poligon dan berdasarkan ini akan terdapat bermacam-macam problema untuk selanjutnya dapat dipecahkan melalui beberapa alternatif;
  4. d) Simulasi daripada pemecahan masalah;
  5. e) Teori logika.

Cara-cara ini hanya sekedar memecahkan suatu persoalan yang dihadapi suatu organisasi; penyelesaiannya dalam suatu organisasi memerlukan pemimpin yang ahli. Hubungan antara kepemimpinan dengan suatu organisasi dengan sendirinya memiliki tingkat kesukaran dan kecenderungan untuk bertindak. Oleh karena itu, jika suatu organisasi yang lebih memerlukan penggunaan kemampuan yang khusus dalam menyelesaikan persoalan, akan dituntut pula ciri-ciri tertentu yang lebih menitikberatkan pada kemampuan intelektualnya. Jika organisasi ini meliputi suatu kelompok kecil, maka diperlukan persyaratan:

  1. Kepemimpinan;
  2. Gaya kepemimpinannya, seperti demokratik, permisif, dan otoriter direktif;
  3. Suasana agar terjadinya suatu interaksi yang baik;
  4. Kepribadian;
  5. Kepaduan;
  6. Norma-norma yang berlaku dalam kelompok tersebut.

 

Penerapan dari uraian tersebut di atas pada umumnya dipergunakan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki organisasi yang cukup kompleks di mana dituntut kepemimpinan yang memiliki ciri-ciri yang karakteristik dalam penyelesaian masalah-masalah secara rasional dengan menggunakan pendekatan sistem. Organisasi yang kurang baik, kurang menjamin efisiensi dan efektivitas kerja yang optimal. Organisasi yang baik dan pimpinan yang kurang baik akan pula kurang menghasilkan prestasi yang tinggi. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pemimpin dengan kepemimpinan yang relevan dengan tugasnya merupakan inovator dan monivator yang positif untuk menstimulir dan membangkitkan gairah kerja. Peranan organisasi dalam hal ini lebih mengkoordinir dan mengsingkronkan kelancaran alur dari proses tugas. Dengan meningkatnya spesialisasi tugas maka perlu organisasi diguna-kan secara fungsional agar interaksi tugas dan koordinasi berjalan lancar.

Dari pendekatan bermacam-macam teori ini timbul pertanyaan, apakah benar kepemimpinan itu dapat dipelajari ataukah merupakan seni tersendiri, misalnya; manajemen dapat dipelajari, namun kepemimpinan adalah lebih daripada teknik-teknik manajemen di mana diperlukan suatu seni tersendiri. Di samping itu titik berat daripada pendekatan permasalahan dari kepemimpinan sering berbeda, ada yang menitikberatkan pada orientasi tugas, orientasi manusia, orientasi interaksi, dan orientasi situasi. Namun di dalam perbedaan ini sebagai landasan dasar dari kepemimpinan ini adalah peran kepemimpinan yang diterima oleh kelompok tersebut yang berarti variabel kelompok menentukan pula keberhasilan status seorang pimpinan. Oleh karena itu, belum tentu seorang pemimpin dapat berhasil menguasai (memimpin) bermacam-macam kelompok manusia, misalnya: kepemimpinan militer belum tentu berhasil apabila diterapkan kepemimpinannya ini pada kelompok nonmiliter. Dilema dari asumsi apakah kepemimpinan merupakan suatu ilmu ataukah suatu seni sering merupakan diskusi di dalam membahas dasar-dasar kepemimpinan.

Telah banyak diadakan penelitian tentang kepemimpinan militer, kepemimpinan perusahaan, kepemimpinan masyarakat, kepemimpinan mahasiswa, dan sebagainya, namun tidak terlihat suatu korelasi yang cukup baik sifat-sifat kepemimpinan menurut suatu standar tertentu. Namun yang penting untuk dapat diakui sebagai seorang pemimpin adalah bagaimana supaya berhasil untuk diakui sebagai pusat perhatian peranan dalam mengajak dan memimpin suatu kelompok. Oleh karena itu, dalam studi kepemimpinan lebih banyak diarahkan pada klasifikasi tugas-tugas di mana ia harus belajar, misalnya: memimpin perusahaan, memimpin politik, memimpin mahasiswa. Dari uraian ini kurang tergambarkan sifat-sifat yang universal sebagai modal yang dapat ditetapkan. Peranan sosio-budaya tidak boleh diabaikan dalam mempelajari interaksi pemimpin dengan lingkungannya. Oleh karena itu, faktor kultural mempengaruhi gaya kepemimpinan yang spesifik dan unik sebagai ciri dari latar belakang budaya di mana ia dibesarkan.

Teori-teori yang kita pelajari dari negara lain secara harfiah adalah universal namun dalam aplikasi disesuaikan dengan lingkungan sosio- budaya masyarakat.

Incoming search terms:

  • pengertian organisasi dan kepemimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *